MEMBURU KOTA YANG SEMPAT MENGHILANG – edisi 1 Machu Picchu

Machu picchu

Pernahkah anda mendengar MACHU PICCHU ??? Peradaban suku Inca yang sempat hilang dan terlupakan selama ratusan tahun. Kini dibawah asuhan UNESCO, Machu Picchu menjadi salah satu gunung paling diburu wisatawan di Amerika Latin.

Gunung??? Yaaa Machu Picchu sendiri memiliki arti Gunung Tua. Yang membuatnya unik adalah kota ini berada di antara gunung gunung, sehingga saat berada disana, kita serasa sedang berada di kota tertinggi di Dunia.

machu pichu

 

Dan oh okay, saya mau cerita dari awal saya berangkat sampai akhirnya sampai di Machu Picchu ya. Ini dia kisahnya:

——-

Ke Machu Picchu bersama anak kecil? Kenapa tidak. Selama persiapan matang dan tetapkan ekspektasi, perjalanan pun akan nyaman, tidak repot dan tetap fun buat keluarga. Yes, liburan kali ini kami sekeluarga nekat menjadikan Machu Pichu sebagai tujuan wisata. Padahal anak saya, Lana, baru berusia 4 tahun.

Kata beberapa teman, “Jangan”. Tapi nyatanya, see — Lana terlihat sangat bersemangat. Meski kadang ‘tenaga anak anak’ nya mengatakan tak mampu sehingga harus digendong, tapi ia cepat sekali pulih dan bahkan senyumnya selalu mengembang. Ini juga terlihat di foto foto candidnya.

Untuk mencapai Machu Picchu memang tidak bisa instan dan cepat. Maka untuk kenyamanan, kami pun mengimbanginya dengan tour tour singkat di tiap kota. Inilah gambarannya yang mungkin bisa jadi referensi anda jika hendak kesana.

machu pichu

Dari bandara Alejandro Velasco Astete International Airport atau Cusco Airport atau CUZ, kita harus melewati beberapa kota lain termasuk Ollantaytambo dan Aguas Calientes/Machu Picchu town dengan tiga moda transportasi berbeda. Nah supaya perjalanan terasa seru dan asyik, maka selama di Peru ini kami menyusun jadwal perjalanan sebagai berikut:

Hari 1: Dari Cusco menuju Ollantaytambo (tur taxi ke tiga tempat)
Hari 2: Mengunjungi Machu Picchu
Hari 3: Dari Ollantaytambo menuju Cusco (tur taxi ke tiga tempat)
Hari 4: Tur keliling kota Cusco

——–
HARI 1: Chinchero, Salinas de Maras, Moray & Ollantaytambo

Kami mendarat di bandara Cusco pukul 8 pagi dan disambut oleh supir Taxidatum yang mengangkat papan nama saya di terminal kedatangan. Saya memesan taxi di http://taxidatum.com.

Meskipun judulnya taxi, tapi tidak ada tulisan ‘taxi’ di mobil itu. Kami dijemput dengan sedan yang Supirnya tidak bisa berbahasa Inggris, dan saya tidak bisa berbahasa Spanyol, jadilah komunikasi kami agak agak ala tarzan. Dari pengalaman ini, jika anda ke Peru, bawalah kamus, contekan atau belajar bahasa Spanyol dulu, karena disini sebagian besar berbahasa Spanyol.

Taxi langsung mengantar kami tour ke Chincero, yaitu desa kecil di pegunungan Andes yang terkenal akan gereja Kolonial dan Pasar Minggu yang menjual pernak-pernik khas Peru.

machu pichu

 

machu pichumachu pichumachu pichumachu pichumachu pichu

Di pintu masuk kami membeli tiket Boleto Turistico General http://www.cosituc.gob.pe seharga 130 Soles per orang. Anak kecil gratis.

Catatan: Boleto Turistico adalah semacam tiket terusan yang bisa digunakan di banyak tempat wisata selama 10 hari.

Disini kami langsung disambut dengan puluhan anak tangga, jalan menanjak, dan bangunan berbatu; ternyata ini adalah sesuatu yang akan sering kami temui selama lima hari ke depan.

Baru jalan beberapa ratus meter, entah mengapa nafas kami semua terasa sangat berat. Setelah ditelusuri, ternyata inilah yang dinamakan altitude sickness alias penyakit akibat ketinggian. Wuhuuu, Chinchero terletak 3,800 meter di atas permukaan laut, sangat tinggi!

Gejalanya termasuk cepat lelah, pusing dan mual. Lana pun menyerah lalu minta digendong. Beruntung, anak tangganya tidak terlalu banyak. Sesampainya di atas langsung kami disambut dengan lapangan luas dan pemandangan indah. Rasa lelah pun hilang. Lana juga langsung semangat lagi berlari kesana kemari dengan penuh antusiasme.

machu pichumachu pichu

Menurut saya selama kunjungan disini, yang paling menarik dari Chinchero adalah gereja Kolonialnya yang sangat bersejarah. Saya sempat masuk dan melihat interior gereja yang dipengaruhi era Kolonial. Sangat indah. Banyak warna emas dan nuansa gerejanya sangat kental dengan kepercayaan Inca. Sayang, Pengunjung dilarang mengambil foto di dalam gereja, jadi Anda harus kemari untuk menyaksikannya langsung, hehehe.

Setelah puas mengelilingi chinchero, taxi membawa kami ke Salinas de Maras.
Tiket: 10 Soles per orang.

Salinas de Maras adalah ladang garam yang telah digunakan selama berabad abad. Merupakan tambang garam dari mata air alami yang proses pembuatannya masih sangat tradisional dan memeras tenaga. Disini, garam dihasilkan dengan bantuan panas matahari, menguapkan air asin dan meninggalkan kristal dibagian atas. Tumpukkan kristal inilah yang kita namakan garam. Proses ini dilakukan sejak jaman Inca sekitar 500 tahun lalu.

Menyusuri ladang garam dan melihat langsung dari dekat memang diperbolehkan, tapi ada beberapa jalan setapak yang sangat sempit, jadi sebaiknya berhati-hati. Lana sendiri juga tampak sangat bersemangat. Apapun yang ia belum tahu, ditanyakan. Seperti, kok bisa jadi garam? Akhirnya mama pun jadi guru sejarah dan fisika dadakan huhuhu.

machu pichumachu pichumachu pichu

Sebelum pulang tidak lupa saya membeli garam. Pilihannya sangat variatif dan murah. Satu bungkus kecil garam pink hanya 1 Soles atau Rp 5,000.

Puas memandangi kilau kristal garam, mas taxi membawa kita menuju ke destinasi selanjutnya : Moray
Tiket: Boleto Turistico

Moray adalah situs arkeologi yang berisi peninggalan Inca berbentuk unik. Bangunan ini menunjukkan bahwa suku Inca sudah menggunakan sistem pengairan yang canggih (terasering) 500 tahun lalu. Bahkan beberapa peneliti menganalisa ini adalah laboratorium pertanian Inca. Mereka membangun secara melingkar dan berundak untuk mengetahuu efek dari iklim yang dibutuhkan masing masing tanaman.

Karena semakin tinggi teras, memiliki suhu yang lebih tinggi dan sebaliknya. Dengan perbedaan tinggi antara teras bawah dan paling atas 150 meter, juga ada perbedaan suhu sekitar 15 derajat celcius. Hmmm canggih juga ya.

machu pichumachu pichumachu pichumachu pichumachu pichumachu pichu

Itulah tour hari pertama kami yang berakhir di Ollantaytambo, dimana kami beristirahat di Hostal Sauce http://www.hostalsauce.com.pe. Hotelnya terletak tidak jauh dari plaza dimana banyak café, restoran dan toko yang menjual oleh-oleh.

Catatan: Siapkan receh. Di plaza ini ada beberapa warga Peru berpakaian tradisional yang bersedia difoto dengan imbalan tips. Praktik seperti ini cukup umum di tempat-tempat yang dibanjiri turis.

Di tempat ini kami mencicipi teh daun koka, minuman herbal yang dikatakan bisa mengatasi altitude sickness. Teh koka ini bisa disebut sebagai minuman sehari hari warga sekitar. Karena itulah tubuh mereka dapat bertahan di ketinggian kita ini.

Minumannya sederhana saja: beberapa helai daun koka diseduh air panas. Airnya kuning, rasanya seperti green tea, tapi tidak terlalu pahit. Hampir semua hotel di Sacred Valley menyediakan teh koka secara gratis bagi tamu mereka.

Catatan: Meski daun koka dan produk-produk turunannya banyak dikonsumsi di Peru dan legal di banyak negara Amerika Latin, namun tanaman ini dianggap ilegal di sebagian negara, termasuk AS, karena khawatir disalahgunakan jadi bahan kokaine.

machu pichumachu pichumachu pichu

Okay, artikel selanjutnya saya akan bercerita tentang MACHU PICCHU !!! Yeaaahhh, … Sekarang istirahat dulu yaaa, sekitar 2 atau 3 hari lagi akan saya upload kisah BERBURU KOTA YANG SEMPAT HILANG edisi 2.

————————————-

Diceritakan oleh : Vina Mubtadi – Warga Indonesia yang tinggal di Washington DC – email : [email protected]

Atau Vina bisa dikontak di
Twitter @vinamubtadi
Facebook Vina Mubtadi (https://www.facebook.com/vinamubtadiofficial/?fref=ts)
Instagram @vinamubtadi

————————————–

Diedit oleh : [email protected] / [email protected]


Lake Titicaca & Machu Picchu Independent Adventure

Lake Titicaca & Machu Picchu Independent Adventure

Lake Titicaca & Machu Picchu Independent Adventure WISATA SERU KE DANAU TITICACA & MACHU PICCHU SECARA INDEPENDENT

Lewatkan petualangan seru selama delapan hari menjelajah daerah suku Inca, termasuk Lima, Danau Titicaca, Cusco dan 2 kali perjalanan tak terlupakan dengan Kereta Api. Kunjungi danau tertinggi di dunia dan temukan keunikan kota Puno sebelum menaiki kereta Andean Explorer untuk perjalanan mencengangkan ke Andes dan Cusco. Sekali lagi mengalami petualangan seru di Cusco dan the Sacred Valley dilanjutkan dengan naik kereta api ke Machu Picchu, “Kota Suku Inca yang Terhilang”.










Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: