Eksplorasi Pantai Siung Jogja yang Eksotik

Bebatuan kapur umumnya tidak bisa disebut tinggi, bahkan tak sampai satu tali untuk menuntaskan jalur-jalurnya. Namun karena berdiri terpencar-pencar di bibir pantai menjadikannya karang yang sangat tajam serta licin, cukup membuat jemari perih hanya dalam waktu singkat dan yang terjelek angin pantai yang basah mudah menjadikan pengaman berkarat hingga membahayakan pemanjat bila tak berhati-hati.

Memutuskan bepergian dengan angkutan umum di musim liburan sekolah rupanya menjadi keputusan yang merepotkan. Apalagi bila kita tidak merencanakannya dengan baik, membeli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa ditebak, ditolak berbagai perusahaan otobis antar kota antar propinsi seakan menjadi awal yang buruk untuk memulai perjalanan panjang. Namun karena tak mungkin lagi mundur dan hitungan cuti sudah dimulai, mau tak mau cari pilihan yang ada. Semangat keterpaksaan  sepertinya menjadi pilihan yang mau tak mau mesti dilakukan.

Bus milik pemerintah itu tak bisa lagi dibilang muda, dengan cat terlihat kusam dan rontok di beberapa bagian tubuh rentanya, karatan di setiap sambungan dan sudutnya  serta kaca bolong dengan tambalan triplek di beberapa bagian seakan ingin mengatakan bila bus itu sepertinya tak layak lagi diberangkatkan apalagi dengan perjalanan jarak jauh yang akan kita tempuh. Jogja jack…. Jogja. Namun entah mengapa sang montir yang saya tanya saat menservisnya sesaat sebelum keberangkatan dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa bus DAMRI kebanggannya itu tak bisa dianggap remeh, dia bahkan berani menjamin perjalanan 12 jam ke depan pasti sampai di tujuan. Bodo deh yang penting nyampe, dalam hati.

Aman sih memang, tapi dengan tiket yang bisa dibilang sangat murah, 45 ribu rupiah, perjalanan Bogor-Jogja sepertinya menjadi malam yang sangat panjang dan melelahkan. Bayangkan saja, tubuh berkeringat kegerahan disaat macet, bocor di saat hujan dan pengap saat ada penumpang yang pura-pura bodoh dengan merokok di dalam bus, menjadikan perjalanan sebuah siksaan dibandingkan dengan rekreasi.

Namun semangat petualangan ternyata mengalahkan semuanya. Pagi-pagi saat matahari baru saja menghangatkan tanah, kami tiba di jogja dengan muka  hitam akibat debu, alhasil jerawat muda baru pun tumbuh mengiasi muka-muka lelah. Penyiksaan yang panjang itu tak juga berakhir, dengan menumpang bus trayek Wonosari yang juga murah sekitar 3000 rupiah, Jogja-wonosari ditempuh hanya sekitar 2 jam perjalanan kalo tidak salah ingat. Akhirnya Karena lelah yang amat sangat, kami menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan ke tempat dimana rencana cuti saya bakal dihabiskan.

Bikin Lupa Diri

Sepanjang perjalanan menuju pantai Siung sungguh membuat hati terhibur. Hamparan batuan kapur di kiri kanan jalan menyembul diantara pepohonan jati menjadi obat penghilang rasa lelah dan ngantuk akibat perjalanan yang menyiksa. Apalagi saat tiba di ujung jalan aspal hotmix itu, saya seperti terperangah saat melihat batuan kapur cokelat kemerahan berdiri beriringan, berjajar dan berundakan seperti menantang untuk ditaklukan. Seperti lupa akan penat, tak peduli lagi dengan makan siang, saya memutuskan membawa semua peralatan, dan sore itu 5 jalur sport di blok A langsung selesai dituntaskan tanpa banyak masalah. Padahal cape, ngantuk, lapar dan pegal sebelumnya menjadi penyakit kami selama di perjalanan.

Manjat, Makan, Tidur dan Manjat

Manjat, makan, tidur dan manjat lagi sepertinya hanya itu pekerjaan yang kami lakukan selama hampir satu minggu. Hanya pergi dari satu tebing ke tebing lain membuat sejumlah mahasiswa kehutanan UGM yang saat itu juga numpang tidur di rumah mbah Wasto tempat kami menginap keheranan.

Mereka sempat bertanya, bagaimana empat orang asal Bogor yang ngakunya sedang liburan ini tak pernah mencoba pergi ke tempat lain selain hanya manjat dari jalur ke jalur dan dari tebing-tebing yang berderetan di sepanjang pantai Siung saja. Ya… mungkin karena  memang tekad kami datang ke Siung hanya untuk menuntaskan jalur-jalur sport yang ada membuat kami (dengan sangat menyesal) mengacuhkan berbagai pilihan lokasi wisata yang mereka tawarkan. Padahal mereka sudah sangat baik lho menawarkan motornya untuk kami pinjam barang sebentar untuk sekedar bepergian keluar melihat pemandangan selain batu, batu dan batu.

Oh iya, Saat kami datang di pertengahan tahun 2006 (kalo tidak salah, maklum dah lama) di pantai Siung baru ada 60 jalur sport dengan tingkat kesulitan bervariasi. Namun  karena sejumlah jalur sangat sulit dituntaskan dengan tingkat kesulitan diatas 5.13 (jalur sangat sulit) dan diantaranya berdiri di tubir pantai menjadikan pengaman yang sudah terpasanag tak mungkin lagi digunakan. Makanya ga heran, hampir satu minggu disana kami hanya mampu menuntaskan 40 jalur saja. Dari  mulai tingkat kesulitan moderat (5.9) hingga kelas sulit (5.12) dari yang panjang lintasannya hanya 5 meter hingga 13 meteran.

Saat saya membuat tulisan ini, konon di Siung  sudah ada 120 jalur sport, dengan perbandingan satu minggu 40 jalur, berarti bila anda ingin menuntaskan semua jalur yang ada setidaknya ambilah cuti 3 minggu tanpa pergi dan melakukan aktivitas lain kecuali hanya untuk manjat, makan, tidur dan manjat.

Jalan menuju Tebing Siung

Tebing Siung masuk dalam wilayah DI Yogyakarta. Tepatnya di desa dusun dawet purwodadi  kecamatan tepus kabupaten gunung kidul atau sekitar 70 km tenggara kota Yogyakarta. untuk menjangkaunya sangat mudah. Pertama tentu kota Jogja menjadi persinggahan utama, kemudian terminal Wonosari menjadi tempat transit dan terakhir menyewa angkutan atau naek ojeg bisa menjadi pilihan. Yang penting sesuaikan dengan kantong dan barang bawaan anda. Dan yang paling penting di ingat, Jangan lupa untuk memesan angkutan penjemput pada hari kepulangan anda karena tidak selalu ada angkutan datang ke lokasi ini.

Untuk menginap anda bisa numpang di rumah Mbah Wasto. Rumah dibibir pantai ini juga memiliki warung sehingga untuk makan tak usah repot-repot masak, tinggal pesan saja menu yang anda mau setiap hari maka hidangan tersaji pada waktunya. Mungkin untuk sedikit menghemat waktu, sebaiknya anda makan siang di kaki tebing saja dengan membawa kompor untuk memasak sehingga anda tak perlu bolak balik buang-buang waktu pulang ke rumah si mbah.

Jadi bagaimana, tertarik menghabiskan liburan panjang anda? Tak perlu jauh-jauh ke Thailand untuk memanjati jalur panjat dalam jumlah banyak di tepian pantai karena kita punya tebing Siung yang menanti dieksplorasi. Selain murah, anda juga tentunya bisa berbagi rezeki dengan saudara-saudara kita di pedesaan. Selamat bertualang dan temukanlah hal-hal baru yang akan mewarnai hidup anda.

Penulis: Jajang Dirajanagara (Produser News TPI) dan anggota klub paralayang papatong dan hobi panjat – untuk lebih bertanya lebih lanjut tentang artikel ini kepada Mas Jajang, silahkan email ke [email protected] atau ke comment, nanti akan disambungkan ke Mas Jajang pesannya.

Makasih ya Mas Jajang … blog mas jajang : http://rocknrapids.multiply.com

foto foto : dok dari mas Jajang




%d bloggers like this: