Cuma Numpang Lewat di Ginza … Maharani boooo!!! Nggak Kukuuuu … (Seri 30 Jam di Tokyo)

Perjalanan kereta menuju ke Simbashi Eki

Hahahaa… seperti judulnya, … “Cuma Numpang Lewat di Ginza ,,, Maharani booo!!! Nggak kuku …”, begitulah awal dan akhir ceritaku di Ginza Tokyo Jepang ini. Jalan ngiter … cuci mata aje … terus balik dengan tangan hampa tanpa belanjaan – maharani booo alias mahal mahal buanget jiaaan πŸ˜€ Yach tapi meski hampa tangan, bukan berarti hampa cerita dong. Berikut kisahnya :

Perjalanan ke Ginza Tokyo

Dari Odaiba, Teh Ika mengajak saya menuju ke Stasiun Simbashi. Rencananya sih sudah mau balik ke Nishi Koyama, tempat misua sedang menunaikan tugas. Tapi, keluar dari kereta, Teh Ika bilang, “Kantorku ngga jauh dari sini, ya jalan kaki sekitar 10 menit kali yach. Di daerah Ginza sana”. “Ginza???”, balas saya yang wong ndeso ini dengan sumringah. “Mau dong ke Ginza … biar besok besok kalau ditanya temen, ngga malu maluin. Masak tinggal di Jepang tapi ngga tau Ginza, hohoohoo”, lanjut saya dengan katroknya. Dealll!!!

Jalan Menuju ke Chou Dori

Untuk menghilangkan lelah dan kantuk yang melanda, Teh Ika nyetarbak dulu. Maksud hati sih mesen kopi supaya mata kinclong kayak berlian. Eeeeee ternyata malah salah pesen, … pas disedot, lah kok rasa susu coklat??? Jiaaahhh … makin ngantuk aja dah hahahaa… alhasil mata justru kayak panda penyet … Nasib nasib … ya sudahlah … perjalanan di lanjutkan. (untuk lihat cerita tentang starbuck di Simbashi Eki, klik disini)

Musim Panas yang Indah di Ginza

Bulan Juli – Agustus merupakan musim panas yang membara di Jepang. Namun, beruntungnya saya … hari ini seharian cuaca rada meringis alias adem ayem dengan sedikit bekas gerimis. Meski di kamera hasilnya tentu bukan langit yang biru cerah, tapi ra popo lah .. daripada kulitku kebakar jadi kayak kepiting rebus, mending cuaca yang begini saja. Alhasil, acara jalan jalan menjadi sejuk ngga kepanasan. Oya … tapi meski udara sedang bersahabat, bukan berarti musim bukan lagi disebut musim panas … jadi, saya tetap bisa menikmati cantiknya wanita wanita dan gagahnya pria pria Jepang dalam balutan Yukatta – baju tradisional Jepang untuk musim panas.

Tradisonal dibelantara toko bule

Ya … Pantas roda ekonomi di Jepang berjalan lancar sekali. Karena budaya terus mengakar kuat dari generasi ke generasi. Lihatlah, Tradisi berpakaian trandisional yang ribet dan mahal pun, mudah sekali kita jumpai disini. Sepanjang mata memandang, disitu pasti terdapat wanita atau pria dalam balutan Yukatta. Jiahahahaaa… kayaknya susah ya, kalau kita di Indonesia, melihat orang jalan jalan pakai pakaian ala kartini dengan rambut gelungnya. Paling banter, liat orang pakai pakaian adat ya pas ada acara atau festival πŸ˜€ atauuuu kawinan hihiihi …

Tapi di Jepang … warganya sangat terbiasa untuk menggunakan pakaian adat semenjak mereka masih dalam buaian (Yoiii .. banyak loh balita balita ber-yukatta). Padahal harga kain untuk yukatta ini ngga murah loh, aku liat di toko baju yang ada di deket apartemen, seperangkat yukatta untuk anak perempuan usia 5 tahun harganya 1 juta rupiah dan untuk orang dewasa sekitar 3,5 juta rupiah (itu dengan kualitas kain biasa) .. kain yang lebih oke juga ada, tapi harganya jugaaaaa … eheeem ..

Style di Tokyo saat musim panas

Selain itu perlengkapan untuk menunjang kecantikan ber-yukatta juga bisa dibilang “Harus keluar uang yang ngga sedikit”. Misalnya, kalau udah pakai yukatta, kayaknya ngga matching banget kalau nggak pakai sendal kayu yang bunyi cetak cetuk (mirip suara dokar di Malioboro hohohoo – oya di Indonesia sendal ini juga sempet populer loh … namanya sendal gapyak .. waktu aku TK, suka sekali main pake sendal gapyak bersuara kuda ini). Selain itu juga akan lebih anggun, jika tas yang dijinjing adalah tas dari kain kimono alias tas dengan model dan motif khas Jepang (harga tas ini cukup mahal. Yang murahan aja bekisar 250ribuan rupiah, yang sedeng sekitar 1 juta rupiah dan yaaaa yang lebih mahal lagi tentunya ada).

Belum pula aksesoris untuk rambut. Hm … mahal kan??? Tapi demi kesinambungan budaya, rakyat Jepang seolah tak peduli dan justru bangga dengan ke-tradisionalan mereka itu. Hm … yaaa tentu bangga yach .. karena 1 set perlengkapan tradisional mereka itu juga ngga kalah sama harga tas bermerek dari negara barat seperti LV, Prada dll.Yaaa… karena kecintaan rakyat terhadap produk dalam negeri inilah, mungkin Jepang jadinya bisa maju sampai seperti ini.

Sebetulnya, kondisi ini sama dengan Indonesia, bahkan seharusnya Indonesia lebih keren … karena Indonesia punya banyak kain trandisonal yang jika sudah sampai di butik harganya bisa mencapai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Ketika dipakai pun, aduhai cantik dan menawannya orang yang memakai pakaian tersebut … Tapi,… bedanya … di Indonesia kain tersebut hanya mahal ketika sudah dirajut oleh para desainer terkenal … sedangkan pengrajinnya yang untuk semeter kain kadang harus memintal selama 1 bulan??? Hm … mengenaskan. Pendidikan yang kurang merata, mengakibatkan para pengrajin merasa cukup puas dengan bayaran yang ia terima.

Mejeng Dulu aaah … sebelah kanan : Teh Ika yang baik hati

Yayayaa .. jika seandainya, kain kain trandisonal Indonesia di jaga betul keberadaannya oleh Pemerintah, mungkin dari sektor kain saja, Indonesia sudah bisa mendatangkan wisatawan πŸ˜€ Hohoooo … hayo ngaku, beberapa dari pembaca juga pengen ke Jepang salah satu alasannya pengen merasakan suasana bertemu dengan orang orang berpakaian yukatta dan kimono tooh πŸ˜€

Ada Apa sih di Ginza ???

Oke setelah cerita tentang yukatta yang menawan .. sekarang waktunya cerita tentang, tempat macam apa sih Ginza itu??? Jadi selayang pandang saya, Ginza adalah salah satu kawasan di Tokyo yang kanan kiri jalanannya di penuhi oleh toko toko barang bermerek, khususnya produk Barat sana. Ya … toko itu seperti LV, Prada, Bvlgari, Hermes, Gucci, Swarovski, Fendi dan lain lain yang tembakannya ada di Mangga Dua Jakarta semua itu lah heheee …

Ginza … sebelah kanan bawah : lift modern tanpa kabel (maksudnya kabelnya kaga keliatan, jadi kayak kaca tabung terbang gitu)Β  yang difungsikan sebagai toko jam

Oya .. buat yang backpacker dan pengen mampir ke sini atau anda yang ke Japan tanpa Guide, ketika sudah sampai di kawasan Ginza, nanya aja sama orang, “Chuo Dori wa doko desu ka” … yup artinya Chuo Dori dimana ya … soalnya kawasan yang aku jepret jepret ini adalah di kawasan Chuo Dori namanya.

Kata orang sih .. kawasan ini harga sewa lahannya mahal ampun ampunan. Lebih tinggi daripada Fifth Avenue di New York sana. Hohooo .. cuma katanya loh yaaa .. soalnya aku kan belum pernah ke Amrik sono dan pula, aku juga ngga pake riset nih bilangnya. Cumaaa … distrik ini memang terkesan eksklusif banget daaannn saran saya sih kalau kesini pas weekend aja. Soalnya, di saat weekend, jalanan ditutup untuk mobil. Jadi pejalan kaki bisa bebas bergerak berjalan di jalan aspal.

Tapi .. kalau pun ngga bisa kesini pas weekend juga ngga papa sih … Jalan jalan di Ginza kapanpun, tampaknya akan tetap sama saja nyaman. Lihatlah trotoar yang sangat jembar alias lebar. Lebar trotoar yang ngga mungkin kita jumpai di Indonesia bagian manapun. apalagi Jakarta. Hehehee … udah lebar, bersih dan trotoarnya bagus pula yach, oya trotoar ini juga diperuntukkan bagi para pengendara sepeda ontel … Inilah bentuk kenyamanan berkendara ontel di Tokyo, punya jalur yang lebar, ngga usah takut keseruduk sama mobil patwal atau pun angkot mabok πŸ˜€

Oya .. selain jalanan yang kanan kiri berisikan barang berkelas, di Ginza juga ada banyak Mall yang bisa bikin mata melek karena harganya yang selangit biru di angkasa. Di sini tak kurang ada Mall bernama Seibu, yang terdiri dari 9 lantai. Jualannya tentu bermacam macam produk fashion lengkap dengan aksesorisnya. Lalu ada juga Printemps Dept Store, dan lain lain. Oyaa .. tapi jangan bayangkan sebuah Mall yang spektakuler yach .. karena di Jepang, umumnya Mall Mallnya berukuran kecil alias biasa aja. Tapi isiannya itu yang luar biasa mahal hoooohohoho…

perhiasan kitty yang lucuuu buanget

Kuliner di Ginza??? Hohoooo .. karena ketakutan kalau makan disini dompet bakal jebol … Jadiii … tak ada acara makan di Ginza hoohooo .. cukup beli onigiri aja di kombini atau toko 24 jam .. kalau di Indonesia yaaa 7eleven gitu .. Oya disini 7eleven juga bertebaran dimana mana loh πŸ˜€ lapaar dan pengen makan murah?? Masuk aja di kombini hohooho …

Penulis : Catur Guna Yuyun Angkadjaja – Ginza Tokyo Jepang
Untuk info hotel di Jepang : Klik disini




1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: