Gado Gado Direksi; Pelanggan Papan Atas di dalam Papan Triplek

Makanan apa yang enak dimakan pagi hari, siang dan atau malam hari? Kalau saya jawabannya gado gado!!! Entah mengapa, menu yang satu ini begitu memikat hati saya. Bahkan ketika napsu makan melemah, hidangan yang saya cari pasti makanan berisi sayur bersaus kacang ini. Salah satu penjual gado gado enak, menurut saya adalah gado gado direksi dikawasan pancoran glodok jakarta barat.

Sejarah Nama Gado Gado Direksi

Pertama, saya mau cerita soal asal usul nama dulu. Nama Gado Gado Direksi ini sangat kontras dengan kenyataan bentuk warung yang terlihat di depan mata. Nama ‘direksi’ yang mewah ternyata hanyalah sebuah lapak mepet tembok yang lebarnya tak mencapai 1 meter dengan panjang kira kira hanya 4 meter. 1×4 meter luas warung? yes, that’s right.

Lantas mengapa ‘direksi’? Ini yang memberi nama adalah para pelanggan sendiri. Biasa, warung warung jaman dahulu memang mayoritas tak memiliki nama. Sehingga ketika orang bertanya, “Yang mana sih?”, “Itu loh yang … (bla bla bla)”. Begitu pula dengan gado gado ini. Berangkat dari sebuah lapak tanpa nama, tak disangka gado gado ini menjadi kesukaan para direksi Bank Indonesia.

Daripada kesusahan memberi informasi lokasi gado gado, lantas para pelanggan spontan, “Itu loh gado gado kesukaannya para direksi BI”. Lama lama menyusut dan tinggal, “Itu loh gado gado direksi”. Sip, dan jadilah nama itu kini nempel di dinding sepetak warung biru ini. Gado gado Direksi.

Apa bedanya gado gado direksi dengan gado gado lainnya?

Dari tampilan sih sama. Sayur sayuran yang kemudian di siram dengan kuah kacang plus bonus krupuk udang dan emping. Namun, dari segi rasa, anda mesti membuktikan sendiri kelezatannya.

Bumbu kentalnya ini terasa begitu kuat di lidah. Harum kacang pilihan – nya bercampur sempurna dengan air asam, perasan jeruk limo, gula merah, garam dan cabai. Saya sebut kuat, karena gado gado ini memiliki after taste yang jarang dimiliki oleh gado gado lain. Lembut dan wangi.

Ketika saya tanya sama pemiliknya, Nyonya Giok Lie yang merupakan generasi ke dua penerus tahta direksi ini, jawabannya simpel, “Kelezatan bumbu-nya terletak dari ke-orisinil-an ulekan tangan dan penggunaan bahan baku yang segar”.

Hm, tak berlebihan. Pasalnya, uleg-an tangan dan blender atau mesin memang beda. Dengan di uleg manual, minyak kacang akan keluar dengan aroma manis khas kacang juga rasa yang lebih pulen. Apalagi dengan tambahan pengalaman sang peng-uleg yang sudah puluhan tahun lamanya. Dijamin semua takaran, pas.

Bahan baku sayur pun, mulai dari kacang panjang, toge sampe tahu yang saya makan, semuanya segar. “Saya selalu belanja pagi hari untuk 1 hari saja. Jadi saya nggak pernah nyimpan bahan buat besok. Semua selalu baru setiap hari”, cerita Ny. Giok Lie pada saya.

Dimana sih lokasinya?

Tempatnya memang bisa dibilang susah dicarinya. Tapi sebagai patokan saya dapat mengatakan, jika anda sudah sampai di Glodok, langsunglah bertanya pada tukang parkir, “Dimana Hotel Fortuna?”. Jika hotelnya sudah terlihat, segera parkir dan masuklah ke gang kecil disamping hotel tersebut. Melewati berbagai penjaja makanan, teruuus sampai ada pertigaan semacam foodcourt, nah gado gado direksi berada tak jauh dari foodcourt itu. Pokoknya kalau ingin ke sini pesan saya, “Malu bertanya, sesat di jalan”.

Alamat : Gado Gado Direksi. Jl. Pintu Besar Selatan II. Glodok – Kota. Jakarta Barat. Telp 021 925 31 495   / 0812 940 8926

penulis : catur guna yuyun ang




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: