Benteng Surosowan; Puing Kejayaan Kerajaan Banten Lama

Atas : Benteng Surosowan yang tinggal Puing dan Benteng Spelwijk (bawah)

Um… kalau sudah bosen dengan tempat wisata di Jakarta, boleh tuh main main ke Banten Lama. Gak jauh kok, gak sampai 2 jam dari Jakarta. Tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen. 11 kilometeranlah dari Serang. disana ada Benteng Surosowan, Mesjid Agung, Klenteng Kuno dan sejumlah makam keluarga Sultan Hasanudin.

Nah, tapi sebelum meluncur ke tempat tempat tersebut, kita mampir dulu ke Museum Purbakala yach, Lokasinya tepat di seberang alun-alun. Di depan Museum terdapat Meriam besar yang menurut Pak Obay (akhirnya jadi guideku selama di Banten Lama) meriam itu memiliki saudara kembar yang bernama Si Jimat dan Si Jagur. ‘Si Jimat’ dihadiahkan kepada penguasa Cirebon Sunan Gunung Jati, sedangkan ‘Si Jagur’ diberikan kepada Fatahillah, penguasa Sunda Kelapa yang kini bernama Jakarta. Sedangkan yang ada di sini bernama ‘Ki Amuk’, hadiah Sultan Trenggono kepada Sultan Hassanudin

Nah mari sekarang masuk ke dalam museum, begitu masuk, kita akan disodori pemandangan, bentuk bangunan rumah, senjata denah komplek keraton masa itu,  tembikar. dan koleksi uang logam juga uang kertas yang dipakai di Banten.

Suasana sekitar Istana Kaibon dan benteng Spelwijk

Nah yang cukup menarik perhatian disini adalah salinan peta dunia produksi tahun 1628. Tak cuma berbahasa inggris namun juga diterbitkan oleh kerajaan Inggris. Lalu dalam peta tersebut, digambarkan posisi Banten yang tergolong penting di mata Pembuat Peta.

Disitu nama Banten, ditulis dengan ejaan Bantam. Dimana Bantam ini disejajarkan dengan 7 kota besar Dunia lainnya : Goa, Damaskus, Ormuz, Aden, Macau, Banten dan Cand (? gak jelas tulisannya). Kedekatan Banten dengan Inggris memang bisa dilihat dari adanya Lukisan Duta Besar Banten yang ada di Inggris.

Benteng Surosowan

Waaah, kaget!!! Ini ekspresi saya begitu di beritahu, “Inilah Benteng Surosowan” … waaa??? mana bentengnya? karena yang aku lihat cuma dataran kosong tanpa secuil bangunan. Hueeeh … Tak ada atap, tak ada pohon, bahkan tak ada bekas pondasi yang menjulang tinggi. Benar benar tak mencerminkan kebesaran Banten di Masa Lalu.

Untuk bisa membayangkan betapa megahnya benteng ini jaman dahulu, kita lebih mendekat lagi… disana barulah terlihat dengan jelas bekas bekas kejayaan dengan pondasi yang masih terlihat meski tingginya hampir tak beda jauh dengan ketinggian tanah.

Nah, menurut wikipedia, inilah tentang benteng surosowan: Keraton Surosowan adalah sebuah keraton di Banten. Keraton ini dibangun sekitar tahun 1522-1526 pada masa pemerintahan Sultan pertama Banten, Sultan Maulana Hasanudin dan konon juga melibatkan ahli bangunan asal Belanda, yaitu Hendrik Lucasz Cardeel, seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang memeluk Islam yang bergelar Pangeran Wiraguna . Dinding pembatas setinggi 2 meter mengitari area keraton sekitar kurang lebih 3 hektar. Surowowan mirip sebuah benteng Belanda yang kokoh dengan bastion (sudut benteng yang berbentuk intan) di empat sudut bangunannya. Bangunan di dalam dinding keraton tak ada lagi yang utuh. Hanya menyisakan runtuhan dinding dan pondasi kamar-kamar berdenah persegi empat yang jumlahnya puluhan.

Percaya gak, kolam hijau berlumut ini sering dijadikan arena berenang bagi anak anak ini ... wow

Keraton Surosowan ini memiliki tiga gerbang masuk, masing-masing terletak di sisi utara, timur, dan selatan. Namun, pintu selatan telah ditutup dengan tembok, tidak diketahui apa sebabnya. Pada bagian tengah keraton terdapat sebuah bangunan kolam berisi air berwarna hijau, yang dipenuhi oleh ganggang dan lumut. Di keraton ini juga banyak ruang di dalam keraton yang berhubungan dengan air atau mandi-mandi (petirtaan). Salah satu yang terkenal adalah bekas kolam taman, bernama Bale Kambang Rara Denok. Ada pula pancuran untuk pemandian yang biasa disebut “pancuran mas”.

Kolam Rara Denok berbentuk persegi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter serta kedalaman kolam 4,5 meter. Ada dua sumber air di Surosowan yaitu sumur dan Danau Tasikardi yang terletak sekitar dua kilometer dari Surosowan.

Keraton Kaibon, Benteng Speelwijk

Keadaan keraton Kaibon masih jauh lebih baik dari Surosowan. Setidaknya istana yang didirikan oleh Sultan Muhammad Syafiuddin (1809-1813) bagi tempat tinggal para wanita kerajaan saat itu, masih menyisakan pondasi yang lebih tinggi. Ya,… masih bisa buat foto foto lah gapura gapuranya hehehee …

Keraton ini sendiri rusak parah seperti ini kaerna dihancurkan oleh Jenderal Belanda, Daendels. Begitu juga dengan Benteng Speelwijk yang dahulu merupakan benteng Kesultanan Banten (1684-1685) kondisinya juga tidak begitu baik … tapi, yaaa cukup terawat (jarang sampah). Oya, di depan benteng ini ada bangunan semacam kuburan yach … menurut Pak Obay, bangunan kotak ini dulunya dilapisi emas, tapi emas emas itu sudah dijarah, entah oleh siapa hehehee,… namanya juga dijarah ya …

Pengalaman dan dokumentasi oleh Catur Guna Yuyun  Angkadjaja




1 comment

  • Tempat yang bagus sebenarnya, tapi kurang di lihat dan dirawat oleh orang yang bertanggung jawab…. 🙂

    tapi benteng tersebut sangat mengagumkan 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: