Birunya Langit Tongging di atas Birunya Air Toba

Matahari baru sepenggalan saat pesawat Hercules tinggal landas dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur. Pesawat angkut yang sudah renta karena dibeli pada jaman Jendral M Jusuf itu penuh dengan penerbang gantole dan paralayang dengan tujuan akhir— Medan.

Sedikit Tentang Pesawat

Setelah transit di Padang dan sebelumnya berangkat dari Malang, pesawat dengan nomer A-1305 mendarat di Lanud Medan, rencana mengangkut penerbang paralayang asal Pekanbaru pun batal, kelebihan muatan menjadi alasan. Sedikit saja bercerita soal pesawat angkut berbadan bongsor ini kawan, semua pesawat buatan Lockheed Amerika yang dibeli oleh Jend. M Yusuf nomer serinya bila dijumlahkan nilainya pasti menjadi 9 dan inilah yang menjadi ciri khasnya. Berkat jasa Jendral asal Makassar ini Indonesia memiliki dua skuadron pesawat Hercules, di Lanud Halim Jakarta dan di Lanud Malang Jawa Timur.

Di Lanud Medan, dua kelompok penerbang berpisah. Gantole menuju Hutaginjang  sedangkan paralayang ke desa Tongging. Saya sendiri termasuk kelompok paralayan yang menuju ke desa Tongging yang terletak di kecamatan Merek kabupaten Karo Sumatera Utara. Setelah 4 jam perjalanan melalui Sibolga, keindahan dan kesederhanaan desa di tepian danau toba ini mampu menyihir mata dan memikat hati para penerbang.

Mas Jajang dengan Pemandangan Bukit Mauli - Desa Tongging

Launching di Bukit Mauli

Kabut baru saja merambat naik, saat Dodo pilot asal Malang bersama kelompok penerbang pertama menginjakan kakinya di lokasi launching bukit mauli. Berdiri bersebelahan dengan air terjun si piso-piso, bukit Mauli memberikan panorama tak terbantahkan. “keren, keren banget… kalo begini bisa betah kita terbang di sini” begitu sahut-sahutan para penerbang di Handy Talkie.

Bukit dengan tinggi 1426 meter diatas permukaan laut ini memang ideal menjadi lokasi penerbangan. Dengan kemiringan yang cukup, angin yang mengalir tanpa hambatan di tengah-tengah pelukan bukit di kiri dan kanan, menjadikan payung anda mudah sekali mengembang dengan sempurna.

Terbang di Tongging juga sangat mengasyikan, meski hanya berjarak 1.8 km antara launching dan landing namun dengan beda ketinggian hingga 511 meter memberikan jarak yang cukup bagi setiap pilot untuk bermain. Bayangkan bukit gantole di puncak yang hanya 250 meter saja sejak dulu menjadi tempat favorit berlatih. Sedangkan di sini tingginya hampir dua kali lipatnya.

Rata-rata bila kita terbang biasa saja tanpa banyak usaha untuk mempertahankan ketinggian, setidaknya setiap penerbang bisa mengangkasa minimal10 -15 menit. Kereen kan?….

Dibuai Indahnya Alam Tongging

Untuk lebih jelasnya berikut data lengkapnya, catat ya!

– Launching bukit mauli: 1426 m dpl, koordinat: N 02° 54’ 25.8” E 098° 31’ 01.2”
– Landing tepi danau toba,desa tongging dekat wisma Sibayak: 915 m dpl, koordinat : N 02° 53’ 31.5” E 098° 31’ 20.4
– Beda ketinggian: 511 meter.
– Jarak: 1.80 km

Bagaimana menuju ke Tongging?

Untuk menjangkau desa Tongging gampang aja kok. Dari Medan tinggal numpang BTN alias Bintang Tapian Nauli, dengan modal 25 ribu saja sepanjang jalan anda juga bisa merasakan sensasi naik angkutan khas Medan. Mulai duduk berdesakan di di dalam hingga duduk di atas atap bersama barang-barang bawaan penumpang, seperti tas hingga lemari. Hmmm, kebayang kan serunya?

Oh iya, di Tongging, ga cuman bukit Mauli saja yang bisa dijadikan tempat launching, bukit simalem apalagi bukit si piso-piso yang jauh lebih tinggi sangat bagus untuk lokasi penerbangan. Dengan beda ketinggian antara launching dan landing hampir 1000 meter  membuat penerbangan dari bukit sipiso-piso tentunya menjadi lebih mengasyikan namun sayang, saat kami mencoba ke sana, akses menuju lokasi tak dapat dilalui, licin karena semalam habis diguyur hujan.

Menjadi Keluarga

Kampung Silahi Sabungan, Kampung Asal Muasal Marga Silalahi

Tak jauh dari desa Tongging, ada sebuah kampung bernama Silalahi. Terletak di kecamatan Silahi Sabungan, desa di pesisir danau Toba ini disebut-sebut sebagai tempat asal muasalnya orang batak bermarga Silalahi.

Untuk menghormati nenek moyang mereka, anak cucu bermarga Silalahi membangun tugu Silahi Sabungan. isinya tak hanya berhiaskan relief dan ukiran tentang kehidupan nenek moyang Silalahi ketika merintis hidup di pesisir danau Toba, dibawah bangunan ini juga terdapat tulang dan sisa peninggalan nenek moyang Silalahi.

Sebuah kejutan, ketika saya berkunjung ke kampung ini, tetua adat dan raja-raja turpuk melakukan upacara “mangulosi” atau memberikan ulos sebagai tanda bahwa saya menjadi bagian keluarga mereka. Dengan ulos itu secara otomatis saya pun berhak menyandang marga Silalahi, menjadi “zazang Silalahi”.

Oh iya, ngomong-ngomong soal ulos, kalo anda mencari ulos murah langsung dari perajinnya, ya di kampung silalahi ini salah satu tempatnya. Selain bertani, kaum ibu di kampung silalahi banyak menggantungkan hidup dengan membuat ulos. Motif ulos karo dan ulos Silalahi menjadi ciri khasnya.

Penulis: Jajang Dirajanagara (Produser News TPI) dan anggota klub paralayang papatong – untuk lebih bertanya lebih lanjut tentang artikel ini kepada Mas Jajang, silahkan email ke [email protected] atau ke comment, nanti akan disambungkan ke Mas Jajang pesannya.

Makasih ya Mas Jajang … blog mas jajang : http://rocknrapids.multiply.com




2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: