Machu Picchu part III : Wisata ke Ollantaytambo Ruins, Pisac Ruins, Pisac Market & Awana Kancha

image

Pagi hari sebelum check out, kami berjalan kaki ke Ollantaytambo Ruins. Tiket masuk menggunakan Boleto Turistico. Penjelasan tentang Boleto Turistico ada di artikel sebelumnya, klik disini untuk baca.

Benteng sisa kejayaan Inca ini juga ditandai dengan tumpukan batu-batu besar yang membentuk arsitektur yang indah, dan anak tangga yang sangat tinggi. Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami sempat melihat langsung parade dan upacara yang dilakukan warga Peru untuk memperingati Fiestas Patrias atau Hari Kemerdekaan.

Pukul 11 pagi kami dijemput oleh supir Taxidatum yang kemudian membawa kami jalan-jalan ke beberapa tempat dalam perjalanan menuju kota Cusco.

Machu picchu

Machu picchu

Di tengah jalan, supir kami yang cukup lancar berbahasa Inggris, menunjukkan kepada kami sebuah hotel di atas bukit yang untuk mencapainya harus memanjat tebing. Woowwww, keren bangeeet kan!!! Jadi sampai di hotel sudah lelah langsung tidur nyenyak. Semalamnya 1,000 Soles lebih. Hehehe pokoknya Cocok nih buat yang adventurous!

The Sacred Valley

Merupakan salah satu tujuan populer jika ke Peru. Disini ada banyak Inca Ruins. Cantik sekali pemandangannya. Dan satu tempat lagi yang kami kunjungi hari ini adalah Pisac Ruins yang terkenal dengan sistem agrikulturnya. Sebuah sistem yang membuat kita terbayang betapa maju nya kota ini pada zamannya.

Tidak jauh dari situ ada pusat belanja suvenir, Pisac Market. Saya sudah diwanti-wanti oleh staf hotel kalau mau belanja oleh-oleh di Pisac saja karena beragam. Dan benar juga. Disini banyak sekali pilihan, dibanding tempat-tempat lain.

Catatan: Siapkan uang tunai Soles untuk berbelanja disini. Sebagian penjual juga terima Dolar Amerika tapi hanya yang kualitasnya bagus.

image image image image image image

Persinggahan terakhir adalah Awana Kancha, tempat favorit Lana. Karena disini pengunjung bisa memberi makan hewan alpaca, llama dan unta. Masuknya gratis, tapi disarankan memberi tips. Sewaktu saya memberi tips kepada petugasnya, langsung dikasih banyak sekali dedaunan untuk diberi ke hewan-hewan.

Pukul 6 sore kami tiba di tengah kota Cusco yang ramai dengan kendaraan dan turis. Sore itu juga kami check in di Hotel Los Apus dan langsung beristirahat.

image image image machu pichu

Keesokan harinya, kami Keliling kota Cusco. Kami sengaja menginap di Hotel Los Apus karena hotel itu sedang menawarkan promosi: tur keliling kota dipandu tour guide GRATIS. Catatan: Tawaran ini hanya tersedia apabila memesan dari situsnya langsung http://losapushotel.com/en/reservations.

Tur dimulai pukul 1 siang. Dengan menaiki mobil van yang nyaman, kami diajak ke plaza dimana kami bisa melihat Katedral yang sangat terkenal. Tur guide kami mengatakan di dalam Katedral kita bisa melihat berbagai karya seni peninggalan Kolonial. Tiket masuk 25 Soles per orang dan tidak boleh foto. Catatan: Saya tidak tahu alasannya, tapi tempat-tempat bergaya Kolonial yang kami kunjungi dilarang difoto. Tapi kalau peninggalan Inca boleh difoto.

Kami memilih untuk tidak masuk karena Lana lebih tertarik untuk melihat pertunjukkan tari tradisional Peru yang sedang berlangsung di tengah jalan. Tour guide kami mengatakan warga Peru senang berpesta. Selalu ada saja yang dirayakan, dengan parade, tarian, makanan. Hari itu ramai karena sedang libur panjang Hari Kemerdekaan.

image image image image

Kemudian kami berjalan kaki 15 menit ke Qorikancha. Tiket masuk 15 Soles. Pemandu wisata kami mengatakan Qorikancha artinya kuil emas. Pada zaman Inca, tempat ini dilapisi emas. Seiring masuknya penjajah Spanyol, Qorikancha pun berubah. Kini tempat ini menjadi perpaduan unik antara budaya Inca dan Kolonial. Catatan: Sebagian area di Qorikancha yang bergaya Kolonial dilarang difoto.

Dari Qorikancha kami naik van untuk mengunjungi beberapa kuil Inca unik lainnya. Di Saqsaywaman, kami belajar bahwa orang-orang Inca tidak sembarang susun batu dalam membangun benteng atau kuil. Setiap batu dibentuk dan disusun sedemikian rupa dan memiliki makna. Batu-batu ini misalnya, memperlihatkan seekor llama, hewan yang banyak ditemukan di wilayah Cusco dari dulu hingga kini.

Di Tambomachay alias Inca Baths kami melihat bangunan Inca yang didedikasikan untuk tempat pemujaan air. Ada banyak kanal, terowongan air dan pancuran. Menurut tour guide, hingga kini tidak ada yang tahu dari mana asal mata air yang mengalir ke kuil ini.

Di Qenqo, kami diajak melihat goa yang pada masanya dijadikan tempat pengorbanan manusia. Tour guide kami menjelaskan, menurut catatan sejarah, suku Inca melakukan pengorbanan manusia pada saat-saat tertentu. Misalnya ketika mengalami bencana alam. Mereka menganggap alam murka dan karenanya perlu melakukan pengorbanan manusia supaya alam tenang.

image image image image

Di Pukapukara, kami melihat bangunan yang dulunya digunakan sebagai salah satu markas militer dan benteng pertahanan Inca. Catatan: Untuk memasuki Saqsaywaman, Qenwo, Tambomachay dan Pukapukara menggunakan Boleto Turistico.

===============================

CATATAN & REKOMENDASI:

1. Hanya ada satu hotel di Machu Picchu… dan mahal. Akomodasi terdekat lain dari Machu Picchu terletak di Aguas Calientes. Tapi Inca / Peru Rail melarang penumpang membawa tas atau koper besar ke Aguas Calientes. Hanya boleh bawa ransel atau koper kecil. Jadi pertimbangkan apabila mau menginap di Aguas Calientes

2. Telpon bank untuk beritahu bahwa kartu kreditnya akan digunakan untuk pemesanan tiket dan lain-lain.

3. Pesan / beli tiket Machu Picchu dan kereta secara online dari jauh-jauh hari, supaya tidak kehabisan. Beli tiket Machu Picchu dari situs resmi yang berbahasa Spanyol karena lebih murah. Panduan beli tiket Machu Picchu bisa ditemukan disini http://thriftynomads.com/how-to-buy-machu-picchu-tickets-online/

4. Selalu bawa paspor dan form imigrasi kemana-mana. Setidaknya perlu dokumen itu untuk check in hotel dan masuk ke Machu Picchu.

5. Bawa masker, karena banyak melewati jalan berdebu. Bawa botol minum dan refill di hotel. Jangan minum air dari keran karena tidak layak minum. Di Peru toilet paper tidak boleh di-flush loh, jadi harus dibuang ke tempat sampah.

————————————-

Diceritakan oleh : Vina Mubtadi – Warga Indonesia yang tinggal di Washington DC – email : [email protected]

Atau Vina bisa dikontak di
Twitter @vinamubtadi
Facebook Vina Mubtadi (https://www.facebook.com/vinamubtadiofficial/?fref=ts)
Instagram @vinamubtadi

————————————–

Diedit oleh : [email protected] / [email protected]




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: