Mengangkat yang ‘Terlupakan’ – Akar Budaya Indonesia dalam Secangkir Teh

kota solo

Inilah pertama kalinya saya menginap di Kota Solo Jawa Tengah. Taukah anda apa yang menyebabkan saya begitu semangat ke Kota Solo ??? Karena secangkir Teh. Teh !!! Iya, RASA TEH !!! Beberapa bulan yang lalu saya berkenalan dengan Teh Premium Indonesia bernama Savis. Teh ini unik sekali. Unik karena tiap rasa mewakili kisah tradisi Indonesia yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Dari puluhan rasa yang tersedia, ada serangkai teh yang bercerita tentang kehidupan di Kota Solo. Yaitu teh yang terinspirasi dari kenangan masa kecil di kota solo, kenangan akan bersantai dengan kuliner malam hari dan inspirasi dari kecantikan  keanggunan Putri Solo. Sebuah serangkaian kisah budaya yang banyak sudah mulai di lupakan orang. Penasaran??? Baca artikel saya sampai habis ya.

Memori tentang Sekar Kedhaton

Masa kecil, saya habiskan di kota Tuban Jawa Timur. Kurang lebih 6 jam perjalanan mobil ke Kota Solo. Tapi, sejak Taman Kanak Kanak saya seperti sudah mengenal Solo (padahal belum pernah kesana), kenapa?

Karena orang orang tua banyak mengaitkan hal / perilaku dengan sebutan “Putri Solo”. Sebut saja seperti ketika ada anak yang berjalan / makan dengan perlahan, ketika usai mandi dan aroma badan kita wangi, ketika berdandan hendak ke pesta, dan beberapa aktivitas lainnya lagi, maka orang orang Tua di Tuban akan mengatakan “Kayak Putri Solo aja”, “Duuuhhh cantiknya kayak Putri Solo” dan kurang lebih seperti itu.

kota solo solo-sekar-kedhaton solo-istana

Namun seiring berjalannya waktu, saat ini ketika saya kembali ke Tuban, sudah tidak terdengar lagi istilah ‘Putri Solo’ dari ucapan orang tua ke anaknya atau dari teman ke temannya, seperti zaman masak kanak kanak saya. Sekarang semua serba bahasa gaul.

Dan tiba tiba kenangan saya akan ‘Putri Solo’ tersebut spontan datang ke pikiran ketika saya mencium aroma seduhan teh Sekar Kedhaton dari Savis. Aromanya begitu lembut namun kuat dan entah bagaimana menguraikan bahasanya, yang jelas aromanya langsung mengingatkan saya akan bayangan seorang Putri Keraton yang sangat cantik, lembut, anggun dan sangat berpengaruh.

Menilik dari sisi nama, Sekar Kedhaton adalah sebuah gelar kebangsawanan untuk putri sulung di Solo. Dan berkat aroma ini, saya kini sampailah di Keraton Solo, di Istana Mangkunegaran tempat Sekar Kedhaton tinggal. Luar biasa kreatif dan inovatifnya pencipta Teh Savis ini. Ia dapat mengangkat kembali apa yang telah lama terlupakan. Ia telah mengembalikan kenangan saya akan masa kecil tentang istilah ‘Putri Solo’ yang kini sudah tak lagi terdengar.

Kenangan Masa Kecil

Usai dari keraton, saya mendapat kejutan BUBUR SUMSUM dari teman!!! Berhubung penjual bubur sumsum tradisional di Solo (memakai daun pisang sebagai wadah) hanya jual di pagi hari, maka teman membelikan terlebih dahulu.Untuk mengetahui seperti apa rasanya dan juga bagaimana Teh Savis Pandanus Green Tea ini sekali lagi membawa saya ke pengalaman masa lampau yang sudah mulai saya lupakan, klik artikel saya yang dimuat di kompas.com berjudul “Teh ini Memiliki Aroma dan Rasa Jenang Sumsum”, klik disini untuk membaca.

solo-teh-savis solo-jenang-sumsum

Yaaa, saat pertama minum teh ini saya memang agak teringat dengan bubur sumsum atau jika di Solo disebut Jenang Sumsum. Karena tak hanya aroma pandannya yang kuat tapi juga teksturnya agak gurih padat dilidah. Sungguh teh yang sangat merepresentasikan rasa kuliner Indonesia di masa lampau.

Budaya Wedangan kota Solo

Berbicara Kuliner Solo, tak akan ada habisnya. Dari pagi hingga pagi lagi, ada saja penjualnya. Dan dimalam hari, aktivitas kuliner yang paling terkenal adalah Wedangan Hik. Yaitu penjual wedang jahe (termasuk uwuh) dan teh. Penjual ini tersebar hampir diseluruh pelosok Solo mulai dari jam 6 sore hingga jam 12 atau 2 malam.

Pada wedangan tersebut ada sebuah budaya yang mungkin jarang orang pikirkan, yaitu budaya mengoplos teh. Ternyata tak hanya bangsa Eropa yang punya budaya campur mencampur teh, tapi nyatanya sejak zaman dahulu masyarakat Solo juga telah punya budaya meracik teh. Inilah kawan saya Mba Retno yang asli Solo sempat mengatakan pada saya “Jangan lupa minum teh jika ke Kota Solo”. Ia mengatakan ini ketika kami mampir ke Soto Gading yang ia sebut sebut punya teh yang enak.

Yaaa,… akhirnya setiap ke warung makan / wedangan selama 2 hari di Solo ini, saya selalu memesan teh. Baik teh panas mau pun es teh manis. Dan rasa tiap resto memang agak berbeda namun memiliki sebuah garis merah, Nasgitel (panas legi kentel). Ternyata perbedaan rasa tersebut didapat dari kemampuan para pemilik warung yang tentunya punya rahasia masing masing dalam meracik teh-nya.

solo-wedangan-hik solo-wedangan-teh-krampoel solo-wedangan-pak-wir solo-wedangan-catur-guna solo-wedangan solo-teh-krampoel

Nah dari sebuah kebudayaan mengoplos ini, muncul sebuah teh yang bagi saya serasa micin-nya teh. Yaitu penambahan irisan jeruk pada teh. Minuman ini bernama Teh Krampoel. Teh yang di iris ini dibiarkan mengapung tanpa diperas. Mengapung dalam bahasa Solonya adalah Krampoel.

Secara tampilan agak mirip Lemon Tea. Tapi ini beda banget!!! Jika lemon tea cenderung sangat asam, maka teh krampoel memiliki ciri khas Nasgitel namun disertai rasa segar yang membuat sepat, kental dan manis teh terasa sangat seimbang. Inilah mengapa saya sebut Micin. Sepotong jeruk tersebut menambah cita rasa teh jadi sempurna.

Dan … hmmm … Teh Savis juga punya Teh Krampoel!!! Ternyata teh krampoel Savis benar benar memiliki rasa 85% mirip dengan teh teh krampoel di beberapa lokasi di kota Solo. Sepat, segar dan juga manisnya, identik. Memang Teh Krampoel Savis lebih Light, tapi memiliki rasa identik yang kemana pun para perantau Solo berada, mereka akan dapat terus merasakan nikmatnya budaya oplos mengoplos teh di kota Solo.

—————————-

Wooowww entah aneka teh savis ini diciptakan supaya kita jadi penasaran untuk datang ke kota sesungguhnya seperti yang saya lakukan di Solo ini. Atau teh ini dicipta supaya kita bisa menikmati Indonesia dari secangkir teh di rumah??? Yang jelas keberadaan teh ini menurut saya, dapat Merawat tradisi yang sudah berakar lama di  kota kota di Indonesia. Dan dalam artikel ini, Teh Savis telah bercerita sangat baik tentang budaya di kota Solo.

—————————–

Untuk membeli produk Savis bisa langsung ke websitenya www.savistea.com atau di Seluruh Ranch Market dan Kemchick di Jakarta. Atau bisa juga di bukalapak.com




%d bloggers like this: