Tetap sama sejak se-Abad silam, Tak Kie Kopi Es Jakarta

“Ketemu dimana?”, “Di … (tiiiittt sensor) aja, sambil ngopi kita”. Lalu di hari, waktu dan tempat yang sudah disebutkan para profesional muda dan atau sekawanan muda mudi tadi pun bertemu di kedai kopi franchise merek ‘bukan anak negeri’. Biasanya terletak di Mall Mall atau Gedung gedung perkantoran yang strategis.

Hm,… budaya ‘ngopi’ memang diakui tak diakui mulai berlangsung di Jakarta setelah serbuan cafe ‘merek’ Londo membanjiri negeri. Cafe yang menjual aneka macam kopi dan diperlengkapi dengan sofa yang empuk plus ruangan ber AC, pun serta merta nyaris selalu penuh dengan muda mudi dan para profesional muda. Ada yang lagi buka laptop dengan wajah serius ada yang lagi cekakak cekikik dengan gerombolannya selama berjam jam. Bahkan saya sendiri jika sedang nongkrong bersama kawan, minimal membutuhkan waktu 2 jam duduk santai disana.

Kedai Kopi Asli Indonesia berusia hampir se-abad di Jakarta

Tapi tau nggak sih, jika ternyata budaya ngopi itu sudah ada sejak dahulu kala di kalangan opa oma kita. Maklum, Indonesia kan termasuk salah satu penghasil kopi terbesar dunia. Yang setahu saya, salah satu penghasilnya, Pagaralam di gunung Dempo Sumatra sana yang dikelola secara tradisonal oleh warganya yang bersahaja, banyak langsung diborong oleh pengepul kopi dari negeri luar dan ketika kembali ke Indonesia sudah dalam bentuk harga mahal. Pagaralam sendiri? Tak terdengar suaranya di telinga kita sebagai “Kopi Pagaralam”.

Lagi lagi miris seperti Teh Indonesia. Tapi sudahlah di artikel ini saya tak ingin membahas miris tak miris. Melainkan tentang keberadaan sebuah kedai kopi kuno di Jakarta yang umurnya hampir seabad. Atau tepatnya sudah berdiri sejak tahun 1928 ketika Indonesia masih di Jajah Belanda. Tak Kie Kopi Es namanya.

Terletak di kawasan Pecinan – Pancoran Mas Glodok Jakarta Barat, kedai ini tak pernah mengubah wajah. Baik tampilan kedai hingga racikan resep dan kualitas kopi. Bahkan kursi, meja dan meja kasir, bisa dibilang sebagai saksi sejarah yang masih setia diduduki oleh para pelanggan yang telah berganti dari generasi ke generasi.

Rasa Kopi Tak Kie

Ketika saya coba, kopinya yang bernama Es Tak Kie Kopi benar benar dahsyat!!! Menggunakan racikan dari 5 kopi asli Indonesia dengan komposisi tertentu dan di seduh secara tradisonal yaitu direbus, benar benar akan membuat anda pecinta kopi yang tak terlalu tajam, langsung jatuh cinta.

Rasa kopi disini memang sangat khas dan beda dengan tempat lain. Jika beberapa khusus menyediakan Kopi dari daerah tertentu maka disini kopi kopi dari macam macam daerah di blend jadi satu dan disajikan dalam 1 gelas bening. Alhasil, rasa kopi disini selain tetap mempertahankan rasa kopi yang pahit, namun ia cenderung manis dengan asam yang sangat segar. Apalagi kopi disini disajikan tanpa ampas sehingga bisa dinikmati sampai ke tetes terakhir. Hm …

Disini saya mencoba Es Tak Kie Kopi dan Es Kopi Susu. Wah Es Kopi Susu-nya juga dahsyat. Kesederhanaan segelas kopi yang ada disini benar benar membuat saya makin mencintai kedai kedai kopi dengan dagangan ‘Kopi Asli Indonesia’.

Perbedaan Suasana Kedai Kopi Tradisional dan Modern

Buka pukul 7 pagi dan tutup jam 2 siang, kedai kopi ini nyaris tak pernah sepi pengunjung. Rata rata pun pelanggan adalah pelanggan setia yang akhirnya akrab satu dengan yang lain. Dan inilah yang menurut saya menjadi titik perbedaan yang paling jelas antara kedai kopi tradisional dan modern yang saya lihat.

Sebagai pecinta kopi, saya sudah menyoba minum di beberapa kedai tradisional dan modern. Perbedaannya sama, jika di kedai modern kita dapat menikmati quality time baik sendiri, bersama teman dan atau kolega dengan kursi empuk dan camilan yang agak ke bule – bulean. Namun jika kita masuk ke kedai tradisional maka yang akan kita dapat adalah nuansa kekeluargaan yang akrab.

Jika di kedai modern kita mesti datang beramai ramai untuk dapat becanda, maka di kedai tradisional, datang sendiri pun kita akan langsung dapat akrab dengan orang lain. Ya mereka rata rata memang datang sendiri sendiri lalu saling bergabung secara alami dengan pelanggan yang lain. Dari tidak kenal menjadi kawan, dan yang sudah berkawan bisa menjadi sahabat bahkan klien untuk menjalin hubungan bisnis.

Semua perbedaan ini bisa jadi karena kedai kopi tradisional biasanya langsung dipegang sendiri oleh sang pemilik. Seperti di Tak Kie Kopi Es ini, Pak Latif Yunus selalu ada untuk bercengkerama bahkan melayani langsung pembelinya.

Selain Kopi disini ada aneka makanan seperti Nasi Campur, Nasi Tim, Nasi Hainam, Bubur ayam dan aneka makanan ringan lainnya seperti onde onde. (Ups maaf foto foto cuma sedikit. Saya waktu kesana gak bawa kamera, ini juga pakai kamera HP)

Alamat : Tak Kie Kopi Es. Jl. Pintu Besar Selatan III No 4 – 6 Jakarta Barat. 021 6928296

penulis : catur guna yuyun ang




3 comments

  • gw juga tergila-gila nih sama es kopi-nya Tak Kie ini nikmat banget & suasananya akrab & terbuka jadi bisa sambil teriak pesan jajanan lain dari jendela yang terbuka lebar, numpang tanya setelah Gloria terbakar Tak Kie masih buka kan Yun?

  • @bestari : masiih buka bess … hohooo buset aku baru baca ni komen .. udah kadaluarsa bangetya … hahahaa .. iyah nih kopi enak buanget

    @parahita : waduh kalau itu saya ngga tau ya hehahaa.. kayaknya enggak deh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: