Desa Pengrajin Batik di Tuban Jawa Timur

dimana mana ada batik

Sungguh suatu pemandangan yang berbeda, ketika kita memasuki suatu kawasan yang seluruh warganya nyaris memiliki pekerjaan sama. Inilah pengalaman saya ketika main ke desa Sumur Gung – Bongkol – Tuban. Disana, mudah sekali menemukan batik sedang di jemur.

dimana mana ada batik

Wah… what heppen ikiiii ? Ow ooowww ternyata nyaris satu kampung, warga disini turun temurun menjadi pengrajin batik. Maka tak heran jika dimana mata memandang, disanalah terlihat batik tergantung gantung sedang di jemur. Ada yang di halaman, ada yang di pelataran jalan, ada yang di pagar, bahkan ada yang tergeletak di dalam rumah.

Pengrajinnya pun ada yang membuat secara berkumpul karena memang pekerjaannya adalah membatik. Ada pula yang membuat sendiri di rumah untuk mengisi waktu sembari menjaga dagangan. Batiknya pun ada yang tulis dan ada pula yang cap.

zara dan papaku sedang melihat proses membatik

Batik tulis biasanya langsung diserahkan pada pengepul dan kemudian dikirim ke luar kota untuk dijadikan baju oleh para desainer dan atau dijual kain gitu aja di toko toko. Sedangkan yang batik cap biasanya langsung dikirim ke pembuat souvenir khas Tuban, seperti : baju wisata Tuban, mulai dari makan sunan bonang, goa akbar dan tempat wisata lainnya.

Untuk harga, batik tulis ini lumayan murah ya. Mulai dari 125.000 sampai tak terhingga tergantung kain dan motif yang kita inginkan. Saya bilang murah, karena membuatnya susah loh. Selain proses nya yang rumit, dimulai dari membuat pola, pemberian malam (lengkreng), mengisi, mewarnai, memblok, mewarnai lagi, kemudian di lungsur untuk menghilangkan malam dan menjemurnya.

Pembuatan batik untuk kain 2 meter ini, membutuhkan waktu paling cepat 3 hari – untuk motif sederhana. Sedangkan untuk proses yang lebih rumit biasanya membutuhkan waktu seminggu. Bahkan batik Gedhog (batik khas Tuban) yang memiliki motif njelimet alias rumit, membutuhkan waktu rata rata 3 minggu baru selesai.

Oya, khusus untuk batik Gedhok, kainnya dibuat secara khusus. Di pintal dari kapas dan baru dibatik. Inilah mengapa dinamakan Gedhok dan harganya jauh lebih mahal. Kainnya pun jauh lebih berkualitas dibanding batik biasa. Kepopuleran Batik Gedhok ini sudah Internasional loh. Bangga ya jadi orang Tuban heheee

di desa ini batiknya memiliki ciri berduri – pasti ada duri durinya

Nah loohhh … ya kan??? Murah kan??? Saking murahnya, batik Gedhog Tuban yang terkenal itu, nyaris punah. Kebanyakan pengrajin lebih suka memilih membuat batik dengan motif biasa yang pembuatannya lebih cepat. Oya dan di desa tempat saya datang ini, menurut pengrajinnya, semua batik disini memiliki ciri khas ‘Duri’.Jadi apapun motifnya, selalu ada duri duri dalam desainnya.

Dan satu info lagi. Desa yang saya kunjungi ini, bukan satu satunya desa di Tuban yang warganya turun temurun adalah pengrajin batik. Masih banyak tempat di Tuban yang warganya masih mengerjakan batik Tuban, bahkan masih ada yang membuat batik Gedhok.

Duh duh duh .. setelah mampir ke desa ini. Saya jadi lebih menghargai batik tulis. Gimana ngga??? Mbuatnya susah euyyyy. Monggo kita cintai Batik produk aseli Indonesia.

Untuk anda yang ingin mampir ke desa ini. Bisa hubungi warga asli sana : Pak Lam 081553162823

Penulis : Catur Guna Yuyun Ang  / [email protected]




1 comment

  • Mari mencintai Indonesia!
    Mari menginspirasi dunia!
    mulailah tanamkan seni batik pada pemuda dan pemudi mulai dari sekarang, agar perkembangan batik tidak terhambat karena pengrajin batiknya sudah tua dan tidak mampu lagi membatik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: