Mengulang Kisah di Gunung Parang – Purwakarta

Mas Jajang Memimpin pemanjatan di Gunung Parang - Tebing dalam cerita di 'Bilangan FU'

Sebenarnya cerita ini sudah agak lama kawan (semoga belum basi), cerita saat saya mengajak dua orang teman (Batak dan Bim) menghabiskan malam tahun baru 2008-2009 dengan cara beda. Yaitu “Manjat di Gunung Parang”.

Senja itu, jalan mampet dimana-mana. Menjelang pergantian tahun setiap orang sepertinya punya rencana menghabiskan waktu untuk pelesiran. Supaya tidak menderita karena macet kita bertiga ngaspal jalanan dengan sepeda motor meninggalkan sempur, Bogor.

Tebing Parang yang Indah

Memilih Cariu-Jonggol sebagai jalur alternatif. Jalan yang kami lewati memang lebih sepi dibandingkan jalur puncak waktu itu tapi di sepanjang jalan truk dan bus hadir seperti raja jalanan mendominasi kiri kanan jalan tapi dibalik keperkasaannya kendaraan yang dekat dengan ekonomi rakyat ini pasti mendadak ngeden dan merayap setiap bertemu tanjakan. Tersiksalah kami kaum penggembala motor  yang terpaksa ikut merayap di belakang asap knalpotnya yang hitam.

Meski tidak terlalu nyaman, namun nasib saya dan Bim lebih baik dibandingkan dengan penderitaan Batak. Karena motor bututnya sudah busuk. Bila digas, motor tahun 80-an awal itu macam mesin potong rumput yang bercampur suara kentut. Sebenarnya melihat tampangnya saja sejak mau berangkat, miris kami dibuatnya. Ga heran, sepanjang jalan berkali-kali Batak SMS hanya untuk kasi tahu kalo “belalang tempurnya” mendadak ngambek. Mulai rante copot, nyala lampu terang tenggelam sampe habis bensin. Maklum saja, speedo meter dan kawan-kawanya sudah lama almarhum dimakan umur.

Kekhawatiran kami terhadap Batak semakin bertambah, karena Batak yang “Remis” akronim dari remaja mistik beberapa kali berteriak melihat makhluk halus di sepanjang hutan sekitar waduk Cirata, bikin Bim yang saat itu baru berumur 15 tahun jadi takut diboncengan saya.Dibalik perjalanan yang melelahkan, akhirnya sebelum tengah malam kami tiba di desa Cihuni.

MANJAT DI TOWER II

Gunung itu tinggi menjulang. Dengan angkuh tiga menaranya berdiri menembus langit. Batuan andesit yang hitam legam tersengat matahari pagi semakin mengintimidasi pemanjat yang kurang persiapan seperti Bim.

Sedikit bercerita saja kawan, kalo Bim usianya termuda diantara kami bertiga. Saat saya tanya usianya, ternyata ia belum lahir sejak pertama kali saya menekuni dunia manjat lebih 16 tahun lalu. Usia muda ternyata identik dengan “nekad”. Bagaimana tidak, saat berangkat ia hanya membawa uang 15 ribu rupiah, tanpa makanan dan air. pakaian pun hanya satu potong baju ganti. Sebagai pemanjat bahkan ia hanya membawa sepatu panjat dan chalk bag tanpa harness yang seharusnya menjadi peralatan pribadi. Itulah kenapa Bim disebut pemanjat kurang siap.

Untung saja, saya membawa bekal dan peralatan lebih sehingga anak SMA ini tetap bisa ikut tanpa harus menderita kehausan apalagi kedinginan.

Kembali ke cerita kita soal manjat kawan. Saat kami tiba di kaki tebing, kami sepakat sayalah yang memimpin dan memulai pemanjatan. Awalnya dengan meyakinkan saya mampu meraih setiap cacat batuan dengan mudah dan meyakinkan, namun makin panjang tali menjuntai, makin lemah kaki mendorong, makin menegang jari menggenggam, makin memburu napas ini, makin bercucuran keringatnya makin melemah pula kemampuan yang dulu saya punya.

12 tahun sejak terakhir kali saya memanjatnya, ternyata tubuh ini mulai menua dan menunjukan kelemahannya. Setelah pitch pertama, saya menyerahkan tongkat memimpin pemanjatan kepada Batak. Hanya bermodalkan pengalaman, sesekali teriakan saya mampu membantu kebuntuan Batak untuk menambah ketinggian.

Hingga maghrib pun tiba, namun kami masih dibawah sarang rajawali, sebuah teras cukup besar di ketinggian 300 meter untuk kami beristirahat. Dengan memberikan gambaran penderitaan yang bakal kami lewati malam itu bila tidak bisa mencapainya. Batak dan Bim ngotot manjat dengan sisa tenaga yang mereka punya dengan bantuan sinar lampu.

Bagiku tidur di sarang rajawali, menjadikan istirahat malam itu berlalu dengan cepat. Meski Batak dan Bim ribut menyaksikan serunya pesta kembang api dari kejauhan sebagai perayaan pergantian tahun, bagiku memilih tidur pulas sangat jauh lebih menyenangkan. Namun karena harus berbagi jaket dengan Bim, menjelang fajar badan yang didera sakit karena cape ini mulai menggigil merasakan hawa dingin yang menggigit. Hingga akhirnya mentari terbit menandakan bahwa pemanjatan belum pula usai.

setelah mengawali pemanjatan dengan santai, menjelang tengah hari kami bertiga sampai di puncak. Berdiri 400 meter dari kaki tebing, semburat kegembiraan terpancar dari wajah Batak dan Bim. Bagi mereka hari pertama di tahun 2009 sangatlah istimewa, karena hari itu pula Batak dan Bim bisa mewujudkan mimpi mereka mencapai puncak Gunung Karang atau Gunung Parang (dalam bahasa sangsekerta) untuk pertama kalinya. Bagi saya hari itu juga istimewa karena bisa mengantarkan mereka meraih mimpinya.

KEMBALI PULANG

Khawatir terjebak malam di tengah penurunan, tak perlu lama kami merayakan keberhasilan. Mencoba kembali pulang dan decending atau turun tebing adalah pilihan. dengan pengakuan jujur Bim yang selama karirnya sebagai pemanjat belum pernah belajar “Rapelling”. Akhirnya saya kembali memutuskan turun paling akhir, berjaga-jaga memastikan Bim turun dengan benar.

Akhirnya setelah sekitar 6 jam turun perlahan, bersamaan kumandang adzan maghrib di perkampungan, kaki-kaki yang kelelahan ini kembali menjejakan diri di tanah. dengan gontai 3 anak Bogor ini kembali ke kehidupan nyata. Sama seperti 12 tahun lalu saat diri ini terakhir kali meraih puncak gunung Parang bersama teman-teman berbeda.

Penulis: Jajang Dirajanagara (Produser News TPI) – untuk lebih bertanya lebih lanjut tentang artikel ini kepada Mas Jajang, silahkan email ke [email protected] atau ke comment, nanti akan disambungkan ke Mas Jajang pesannya.

Makasih ya Mas Jajang … blog mas jajang : http://rocknrapids.multiply.com




%d bloggers like this: