Menjajal Terbang Jarak Jauh di Langit Wonogiri

Hutan batu adalah artinya dalam bahasa Indonesia. Ya sesuai namanya dalam bahasa Jawa, kabupaten Wonogiri tanahnya terdiri atas hamparan batuan andesit dan gamping. Hampir setiap mata memandang ke berbagai penjuru kota, dapat dengan mudah kita jumpai formasi batuan andesit hitam berdiri menjulang dan memanjang. Berkat struktur tanahnya yang keras ini lembah sungai Bengawan Solo yang melegenda itupun berubah menjadi bendungan terbesar di jawa tengah, waduk Gajah Mungkur pun tercipta.

Cerita ini bukan mengenai Waduk Gajah Mungkur kawan. Melainkan cerita tentang bagaimana para penerbang paralayang maupun gantolle mampu terbang hingga berjam-jam lamanya dan berpuluh-puluh kilometer jauhnya tanpa bantuan mesin sama sekali. Rekor terkini kabarnya ditorehkan penerbang asal Korea. Dengan keahliannya yang diatas rata-rata penerbang negeri ginseng itu mampu menjelajah langit Wonogiri, melintasi persawahan Sukoharjo, menyusuri angkasa Sragen sebelum akhirnya mendarat di Kabupaten Ngawi 70 kilometer jauhnya dalam waktu 5 jam penerbangan.

Buat penerbang pemula seperti saya, bisa terbang sejauh dan selama itu seperti sebuah mimpi tapi tentunya juga menjadi sebuah dorongan yang kuat untuk mencobanya. Maka dipagi buta saat mayoritas orang-orang tertidur lelap saya memilih pergi ke bandara Soekarno-Hatta  Tangerang, sambil menggendong payung dalam tas besar dan menenteng tas pakaian, bersama atlet dari Jakarta; Gidion dan Lolo kami pun terbang menuju Solo Jawa Tengah. Solo dipilih karena memang dari situlah Wonogiri lebih mudah dijangkau.

Setelah satu jam pernerbangan, pesawat boeing 737-300 itu akhirnya mendarat di bandara Adi Sumarmo. Dengan membayar 60 ribu rupiah, taksi bandara mengantarkan kami ke toko outdoor milik Fendi di Jalan Monginsidi. Lokasi dimana tiga rekan kami dari Bali; Bima, Guruh dan Pak Toni juga  sedang mengarah dari Jogja. Dan dari depan hotel asia itulah kami pun akhirnya berangkat menuju Wonogori, menumpang mobil mas Bengkong, perjalanan satu jam melewati Solo baru dan Sukoharjo menjadi perjalanan yang nyaman.

Cuaca Tak Bersahabat Kawan

“Selama hampir 20 tahun terbang di sini, baru kali ini cuaca di langit Wonogori sangat tidak bersahabat”. Demikian ujar Gendon Subandono seorang penerbang paralayang senior mengomentari cuaca di Wonogiri kala itu. Dan bisa ditebak, hasilnya sangat tidak menyenangkan. Bila bukan karena hujan, penerbangan tak memungkinkan dilakukan juga karena angin berhembus dari belakang bukit Joglo yang menjadi launching area.

Ga heran diam menunggu, manyun atau pura-pura menyibukan diri dengan GPS dan Variometer menjadi satu-satunya kegiatan untuk membunuh waktu.

Selama dua hari di bukit Joglo, saya hanya bisa 3 kali mengangkasa. Dihari pertama, saya hanya bisa sekali terbang, itupun terpaksa “Boom out” alias mendarat darurat di sawah setelah dengan bodohnya saya mencoba mengejar payung kompetisi dengan teknologi terkini (Ozone R 10) sementara payung yang saya pakai hanyalah payung dengan klassifikasi rendah (Nova Artax, DHV 1-2) yang tentunya bukanlah lawan seimbang.

Nasib lebih baik terjadi di hari kedua, walaupun tak bisa seindah seperti yang diharapkan. Dengan segala kekurangan cuaca pada hari itu saya beroleh dua kali terbang J. Pertama, pengulangan percobaan pertama yang gagal sebelumnya dan Alhamdulillah meski hanya sekitar 10 menit penerbangan, namun bisa mendarat sempurna di landing area. Kejadian ini seakan menjadi penebus dosa atas kesalahan memalukan yang dilakukan sehari sebelumnya.

Barulah di penerbangan kedua, setelah seluruh pilot mengangkasa saya bisa mendapatkan penerbangan yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Menyenangkan, karena dalam penerbangan kedua saya mampu terbang dan bertahan lebih dari satu jam sebelum akhirnya dipaksa mendarat karena cuaca buruk dan menegangkan, karena terbang bersama lebih 50 pilot-pilot senior di satu lokasi yang terbatas pada saat mereka bertanding karena memang momennya saat itu adalah kejurnas paralayang menjadikan semua pilot terbang dengan sangat agresif, melakukan aksi apapun untuk menjadi yang terbaik.

PULANG DENGAN KEGAGALAN, BAGIAN SEBUAH PETUALANGAN

Pergi jauh dari Bogor di pagi buta ternyata berbuah masam, rencana meningkatkan rating dari penerbang pemula menjadi penerbang tingkat lanjut gagal karena cuaca buruk. Meski lelah dan tak menyenangkan karena hasilnya tak sesuai harapan namun saya berfikir mungkin itulah intinya sebuah petualangan. Kita tak pernah tahu akhir dari sebuah perjalanan.

Catatan kecil

Wonogiri memang kota kecil, tapi bila anda ingin menjajal langitnya silahkan catat datanya. koordinat bukit Joglo, lokasi launching ini ada di  S 07◦ 50’ 11.3” – E 110◦53’ 47.2” sedangkan landing area ada di lapangan bola area wisata waduk gajah Mungkur, koordinatnya S 07◦ 51’ 27.2” – E 110◦ 54’ 38.8”. ketinggian launching 651 m dpl dan ketinggian landing 165 m dpl, beda ketinggian 486 meter. Sedangkan jarak kaunching-landing yaitu 2,1 km.

bonnes vacances

Penulis: Jajang Dirajanagara (Produser News MNC TV) – untuk lebih bertanya lebih lanjut tentang artikel ini kepada Mas Jajang, silahkan drop comment dibawah ini, nanti akan disambungkan ke Mas Jajang pesannya.

Makasih ya Mas Jajang … blog mas jajang : http://rocknrapids.multiply.com




%d bloggers like this: