HIK – budaya nongkrong malam dari kota Solo

wedangan HIK

Pernahkah anda mendengar istilah HIK ??? Jika anda orang Solo pasti akan langsung angkat tangan. Yes. Tapi yang bukan orang Solo, apa sih HIK itu??? Ini dia ulasannya.

Jika di Surabaya atau kampung kampung Jakarta, malam hari anda tak asing lagi dengan teriakan Bapak Penjual Sate Madura keliling “Teeeeeeeeeee” dengan nada melengking nyaring panjang. Maka zaman dahulu di Kota Solo, bapak penjual makanan dalam gerobak dorong keliling teriaknya “Hiiiiiiiikkkkkkkk”.

Entahlah, saat saya tanya warga Solo mereka sendiri tak tahu artinya Hik. “Ya sebagai tanda aja kalau mereka lewat kali ya”, “Ga tau, ya dari dulu disebutnya hik ya ikut aja” dan “Katanya sih singkatan dari Hidangan Istimewa ala Kampung”. Entahlah. Tapi tampaknya Hik sudah di akuisisi. 3 hari disana saya tak berjumpa bapak bapak mendorong gerobak sambil teriak “Hiiikkkk”, sepenglihatan saya mereka kebanyakan sudah menetap. Namanya pun jadi Wedangan Hik.

Wedangan Hik adalah sebutan untuk warung angkringan di Solo. Ciri khas Hik yang memakai gerobak tetap dipertahankan. Baik itu wedangan yang masih sangat tradisional hanya tenda pinggir jalan kemudian diberi kursi dan meja maupun yang sudah punya ‘rumah sederhana atau mewah’. Mereka menjual minuman berbahan dasar Jahe dan Teh khas Solo.

wedangan HIK

TEH KHAS SOLO??? Apa sih teh khas Solo??? Ternyata Solo memiliki Sejarah Teh yang menarik. Sejak zaman opa oma, Solo telah memiliki budaya mengoplos teh. Teh yang dihasilkan tak sekedar wangi tapi juga kental. Semakin sepat dan harum, maka teh akan terasa makin nikmat dan inilah teh yang dicari.

Berjalannya waktu sang pengoplos menemukan rahasia lagi dalam teknik peracikan teh, yaitu dengan diberi potongan jeruk. Yup potongan, bukan perasan seperti lemon tea. Potongan jeruk ini dibiarkan mengapung atau dalam bahasa Solonya “krampul”. Dengan wujud jeruk mengapung inilah nama teh ini disebut Teh Krampoel.

Tapi betullah. Teh khas Solo yang Panas Legi dan Kentel ini begitu diberi potongan jeruk, rasanya sangat segar!!! Beda dengan lemon tea yang cenderung sangat asam, irisan jeruk pada teh krampoel ini justru bisa saya sebut sebagai micinnya teh. Dengan sepotong jeruk, teh jauh lebih wangi, lebih sepat dan juga lebih segar. Ada aroma jeruk tapi tidak menghilangkan inti rasa teh. Justru menguatkan.

Oyaa, just info. Buat para perantau yang rindu teh krampoel, saat saya ke Solo saya menemukan tea bag bernama Savis. Ia punya rasa teh krampoel. Saat saya seduh, rasa ini bener bener seperti rasa yang ada di wedangan wedangan. Kira kira kemiripan rasa adalah 85% namun tentunya dengan kadar tekstur yang lebih light. Buat orang Solo yang merantau, bolehlah untuk menyalurkan kerinduan akan kota Solo.

wedangan HIK wedangan HIK

Untuk wedangan jahe, jenisnya juga beragam. Ada sekedar jahe panas, jahe coklat, jahe tape dan yang snagat tradisional adalah wedang uwuh. Hmmm saking semangat menyeruput teh khas Solo, saya sampai lupa akan wedang uwuh ini. #sosad – lain kali kalau ke Solo kudu nyobain wedang uwuh khas HIK pokoknya hihihi.

Selain menjual aneka wedangan – HIK juga menyajikan makanan, biasanya berupa nasi kucing, aneka gorengan, jadah bakar, tahu tempe, sate telur puyuh, kerang dan usus plus lain sebagainya. Macem macem komplit dengan harga sangat merakyat.

Jika dilihat dari Jam buka tutup dan juga lokasinya yang kaki lima dan remang, penikmat budaya malam kota Solo ini seharusnya adalah para pria. Namun saat saya di Solo kemarin selama 2 malam, pelanggan warung angkringan ini banyak wanita bahkan anak anak juga. Teman pun yang mengantar saya ke salah satu angkringan yang sudah berdiri sejak tahun 70an, Warung Pak Wiryo, sering kesini bersama anak istri. “Enak jahenya yun. Kalau badan greges (agak masuk angin) minum jahe itu langsung sembuh”, kata Andrew saat kami memasuki warung pak Wir ini. Ia pun memesankan saya Jahe Coklat Tape dan Teh Krampoel Panas.

wedangan HIK wedangan HIK

Jahe nya memang mak cleng. Pedes hangat ditubuh. Namun karena dicampur coklat ia memiliki tekstur yang lembut. Dan tajamnya aroma tape membuat jahe dan coklat yang memiliki rasa berlawanan, seolah menyatu. Enak. Sementara untuk teh krampoelnya. Juga Enak.  Di Pak Wir sini The Krampoelnya tidak terlalu pekat namun sangat segar. Cocok banget untuk udara malam Solo yang sejuk. Hmmm sambil menulis artikel ini, saya tiba tiba jadi kangen dengan Solo.

Dan berikut adalah komentar beberapa teman saya akan wedangan HIK dan juga hmm komentar dari Sruti Respati yang saya ambil dari surat kabar yang terbit pada Minggu 25 september 2016.

“Pokoknya kalau ga enak badan langsung ke wedangan”, “Kalau pulang Solo pasti malamnya ke wedangan, suka kangen sama Teh Krampoel”. “Yang aku kangenin dari Solo itu ya nongkrong malem di HIK”. Begitulah kira kira pendapat teman saya tentang wedangan.

wedangan HIK

 

Oya seperti Koran yang saya baca diatas, “HIK ini juga sangat gampang dicari karena hampir di tiap sudut jalan atau gang ada”. Betuuulll !!! Banyak banget HIK di Kota Solo, termasuk di sebelah Hotel tempat saya menginap, Hotel Lampion. Di sana ada HIK yang selalu ramai. 2 malam di Solo, suami selalu nongkrong disana sampai warung tutup jam 12 malam. “Enak” katanya. Ia menyukai suasananya, sehingga aneka makanan dan minumannya pun terasa nikmat.

Begitulah budaya wedangan, ia tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan warga Kota Solo dan akan menjadi sebuah kenangan indah ketika berada jauh dari Solo. Solo, … aku akan kembali. Oya – buat yang mau ke Solo, bisa dapatkan harga kamar hotel paling murah di Wego.co.id dan bisa juga cari tiket murah di Wego

————————————

Penulis : [email protected]

 




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: