Sawah dan Kebun di Jepang, bikin Kagum!!!

yuk keliling kota tempat aku tinggal

Nah kali ini saya akan mengajak anda untuk berkeliling kota Nagano Jepang, melihat betapa hebatnya pertanian dan perkebunan yang ada disini. Sangat tradisional!!! (setelah hunting internet, ternyata kebiasaan bercocok tanam di area pemukiman tak hanya terjadi di Nagano, tapi di seluruh Jepang, termasuk Tokyo – tapi karena saya hanya tau tentang Nagano, jadi saya hanya akan bercerita tentang  yang saya lihat saja).

————— cerita dimulai

Pertama kali sampai di Jepang, saya sungguh kaget, terperangah, terpesona dan berbagai ungkapan kagum lainnya. Bagaimana tidak, sangat aneh di Indonesia ketika kita melihat ada sawah di area perumahan. Ohhhh tak hanya sawah, tapi juga kebun sayur dan buah!!! Hm… tapi ternyata kenyataan itu merupakan hal yang sangat biasa di Jepang.

Yup … apato atau tempat tinggal saya terletak di salah satu perumahan di Nagano Shi, sebuah perumahan yang cukup tenang lebih tepatnya. Dan hebatnya, depan belakang kanan kiri apato saya tersebut, dikelilingi oleh kebun dan sawah pribadi milik perorangan. Coba lihat foto foto dibawah ini:

perhatikan baik baik foto wide shot ini … yang pojok atas kiri di foto ini adalah tempat aku tinggal

ini saya foto dari jendela dapur saya … lahan di depan rumah berwarna orange itu, baru ditanami padi

Nah ini fotonya setelah 5 bulan kemudian, padi sudah siap panen

Nah begitu pula ketika saya keluar dari apato, inilah pemandangan dari pintu gerbang : Lahan yang digunakan untuk menanam sayuran

melangkah 20 meter dari apato ke arah jalan raya, inilah yang akan anda lihat. lahan kosong yang nantinya usai musim salju, akan kembali jadi kebun sayuran

Ini adalah foto dari sudut lainnya yang kuambil dari apato … banyak kan lahan kosong diantara rumah rumah. lahan lahan tersebut ketika musim menanam, akan penuh dengan sayuran dan padi

Kebun kebun dan sawah ini adalah milik perorangan yang dikelola sendiri langsung oleh sang empunya. Hiaahahahaaa sotoy banget deh aku. Habisnya, ngeliat dari cara mereka merawat tanamannya, sungguh seperti merekalah pemiliknya.

Umumnya yang saya lihat sedang beraktivitas di kebun/ sawah tersebut adalah orang orang tua. Tak hanya sekedar orang tua berusia 40an tahun, bahkan kakek nenek 70an tahun pun masih tampak rajin pagi sore menjaga kebun mereka. Bahkan kakek yang berkebun di depan apato saya, sampai membuat gubug sederhana. Jadi, usai pagi pagi membersihkan kebun, si kakek yang ditemani oleh 2 anjing kesayangannya itu, lalu duduk santai di gubugnya sambil baca Koran hingga menjelang siang.

Penasaran, saya pun bertanya pada teman suami yang orang Jepang. Waaahh ternyata jawabannya adalah, “Menjadi petani di Jepang itu memberikan keuntungan yang cukup banyak. Bahkan banyak di kota ini yang merupakan orang kaya adalah mereka yang berprofesi sebagai petani / pekebun”.

Weewww … hunting internet pun kulakukan, dan betuuulll sodara sodara. Ternyata pertanian itu masuk dalam program pemerintah. Menyadari pangan merupakan hal paling pokok dari kehidupan manusia, pemerintah Jepang memberdayakan pertanian tradisional perorangan. Dimana hasil kebun / sawah mereka, sangat dilindungi. Tak hanya pemberian subsidi, namun petani juga bisa menjual langsung hasil kebun/ sawahnya di supermarket.

Hasilnya??? Tentu sangat tak hanya menguntungkan bagi petani, tapi juga bagi kesehatan konsumen. Supermarket supermarket dipenuhi oleh sayuran segar setiap harinya. Mengapa??? Karena apa yang dipanen petani hari ini, itu jugalah yang akan anda lihat di supermarket. Maka tak heran jika sayur mayur di Jepang rasanya endos gandos maknyooos. Suegereee poll… suami yang sebelum ke Jepang ngga doyan sayuran, sejak tinggal di Jepang jadi maniak sayur loh heheee.

Kakek ini rajin banget pagi sore datang ke kebunnya

begitu juga dengan bibi ini (ups ‘bibi’ hihihii SKSD banget aku hehee)

yang ini juga … tiap hari keladang dengan sepeda kesayangannya … wkwkwkww lagi lagi sotoy banget pake embel embel kesayangan

terlihat sang kakek menyusuri sawah yang terletak di depan seiyu, si kakek ini barusan mengambil air dari selokan untuk menyirami kebunnya (oowww air selokan di jepang jernih loh wkwkwkw jangan dibayangkan air selokan di jakarta … oh no)

area dibawah jalan layang pun digunakan untuk menanam padi. sangat efektif ya. maklum masa bertanam di jepang sangat singkat. jadi untuk memenuhi kebutuhan selama 1 tahun, tentunya mereka harus menggunakan lahan lahan yang bisa dipakai. karena jika musim telah menjadi dingin, tentu tak ada harapan untuk bercocok hingga datang musim menjelang panas

Serunya lagi. Pertanian dan kebun yang ada di daerah tinggal saya ini, tampaknya semua ditanam secara organik. Bagaimana saya tahu??? Karena sawah yang sepetak terhampar di depan apato saya itu, pertama saya datang di bulan juni, ia baru saja ditanam. Dan akhirnya baru di panen pada bulan November. Yaaa setahu saya, padi organic itu memang membutuhkan waktu kurang lebih 5-6 bulan baru bisa dipanen. Berbeda dengan padi pestisida yang marak di Indonesia, 3 bulan sudah bisa panen raya.

Kemudian untuk sayur mayur dan buah juga demikian. Sekali tempo, saya melewati tanah yang sedang dipersiapkan untuk bercocok tanam. Masih terlihat gembur gembur karena baru selesai di bajak. Dan terciumlah aroma yang oke punya wkwkwkwkww … pupuk kandang!!!

Lalu dari segi pemeliharaannya juga memperlihatkan jika sayuran tersebut ditanam organic, yaitu dengan rutin pagi sore dibersihkan. So, hama hama rumput dan hewan perusak lainnya itu dibersihkan secara manual tanpa obat. Hasilnya??? Itu tadi sayuran yang endos gandos makyooosss heheheee.

kebun apel di perumahan, meski tanpa pagar, aman dari orang orang iseng

apelnya sudah matang nie … merah merah segar .. cuma nunggu dipanen doang hehee .,.. biar tanpa penjaga, apel ini ga ada yang nyuri loh

kebun apel berada persis di jalanan gini, biasa banget di jepang … jadi jangan heran kalau lagi jalan diperumahan terus tiba tiba nemu kebun yak

banyaknya kebun dan sawah di daerah perumahan, turut memberi kontribusi udara yang segar di pagi hari hehee … jadi saya dan suami suka jalan pagi pagi … segaaarrrr

Hebatnya, meski ditanam di area pemukiman, tanpa pengaman (tanpa pagar, tanpa cctv dan tanpa satpam) – ngga ada loh yang iseng ngerusakin atau bahkan mencuri. Terbayangkan, musim panas dengan suhu nyaris 40 derajat, lalu terlihat buah apel yang telah matang berwarna merah jelita. Aaaawww … Bayangkan jika ini di Indonesia. Wadooowwww …. Habis sudah!!! Hehehee tapi disini??? Buah tersebut aman hingga waktunya dipanen sendiri oleh sang pemilik. Hebat yaaaa etikanya.

Penulis : catur guna yuyun angkadjaja

Booking Hotel di Jepang, Klik Disini.

 

 

 

 

 

 




13 comments

  • itulah masyarakat indonesia terlalu dimanjakan alam..tanam!!!! trussss…tunggu panen..dan kalau gagal malas mengulang…. soalnya entah pemerintah atau masyarakat sendiri sama – sama tidak bisa memanfaatkan peluang…pokoknya kalau di indonesia petani kecil itu tetap dimiskiankan oleh pemerintah berbeda dengan petani berdasi duduk di balik kucuran dana dari pinjaman bank dan penebangan hutan secara brutal tanpa memikirkan dampak alam dan margasatwanya…pokoknya petani harus lebih banyak memperhatikan petani kecil jangan para hanya mengumbar kasus-kasus korup yang membuat para rakyat kecil hilang harapan…..kembaliah keawal lagi kalau bumi indonesia ini adalah agraris maka pertanian&perkebunan akan menjadi sumber pendapatan yang layak bagi petani kecil…

  • Yang pasti kita jangan berlama2 terlena dengan keadaan seperti ini, sekiranya dengan adanya artikel ini dapat membuka mata kita warga indonesia dan kita akan bersama2 membuat perubahan. Tidak ada kata terlambat kita mulai dari diri kita masing2

  • Sugoii…..!!
    merinding bacanya…..
    kakaku pnh ke Jepang 6 minggu.. begitu plg..nangis… sedih meninggalkan Jepang
    Surga bagi orang tertib, disiplin, pekerja keras…..
    kl ak k Jepang bolehkah mampir? ( berharap bengettttt…)

  • waahhhh saya juga sudah balik ke indo dan sama seperti kakaknya… sedih sekali karena jepang benar benar indah dan menyenangkan… rindu dan ingin kesana lagi hehehe

  • termotivasi masyarakat Jepang, saya berencana untuk memanfaatkan halaman rumah, biarpun sempit akan saya tanami sayur-sayuran. semoga tumbuh dengan subur

  • jadi pengen lihat pertanian jepang secara langsung. biar bisa ngubah pertanian dalam negeri. minimal pertanian milik keluarga. hehehe

  • Aku punya lahan untuk sayuran sekitar 2 hektar, tukang kebun datang siang hari pada malam hari ditinggal, jika udah ada tanaman yang hampir panen yang terjadi sering hilang, beda ia dengan di jepang, ditempat kita banyak yang tidak maun nanam tapi mau manennya………………

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: