Temari, Bola Lilit Sulam – Mainan Tradisional Jepang

Pada 23 Agustus 2010 kemarin saya pergi ke Japan Foundation di Jakarta. Ternyata sedang ada pameran Temari, yaitu bola lilit sulam hias Jepang. Waaaa,… sugoi!!! Saya benar benar terheran heran dengan ketrampilan / teknik yang tinggi dalam menyulam bola ini. Indah sekali di lihatnya. Saya ingin sekali belajar cara menyulam, tapiii ternyata saya sudah terlambat, workshop baru saja usai beberapa hari lalu. Tapi sebagai gantinya saya pun mendaftar untuk mengikuti kegiatan belajar seni origami pada 30 september 2010 mendatang.

Apa itu Temari?

Secara arti, kata Temari diambil dari kata Te yang berarti Tangan dan Mari yang artinya Bola. Jadi secara utuh saya mengambil kesimpulan sendiri, Temari bisa diterjemahkan sebagai Bola Tangan, entah bola yang dibuat dengan tangan atau bola yang dimainkan dengan tangan (bukan bola kaki/ bola sepak).

Sejarah Temari

Jepang adalah sebuah negara yang sangat menjunjung tinggi tradisi nenek moyang mereka. Bahkan Temari sendiri yang sebenarnya sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Jepang karena sudah tergeser dengan bola bola modern yang terbuat dari plastik dan karet, kini kembali digiatkan.

Awalnya, permainan yang sarat keindahan ini, di masa lalu dibuat oleh dayang dayang istana dan digunakan sebagai alat permainan di lingkungan istana, namun berjalannya waktu temari masuk dalam kategori ‘Mingei’ yaitu kerajinan rakyat. Kerajinan yang dibuat oleh kaum Ibu atau Nenek (bukan seniman) untuk tujuan permainan kepada anak atau cucu usia balita mereka.

Temari sendiri ada beberapa jenis, seperti, kukemari dari Kota Hachinohe di Aomori. Kukemari ini dibuat dari gumpalan kertas yang dibalut dengan kain dan disulam dengan benang warna-warni. Jenis lainnya, tsugimari yang dihiasi dengan kain dan dijahit sehingga membentuk pola garis. Sedangkan, gotenmari dari Yamagata terbuat dari gumpalan kapas yang dibalut dengan benang.

Kepopuleran Temari di kalangan rakyat populer di tahun 1800 dan mulai tergeser oleh bola bola karet modern pada tahun 1950 an. Namun meski demikian, keraijnan temari sudah ada sejak ratusan (500) tahun yang lalu. Kini temari kembali diproduksi namun bukan sebagai permainan balita, melainkan sebagai souvenir di beberapa wilayah di Jepang.

Temari sebagai lambang pengharapan

Wah lagi lagi ini judul saya karang sendiri, heheheee… karena di era modern temari banyak digunakan oleh para orang tua untuk meletakkan secarik kertas kecil di dalam temari. Dimana, temari modern ini dibuat dari dua buah gabus berbentuk setengah lingkaran. Lalu kertas tersebut dijepitkan diantara ke dua gabus. Biasanya, kertas tersebut berisikan harapan harapan dan doa sang Ibu kepada anaknya.

Selain untuk meletakkan secarik kertas juga untuk meletakkan lonceng kecil sehingga dapat menimbulkan suara suara gemerincing ketika bola bergerak.

Alamat : The Japan Foundation,Jakarta
Gd.Summitmas I lt. 2-3 . Jl. Jend.Sudirman kav.61-62 Jakarta Selatan.
T.021-520-1266




%d bloggers like this: