Kisah Inspiratif – Terima Kasih Mass Market

{"total_effects_time":0,"total_draw_time":0,"total_effects_actions":0,"uid":"8E395CC8-E53B-4BB6-A79C-3105A7B5607E_1454878675567","tools_used":{"crop":1,"perspective":0,"shape_crop":0,"stretch":0,"free_crop":0,"resize":1,"adjust":1,"clone":0,"selection":0,"flip_rotate":0,"tilt_shift":0,"enhance":0,"curves":1,"motion":0},"layers_used":0,"effects_tried":0,"sources":[],"brushes_used":0,"photos_added":1,"effects_applied":0,"total_draw_actions":0,"height":393,"total_editor_time":75603,"width":600,"origin":"gallery","total_editor_actions":{"text":0,"shape_mask":0,"border":0,"square_fit":0,"lensflare":0,"clipart":0,"frame":0,"callout":0,"mask":0}}

Hai hai, sebelumnya uda kenal belum sama yang namanya Mass Market??? Kalau belum, kenalan dulu yah. Mass market ini dalam bahasa indonesia artinya Pasar Umum. Penjabarannya??? Menurut saya sendiri sangat luas mulai dari pedagang asongan, gelar tiker, gerobakan sampai dengan yang kios kios dan UKM gitu.

Nah memang rada ngga nyambung ya wisataseru ngebahas soal Mass Market. Tapi ada juga kok hubungannya. Apa tuuhh??? Karena berkat Mass Market, saya (Catur Guna) bisa memiliki uang lebih buat wisata dan kuliner. Sooo, terima kasih Mass Market. Dan kisah ini menurut saya cukup inspiratif. Jadi layak untuk dijadikan bacaan pembaca wisataseru.

Begini Ceritanya sampai saya harus ucapkan Terima Kasih Mass Market

Saat itu tahun 2004, saya masih kuliah. Yes, ini kisah lama yang saya bongkar untuk mengikuti lomba menulis BTPN Sinaya dengan tema “Terima Kasih Mass Market”. Doakan Juara yaaa teman teman dan semoga kisah ini menginspirasi.

Oke ceritanya dimulai. Kedua orang tua saya punya basic sebagai pedagang. Maka ketika saya tumbuh besar dan sama sekali ngga punya jiwa dagang, mama mencoba menumbuhkannya. Yaitu dengan cara saya diberi modal sekarung kerupuk dari pabrik temannya di Tuban Jawa Timur dan beberapa ide cara menjual.

Lalu kenapa terima kasih pada Mass Market??? Karena sekarung kerupuk itu akhirnya saya titipkan ke bapak sayur yang keliling kampung samping perumahan dan beberapa warung kecil (kios) di daerah perumahan tempat saya tinggal di Surabaya.

Tak disangka hasilnya lebih dari lumayan. Keuntungan 100%. Yup karena ambil langsung dari pabrik dan ngga ada ongkos kirim. (Mama tiap hari minggu pasti ke Surabaya, jadi sembari mengunjungi anak kesayangannya ini hihi, ia membawa kerupuk sesuai pesanan saya). Alhasil Saya pun bisa untung lebih banyak. Sebulan saya bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar 400ribu. Dan hanya butuh waktu 3 bulan, akhirnya mama memberi saya modal etalase yang diletakkan di garasi rumah. “Hasil keuntungan jual kerupuk belikan aneka kebutuhan pembantu rumah tangga”, kata mama.

Terima kasih mass market

Foto ini bukan foto si bapak yang saya titipin. Maklum kejadiannya sudah ditahun 2004, saya tidak ada fotonya dan saya sudah tidak di surabaya. Jadi foto ini hanya ilustrasi. Foto saya ambil di Jakarta

Dengan uang sekitar 1,5jt saya pun memenuhi etalase tersebut dengan peralatan mandi, pembalut, sabun cuci dan pewangi, gula pasir dan beberapa barang yang biasa dibeli pembantu rumah tangga sekitar komplek.

Wow, laris manis. Baru sehari buka, dari mulut ke mulut rumah saya jadi sering di datangi para pembantu tetangga hihi. Mereka senang karena sekarang ga perlu jauh jauh buat beli kebutuhan sehari hari mereka. Mama pun berpesan:

“Tanya pada tiap pembeli, apa yang kira kira mereka butuhkan dan mereknya apa.” Dan yuhuuu 3 bulan kemudian etalase saya penuuhh dan mama memberi saya hadiah satu lagi etalase. Akhirnya garasi dirumah pun jadi warung beneran.

Maklum, warung terdekat dari komplek jauhnya sekitar 1 kilometer lebih (keluar komplek perumahan dulu baru ada warung). Jadi, warungku cepat terkenal dan laris manis.

Dan bagaimana saya bisa cepat memenuhi etalase??? Tentu itu tadi berkat bapak sayur keliling dan kios kios kecil yang saya titipin kerupuk. Setiap bulan kebutuhan kerupuk terus meningkat dan artinya pendapatan saya pun terus berlipat. Dari keuntungan kerupuk tersebut, warung saya dirumah pun berkembang pesat.

Saya kan kuliah? Siapa yang jaga warung? Si embak dirumah tentunya hehe. Karena barang cuma sedikit saya bisa dengan mudah memeriksa tiap pulang kuliah antara jumlah barang keluar dengan jumlah uang yang masuk.

Meski ketika lulus kuliah saya pindah ke Jakarta, dan warung tersebut harus ditutup karena ngga ada yang jaga. Tapi saya harus mengucapkan “Terima Kasih Mass Market”. Berkat Mass Market saya jadi punya pengalaman dagang dan punya tambahan uang jajan selama masa kuliah.

Inilah kisahku bersama Mass Market. Demikian artikel saya. Semoga menginspirasi semoga bermanfaat.

penulis : catur guna yuyun ang – [email protected]




%d bloggers like this: