Ayam Bakar Tirtomoyo, Fresh From the ‘Kandang’

Abis renang, makan rame rame ... mak nyuuusss

Tahun baru kemarin, saya pulkam ke Tuban bersama anak anak dan suami. Tiba tiba kangen dengan ayam bakar Tirtomoyo di Mbeti sana. Yaaaa jadilah sedikit nostalgila … dan inilah hadiah taun baru saya untuk pembaca wisataseru:

———————————

Wuiiihhh … Fresh from the ‘Kandang’, mosok rek??? Pasti banyak yang ngga percaya atau bingung malah hehehee. Tapi inilah yang menjadi keunikan dari resto ini sehingga masuk dalam daftar rekomendasi wisataseru.

Tuban, merupakan sebuah kabupaten yang memiliki segudang kuliner menggugah selera. Terutama bagi anda pecinta makanan cenderung pedas, wooowww Tuban memang pusatnya. Nyaris semua hidangan lezat di Tuban, memiliki ciri khas ‘sedikit pedas’ hingga ‘sangat pedas’. Dan si ayam bakar yang akan kita kupas ini pun, bersanding pada ciri ‘sedikit pedas’ yang sangat Fresh from the kandang.

————————- Alkisah Fresh from the Kandang

Sudah sering kita baca dan dengar, resto yang menyajikan live seafood atau Fresh From the Oven. Tapi ada yang pernah denger gak kalau Fresh From the ‘Kandang’??? wkwkwkw ini sih saya sendiri yang ngasih sebutan. Habisnya, resto ini benar benar unik. Pesanan baru akan dibuat tuh ketika kita melakukan pemesanan. Dan dibuat disini bukan hanya dalam arti diolah bumbunya, melainkan benar benar mulai dari milih ayam, penjagalan, nyabutin bulu, mengoles bumbu sampe dengan dibakar.

Dieeeengggg!!! Lamaaa donk …. apalagi yang nyabutin bulu pun bukan lelaki bertenaga muda yang melakukan gerakan secepat flash … melainkan seorang nenek nenek yang dengan teliti mencabut bulu bulu ayam hingga bersih. Lalu … pembakaranpun, kayunya baru akan dibelah oleh sang kakek, bersamaan dengan si nenek mencabut bulu ayam. Haiiizzzz tak hanya ayam dan bumbu yang fresh, bahkan kayu bakar pun fresh ,,, hahaha tenang, ngga tiap ayam, terus kayunya baru kok … si kakek hanya akan memotong kayu kalau kayunya yang ditempat pembakaran dah tinggal dikit ajah. Ajib bener kaaan. Alhasil, ayam bakar pun baru akan sampai dihadapan kita tuh sekitar 1 jam an kurang kurang dikit lah, tapi kalau rame ya lebih lebih dikit hohohoo.

ayamnya bisa milih sendiri .. atau bilang aja minta ayam yang muda, jadi lebih empuks

—————- Lama tapi berasa cepat

Weewwww bete donk, nunggu makanan aja sampe sejam. Keburu mag kambuh nih hahahhaaa…. tenang tenang … karena nyatanya, sejak dari saya masi unyu unyu duduk di bangku SD sampe sekarang sudah beranak 3, sekalipun saya ngga pernah dikecewakan dengan rumah makan yang satu ini. Soalnya, lokasi resto ini ada di area pemandian Bektiharjo (dalam logat Tuban, disebut Mbeti).

Jadi biasanya, sementara anak anak berenang kian kemari, mama tiba tiba menghilang dari pandangan, untuk melakukan order di resto tersebut. Nah begitu hidangan sudah hampir matang, mama langsung menyuruh anak anak untuk naik dan mandi. Selesai mandi, kita yang telah lelah berenang pun langsung menuju resto dan woooowwwwwwww aroma bakar ayam yang segar itu membuat napsu makan jadi tak beraturan. Bayangkan, saya yang belum genap berusia 12 tahun kala itu, tiap makan disini selalu habis nasi 2 piring. Apalagi sodara sodara lelaki, waaahh bisa 3  – 4 piring.

—————– Kelezatan ayam yang masih segar

Ayam dibakar utuh

Soal rasa??? udah deh … ngga usah ditanya lagi. Ayam kampung bakar segar yang dimakan dalam kondisi lapar + nasi pulen yang panas. Minumnya slruuuuppp jeruk hangat. Pemandangannya rimbun pohon alam dengan riuh rendah terdengar suara teriakan anak anak yang masih berenang (bektiharjo ini pemandian alam yang di dalamnya masih banyak pohon besar yang ditangkringin monyet monyet liar) … Endaaaangggggg!!!!

Ayam ini memang tak seempuk ayam bakar di resto lain dimanapun yang cenderung empuk karena proses perebusan. Tapi kondisi ayam yang sedikit liat inilah yang membuat ciri khas ayam ini tak tergantikan. Liatnya juga bukan liat alot yang menyebelin bak sendal jepit ya … karena ayam yang sangat segar, jadi liatnya itu masih dalam kondisi empuk dengan serat serat yang masih sempurna. Penggunaan ayam kampung yang fresh ini pun, mengakibatkan daging ayamnya memiliki rasa manis alami yang ngga mungkin dimiliki oleh ayam bakar yang diolah dengan jalan perebusan yang panjang.

Untuk bumbu sendiri, rasanya cenderung manis pedas. Tapi kalau bawa anak kecil yang ngga suka pedas, bisa kok minta yang ngga pedas sama sekali. Atau kalau anda pecinta pedes banget, ya bisa juga minta yang pedes. Maklum, bumbu pun baru diracik, jadi bisa pesan sesuai selera.

urapnya segar dan wangi

Kalau kemari, jangan cuma pesen ayam bakarnya aja yah, karena urap disini juga juaraaaa banget. Kesegaran dan gurih harum mewangi yang tiada tara. Urap ini memang digadang gadang sebagai istrinya ayam hahahaa .. soalnya sedari kecil, tiap orang pesen ayam pasti mereka juga pesen urap. Asliii .. cobaaain yak kalau ke Tuban, dan temukan sensasinya hehehee.

NB : Resto ini memiliki 2 cabang di Tuban. Tapi untuk cabang cabangnya, saya ngga tahu ya, apakah dia juga fresh seperti disini. Kalau soal rasa, tentunya ngga sama. Karena tiap makan di mbeti sini, kita selalu dalam kondisi lapar usai berenang hahahaaa jadi tentu suasana beda, rasanya pun jadi sedikit tak sama.

Alamat : Ayam Bakar Tirtomoyo – Desa bektiharjo semanding Tuban Jawa Timur (tanya aja pemandian bektiharjo *hmm nanyanya pake logat tuban aja ya “pemandian mbeti dimana?) – saya rasa semua orang Tuban pasti tau hehee.. karena selama puluhan tahun yang lalu (sekarang sih udah banyak kolam renang), satu satunya kolam renang di Tuban yang cuma mbeti itu. Tiap hari sih buka, tapi sampai jam berapa saya ngga tau (maap lupa nanya euy) – yang jelas tiap kesana saya selalu datangnya siang.

Penulis : Martina Lawalata – Tuban Jawa Timur

Kamera : Black Berry

 

 




%d bloggers like this: