Marble Pattern in My Steak @ Ishiyaki Nagano

I love to eat. Maka dimanapun saya berada, saya pasti akan selalu hunting kuliner enak. Hm,… jadi jangan pernah bertanya soal tabungan, karena saya dapat menghabiskan uang untuk memenuhi hasrat menyantap. Apalagi ketika hati sedang susah, saya mesti makan makanan terenak untuk menebus kekesalan hati. So, Jepang adalah tempat yang paling cocok bagi saya. Tempat yang membuat hati saya selalu senang karena hampir semua makanan yang ada di sini, enaaaak!!! Seperti apa rupa dan bentuk makanan di Japan? Yuk, mari saya perlihatkan pada anda.

Hari ini cuaca panas sekali di Japan, mencapai 37 derajat celcius. Cuaca yang cukup membuat mood berkurang. Yamagizi San, keluarga saya di Nagano, segera mengajak makan makanan kesukaan saya yaitu steak. Kali ini Yamagizi membawa saya ke Ishiyaki steak ZEI Nagano.

Apa itu Ishiyaki?

Ishiyaki adalah style of Japannese Cooking. Dimana artinya kurang lebih adalah ‘batu panas’. Sebuah batu panas (batu yang dipanaskan hingga memiliki suhu ratusan derajat celcius) digunakan sebagai pengganti grill dan teknik BBQ. Tak ada yang tahu sejak kapan teknik ini mulai ada di Jepang, tapi yang pasti metode memasak dengan batu panas ini sudah ada sejak dahulu kala dan biasanya digunakan oleh para nelayan ketika sedang berlayar mencari ikan.

Ishiyaki sendiri mengisyaratkan kita untuk memasak sendiri daging yang ada dihadapan kita. Caranya pun sangat mudah, letakkan bawang bombay diatas batu panas, fungsinya sebagai alas daging supaya daging tidak matang semua karena terkena panas batu. Potong potong sesuai selera dan letakkan daging yang belum akan disantap di atas bawang bombai dan sebagian yang hendak kita makan di batu panas. Bolak balik hingga batas kematangan yang kita inginkan.

Jika suka bisa ditambahkan sedikit garam dan atau saus yang disediakan oleh pihak resto. Teknik memasak dengan batu panas ini sendiri akan menghasilkan sensasi yang sangat berbeda dari grill dan atau BBQ. Seperti hari ini saya memesan daging sirloin. Dengan di masak ala ishiyaki, sirloin yang ada dihadapan saya pun akan tetap terasa segar dan sangat juicy. Teorinya, daging yang dimasak di atas batu ini, sari patinya tidak tercemar oleh arang maupun minyak, so keadaanya tetap segar dan sari patinya tetap mengumpul sempurna.

Namun ada syarat jika ingin memasak dengan teknik ishiyaki ini, yaitu bahan baku yang digunakan harus segar. Maka, akibatnya, jika steak biasanya diiris dengan menggunakan pisau, maka disini karena kualitas daging yang benar benar yahud, saya dapat memotong steak dengan sumpit saking empuknya. Nyaaam….

Kobe di Jepang

Selain Ishiyaki, makanan favorit saya di Jepang adalah daging Kobe. Yaitu daging sapi nomor 1 di Jepang yang menurut rumor, sapi sapi ini dipelihara secara khusus. Dimana setiap hari dimanja dengan pijatan pijatan, musik dan sake. Wow,… saking dimanjanya sapi sapi ini tak boleh bergerak alias di suruh tidur saja supaya di badannya tidak membentuk otot. Hasilnya? tentu daging sapi yang sangat juicy dan sangat sangat empuk. Ciri ciri daging kobe sendiri adalah daging yang dipenuhi oleh marble pattern yang hampir menyeluruh. Namun marble ini bukanlah lemak jahat, melainkan justru lebih rendah kolesterol dibanding dengan lemak pada daging biasa.

Ups, tapi foto berjudul TOP Main Course diatas, bukan foto di Ishiyaki yach. Beda resto, tapi saya lupa nama restonya. Demikian juga menu dessert dibawah ini, saya lupa nama resto-nya. Maklum belum fasih berbahasa Jepang, jadi masih suka lupa lupa nggak inget.

Dessert di Jepang

Untuk dessertnya? Jangan pernah tanya, Jepang adalah tempatnya cake super duper yummy. Dalam sekali makan saya bisa menghabiskan 2 porsi dessert sekaligus. Soal harga? Harga hidangan steak di Jepang mulai dari 200 ribu jika di rupiahkan. Sedangkan untuk dessert yang membuai lidah, sudah bisa didapatkan hanya dengan mulai 30 ribu rupiah perporsinya.

Ini adalah harga standart makanan di Jepang. 150 ribu untuk hidangan utama dan 30 ribu untuk hidangan penutup. Memang cukup menguras gaji karena memang tak ada makanan murah disini, namun jika menilik dari kualitasnya, harga ini tentu lebih murah daripada di Indonesia. Hm,… love eat? Go to Japan!!!

Pengalaman oleh Anggun Nugroho, wiserukers di Nagano Jepang. Ditulis kembali oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja

Booking Hotel di Jepang, Klik Disini.





%d bloggers like this: