Bosan dengan bentuk parsel yang begitu begitu saja dari tahun ke tahun? Mungkin tahun ini pembaca wisataseru boleh melirik parsel kreasi Ibu Evie yang menggunakan teknik Furoshiki. Apa sih Furoshiki? Nah yang belum tau, mari masuk ke dalam. Knok knok knok …. … Sa, o-hairi kudasai …
Furoshiki adalah???
Furoshiki merupakan budaya mengemas, membungkus dan atau menyimpan barang barang di negara Jepang. Permulaanya sendiri yakni pada abad ke 17 atau tepatnya ketika zaman Edo, furoshiki digunakan di tempat tempat pemandian umum sebagai kain pembuntal pakaian dan perlengkapan mandi. Namun pada perkembangan berikutnya, furoshiki digunakan sebagai buntelan seserahan atau hantaran pada saat pesta pernikahan dan saat ini justru sudah menjadi semacam seni yang beberapa kali di perlombakan untuk melihat keahlian seseorang dalam mengkreasi kain.
Furoshiki sendiri adalah kain persegi empat bermotif yang nantinya di saling ikat sehingga menyerupai buntelan. Kain yang digunakan untuk seserahan biasanya bermotif burung bangau, kipas, ombak dan pohon cemara. Kepercayaannya sih, gambar gambar tersebut akan membawa berkah dan kebahagiaan bagi penggunanya. Namun untuk hantaran biasa, menggunakan jenis kain apa pun juga oke, yang penting cantik.
Furoshiki = Go Green
Hal yang paling penting dari Furoshiki ini adalah mendukung Go Green, melalui multifungsi-nya kain yang digunakan sebagai pembungkus. Ya, karena biasanya kain yang digunakan adalah kain yang bagus, maka penerima hantaran bisa memanfaatkan kain pembungkus tersebut untuk berbagai kegiatan. Misalnya, kain ini dapat di lipat lipat sehingga menjadi pembungkus buku, atau di pilin pilin sehingga menjadi tas ransel dan atau tas jinjing yang cantik.
Bahkan kain Furoshiki ini dapat digunakan untuk menjadi scarf, kerudung dan atau taplak meja. Asal kreatif, kain ini dapat menjadi berbagai macam fungsi. Nah, dari sini kita bisa lihat yach, visi misi ramah lingkungan yang di emban oleh seni membungkus ala Jepang ini.
Di Indonesia Furoshiki mulai di cintai
Seni membungkus dengan kain bermotif Jepang ini di Jakarta sudah mulai digunakan untuk membungkus kemasan hantaran atau biasa kita sebut parcel. Pengusaha yang mempopulerkannya adalah Ibu Evie. Pengusaha kue dengan merk Janice ini memang selalu kreatif, dimana tiap tahun selalu merubah bentuk tampilan parselnya. Kini ia menggunakan teknik furoshiki.
Tak disangka penjualan meningkat cukup tajam sejak ia menggunakan teknik furoshiki ini. Hampir semua pelanggan mengaku, ingin memberikan sesuatu yang berbeda dari tahun yang kemarin dan nilai ekonomis yang ditimbulkan, yaitu kain dapat digunakan kembali oleh si penerima parcel.
Bu Evie dengan bendera Janice-nya ini menerima pesanan kue kering, basah dan pudding. Yang jelas bagi saya, saya baru mencoba kue keringnya dan buat saya kue Bu Evie masuk dalam kategori ‘rekomendasi’. Karena, mulai dari Kastengelnya yang asli limpahan keju, sehingga menghasilkan rasa asin dan gurih yang khas keju. Kemudian masih ada choco chip yang coklatnya terbuat dari asli coklat bubuk dan batangan yang kemudian diberi sedikit tambahan capucino dan kacang mede. Nyaam…
Nastar-nya? Ow jangan ditanya, gurih dengan asin margarin, asam manis nenas dan kombinasi bahan adonan yang terasa sangat pas di lidah. Pun dengan Putri salju yang kejunya berasa sekali. Hm,… saya membayangkan, kue keringnya aja sudah mantab seperti ini apalagi puddingnya yang secara kasat mata tampak sangat mengiurkan? Kapan kapan mesti coba!!! Untuk harga kue kering yang mantab ini di bandrol dari hraga 40 ribu – 110 ribu / toples. Untuk kue basah dan pudding, mulai dari 165 ribu – 250 ribu / ukuran 22 – 24cm. Jika ingin dikemas dengan gaya furoshiki, hanya tambah 10 ribu – 40 ribu tergantung besar kecil kain.
Mengapa cocok untuk hantaran Ramadhan?
Alasan pertama karena berisi kue dan kue-nya menurut saya sangat enak dan layak untuk dijadikan hantaran kepada siapapun termasuk kaum eksklusif. Ke dua karena kain dapat dibentuk kembali menjadi tas cantik untuk meletakkan alat alat sholat, atau digunakan sebagai taplak meja yang cantik untuk ruang tamu, bahkan dapat digunakan sebagai kerudung dan scarf yang cantik. Jadi, tentunya bingkisan lebaran kita akan memiliki nilai lebih dan pastinya bisa dinikmati dan bungkusnya dapat digunakan untuk keperluan lain.
Pesan antar Parsel Lebaran melalui wisataseru
Buat yang rumahnya jauh dari Bintaro dan mau pesan antar, wisataseru akan membantu anda. Dijamin pesanan akan sampai rumah dalam kondisi cantik. Namun dengan nilai pembelian di atas Rp. 500.000,-. Nanti akan kami beri daftar harga secara lengkap dan dijamin harga sama dengan harga Janice cookies & cakes. (pesanan untuk lebaran maksimal tanggal 7 september)
Alamat : Janice cookies & cakes, Ruko Multiguna Blok 3a no 10G. Bintaro Jaya Sektor 3a. Telp 021 73692420
penulis : caturguna yuyun angkadjaja







Leave a Reply