Di Jepang: Lihat!!! Anjing aja Tertib berlalu Lintas

Hohoohohooo … artikel kali ini saya ingin menceritakan betapa tertibnya negeri matahari terbit ini. Ketertiban yang bikin sumringah, shock, senang, nyaman, aman dan kaguuuum lagi lagi kagum. Dan judul dengan perbandingan “Anjing” pun, bukan semacam umpatan, tapi adalah kenyataan, bahwa saat itu saya sedang mengantri lampu merah menjadi hijau. Dan diseberang saya ada orang dengan seekor anjingnya yang tanpa tali/ rantai, alias anjingnya dilepas begitu saja tanpa ia takut anjingnya akan mengganggu orang lain.

Nah, ketika lampu merah, anjing tersebut duduk dengan santainya, dan ketika lampu berubah menjadi hijau, tanpa dikomando oleh sang majikan yang bahkan tak tau lampu telah berganti warna menjadi hijau, anjing itu langsung berdiri dan berjalan menyebrang dan diikuti oleh sang majikan 😀 kawaaaiiiiii 😀 Ya itulah sekelumit cerita pembuka saya … dan hal hal yang akan saya ceritakan berikutnya, juga sepertinya nggak kalah menarik dan bisa menjadi pembelajaran bagi kita …

Kesadaran Masyarakat Jepang Soal Menyebrang Jalan

Shibuya!!! Adalah tempat untuk melihat ribuan pejalan kaki menyebrang dengan tertibnya di jalanan Tokyo yang padat. Ini adalah sebuah pemandangan yang menarik bagi para turis. Dimana pada detik detik sebelumnya, lalu lintas dipadati oleh mobil, namun jalanan tersebut sontak akan terdiam sedetik dan kemudian berganti dengan ribuan gerakan kaki yang sedang berjalan tergesa gesa diiringi oleh bunyi tit tut tit tut sebagai penanda waktunya pejalan kaki untuk bergerak. Lalu kemudian di detik detik berikutnya jalanan kembali menjadi sunyi dan berubah kembali dipenuhi oleh mobil dan begitu saja seterusnya kegiatan pagi – malam hari di Shibuya.

Hebatnya, yang bikin saya kagum. Okelah bisa dikata jika di Shibuya mereka bisa tertib menyebrang karena itu adalah jalan besar dan ramai yang mungkin juga banyak CCTV yang jika mereka melanggar, bisa saja dikenakan hukuman atau denda atau bahkan masuk rumah sakit karena tertabrak. Tapiiii … inilah kenyataan di Jepang. Saya tinggal di Nagano di kota kecil yang juga tidak terlalu banyak mobil, bahkan pada jam jam tertentu keadaan jalan bisa sunyi nying nying …

Tapi .. lihatlah para pejalan kaki tetap saja menunggu dengan setia lampu merah berubah menjadi hijau. Bahkan, kejadian ‘terlalu taat’ ini juga saya jumpai ketika ada jalanan kecil yang hanya muat untuk 1 mobil saya kira. Hanya dengan jarak tidak lebih 2 meter, orang Jepang tersebut dengan setianya berdiri menunggu lampu berubah menjadi hijau baru dia menyebrang, padahal jika anda tau, kondisi jalanan saat itu adalah super sepi tanpa ada suara derum mobil bahkan dari jauh sekalipun. Hebat yach!!!

Hm … ya tentunya tak mungkin tak ada cela. Sesekali memang terlihat pejalan kaki yang ‘nakal’. Ia menyebrang sebelum lampu berubah menjadi hijau. Tapi … taukah anda???? Selama 2,5 bulan tinggal disini, saya baru 3 kali melihat sosok ‘nakal’ tersebut. Jumlah itu pun berarti lebih banyak jumlah aku melanggar lalu lintas dibanding jumlah orang yang kulihat melanggar lalu lintas hiihiii … Yaaa karena ngga sabar, saya sering kali menyebrang tidak pada tempatnya dan ‘lariiiiii’ karena sudah terlihat mobil hendak melintas hiihiiii … dasar aku ini 😀

Oya,.. jika anda di Jepang dan melihat tombol untuk menyebrang, sebaiknya di pencet ya … karena saya pernah mencoba untuk memencet dan tidak memencet tombol tersebut. Hasilnya?? Ketika kita memencet tombol tersebut, maka lampu merah akan lebih cepat berganti hijau dibanding ketika kita tidak memencet tanda ingin menyebrang tersebut. Breeewwww saya pernah menunggu sekitar 3  menit karena tidak memencet tuh tombol. Sedangkan ketika memencet tombol tersebut, hanya dalam waktu tak lebih dari 1 menit, lampu sudah kembali menyala hijau.

Kesadaran Masyarakat Jepang Soal Berlalu Lintas

Kondisi mobil yang ruwet di persimpangan lampu merah ijo di Jakarta, bukanlah hal yang aneh. Satu mobil buru buru dari arah selatan, bertemu dengan mobil sembrono dari arah utara dan terjepit mobil yang sebetulnya tertib dari arah timur, lalu diperparah dengan mobil yang cuma bisa terdiam karena terkunci dari arah barat. Akhirnya, kondisi DIAM pun terjadi. Tak ada mobil yang bisa bergerak karena semua posisi dalam keadaan terkunci. Kemacetan pun tak terurai berpuluh puluh menit sampai akhirnya datanglah kenek bus yang harus jadi pahlawan memaki maki mobil mewah dan tak mewah tersebut untuk menurut pada instruksinya, sehingga akhirnya jalanan yang sudah macet parah, lebih mending keadaanya alias bisa berjalan kembali meski merambat. Duuh .. pusing dah kalau bayangin kemacetan Jakarta ini!!! Dan mengapa hal ini tidak terjadi di Tokyo yang juga banyak mobil?????? Rahasianya tentu karena mereka tertib berlalu lintas …

Inilah yang saya rasakan selama tinggal di Jepang. Masyarakatnya sangat patuh berlalu lintas dan meski dalam keadaan terburu buru, mereka sangat berusaha untuk tetap berada pada jalur PATUH berlalu lintas. Misalnya ketika dari jauh terdengar bunyi ambulance, meski lampu sudah menyala hijau, mereka akan tetap dengan taat, berdiam ditempat tanpa memanfaatkan lampu yang sudah menunjukkan tanda GO tersebut. Bahkan ketika ambulance lewat dan ternyata lampu sudah berwarna merah kembali, mereka tidak mengumpat dan menyesal. Mereka tetap dengan taat menunggu lampu kembali menjadi hijau, untuk melanjutkan perjalanan.

Ke dua. Ketika mereka hendak berbelok. Mereka selalu berhenti sebelum berbelok untuk menengok apakah di kanan dan kiri ada mobil yang akan berjalan lurus. Mereka selalu mengutamakan yang berarah lurus daripada membuat diri mereka langsung berbelok yang dapat berakibat bahaya. Namun hebatnya, ketika mobil dari arah kiri atau kanan tersebut ternyata juga hendak berbelok, maka dia tidak akan semena mena main belok. Melainkan mobil tersebut juga akan berhenti dan membiarkan mobil yang telah lebih dahulu berhenti, berjalan dulu. Wooowww saling pengertian di jalan, membuat Jepang menjadi terlihat sangat teratur.

Ke tiga. Pengendara mobil sangat menghargai pejalan kaki. Jadi adalah hal yang sangat aman dan nyaman untuk menjadi pejalan kaki di Jepang. Karena ketika ada orang hendak menyebrang (ditempat yang telah ditentukan untuk menyebrang) maka, meski tak ada lampu merah ijo atau lampu peringatan lainnya, mobil secara otomatis akan berhenti dan memberi anda waktu untuk menyebrang.

Pejalan kaki mendapat posisi teratas pada hirarki lalu lintas di Jepang

Yup… di Jepang, pejalan kaki memang seolah memiliki tanda VIP di seluruh tubuhnya. Karena kendaraan apapun, mau mewah, mau kuno, mau sedan, mau bus, semuanya harus lebih mengutamakan si pejalan kaki. Bahkan ketika si pejalan kaki adalah orang dengan penyakit tertentu (cacat) atau manula sehingga harus berjalan sangat lambat, kendaraan (mobil, motor, truk atau bahkan mobil presiden sekalipun) harus menunggu dengan sabar sampai orang tersebut selesai menyebrang dengan selamat, barulah kendaraan boleh melanjutkan perjalanan.

Nah … jadi jangan heran jika anda ke Jepang, maka ada banyak anak anak TK yang bahkan pulang sekolah seorang diri, menyebrang jalan seorang diri. Karena ya semuanya serba aman. Mereka sedari kecil sudah diajari bagaimana cara menyebrang, yaitu menunggu lampu berwarna hijau.

Tentu saja hal ini sangat berbeda dengan kondisi di Indonesia. Dimana pemilik kendaraan mewah berada pada posisi nomor 1 dijalanan. Bahkan moge moge itu bisa melenggang kangkung masuk ke jalan tol dengan gagahnya hiks … Pejalan kaki di Indonesia, tak hanya rawan dijambret, kulit menghitam karena polusi knalpot, tapi juga trotoar yang dipangkas karena digunakan oleh kendaraan untuk parkir bahkan pedagang kaki lima ….

Trotoar yang ramah bagi Tuna Netra

Hal ini sangat berbeda dengan di Jepang yang trotoar sungguh sangat luas dan mewah. Tak ada gangguan pedagang “sayang anak sayang anak”, tak ada gangguan parkir liar dan terlebih kulit tak harus menghitam karena hitamnya knalpot jalanan. Oya .. trotoar di Jepang pun sangat ramah bagi mereka yang tuna netra. Lihatlah … nyaris di semua trotoar yang pernah saya lewati, disana ada jalan berwarna kuning dengan tekstur kasar. Ini adalah jalur untuk mereka yang kehilangan indera penglihatannya. Sehingga dengan tongkatnya ia bisa meraba jalanan dan berjalan lurus tanpa takut ‘nyasar’ masuk ke jalan raya.

Apa sih yang Membuat Mereka Bisa Tertib banget???

Jiahahahahhaaa .. ini nih yang serem. Hukum di Jepang sangat tegas dan tidak ba bi bu … (katanya) …. hukuman bagi pelanggan lalu lintas adalah mulai dari harus bekerja sosial selama beberapa waktu yang telah ditentukan, hingga pencabutan SIM. Duheeee padahal ngebuat SIM di Jepang itu bukan perkara gampang. Selain test nya yg susah, disini juga ngga ada ‘sistem pertemanan atau keluarga atau sistem srepet duit’ yang bisa mempermudah keluarnya SIM.

Nah selain ke dua hukuman tersebut, masih ada sanksi yang lebih horor lagi … disebut sebut, jika seseorang terbukti secara bersalah dalam sebuah kecelakaan dan mengakibatkan seseorang atau lebih mengalami cacat … maka sang bersalah wajib menyantuni orang yang kemudian menjadi cacat tersebut, seumur hidup.

Hukuman yang tegas dan tidak main main inilah yang kemudian akhirnya membuat Jepang menjadi negara dengan lalu lintas yang sungguh tertib. Undang Undang yang jelas, Aparat yang tegas dan Tingkat SDM yang berkualitas 😀

Penulis : Catur Guna Yuyun ANgk – Nagano Jepang

Untuk info hotel di Jepang : Klik disini




2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: