“Jangan Pegang jika tak ingin Dipaksa Beli” (Tips Berwisata di Piramida Giza Mesir)

Are you from Indonesia?
Saya hanya jawab yes…

We are friend…
Saya cuma tersenyum…

This is for you… free…free…
It’s ok, for Indonesian
Free…no money…

Si Arab Mesir itu terus menguntit saya, sambil mengucapkan kalimat di atas secara berulang-ulang. Saya tetap cuek dan terus berjalan mendekati Piramid yg menjulang di depan saya. Tapi tak berapa lama, di depan, segerombolan pedagang asongan lainnya menghampiri saya. Dengan kalimat kurang lebih serupa, mereka menawarkan barang dagangannya berupa kain sorban.

Tangan saya tetap memegang kamera foto dan tidak mau menyentuh dagangan yang mereka sodorkan. Namun mereka tetap menaruh kain tersebut ke tubuh saya. Seolah memaksa saya untuk memegangnya. Tetap tidak saya gubris dan membiarkan barang dagangan tersebut jatuh ke tanah. Si pedagang lalu memungutnya sendiri.

Tapi tiba-tiba dari belakang, seorang teman saya berteriak-teriak memanggil nama saya dan meminta tolong. Ternyata 3 pria Mesir (salah satunya masih anak-anak berusia sekitar 10 tahun), sedang memegangi dan menghalang-halangi teman saya itu. Ketiga pedagang tersebut memaksa teman saya untuk membeli barang dagangan mereka. Si pedagang memaksa teman saya untuk membayar, karena sudah memegang barang yang mereka tawarkan.

Akhirnya, seorang teman dari KBRI yang mendampingi kami datang dan mengusir para pedagang dengan memakai bahasa Arab. Kami sempat adu mulut. Tapi mereka tetap ngotot, sehingga akhirnya kami terpaksa merogoh 15 pounds (sekitar Rp 30 ribuan) untuk membayar sorban. “Di sini memang seperti itu, mereka pertamanya bilang “free – no money”, tapi kalo barangnya kita pegang, mereka akan ngejar-ngejar kita agar membelinya,” begitu kata pegawai Kedubes RI tersebut.

Begitulah kesan yang kurang mengenakan ketika berkunjung ke Piramid di Kota Giza Mesir. Para pedagangnya berperilaku kasar. Mereka seperti tidak terkontrol dan dibiarkan berkeliaran. Sejumlah polisi yang bertugas seperti tidak peduli, dan tetap asyik duduk di atas punggung onta. Jika dipikir-pikir, ternyata agak mirip-mirip juga dengan kelakuan pedagang-pedagang di tempat wisata di Indonesia, yang juga suka ‘ngerjain’ wisatawan.

Mungkin tidak sekasar di Mesir. Tapi coba lihat di kawasan Jalan Malioboro Jogja misalnya, ketika kita makan kadang ‘ditembak’ dengan harga yang tidak wajar dan mencekik. Kasus seperti ini banyak kita jumpai di banyak tempat wisata di tanah air.

Dari Kiri ke Kanan : Anjas Prawioko, Amanda Sastranegara dan Eksi Purnomo

Kembali ke Negeri Firaun. Selain ulah pedagang, pengunjung juga harus hati-hati ketika hendak menyewa naik onta. Di sekitar Piramid, memang banyak onta yang disewakan untuk jalan-jalan berkeliling gurun pasir. Teman saya perempuan yang naik onta, sempat ketakutan karena ketika meminta balik, si pemandu onta tetap membawanya jauh ke tengah gurun pasir. “Sialan kita kena 200 pounds (Rp 400 ribu),” keluh teman saya.

Teman saya yang lain iseng ingin melihat onta dari dekat. Si pemandu onta kemudian menyuruhnya untuk mengelus-elus dan mencium onta. Kami kira itu hanya iseng, tapi si pemandu tersebut kemudian meminta fulus 10 pounds. Bukan saja pedagang dan penyewa onta, petugas penjaga Piramid juga melakukan praktik pungli pada wisatawan.

Setelah jalan-jalan di sekita Piramid, kami penasaran ingin masuk ke dalam Piramid. Tempat mumi raja-raja Firaun dahulu disemayamkan. Pengunjung tidak boleh membawa kamera ke dalam. Handycam dan kamera SLR yang saya bawa pun akhirnya kami titipkan. Tapi saya tetap mengantongi handphone, karena siapa tahu bisa mengambil gambar di dalam.

Untuk masuk ke dalam pyramid, melalui sebuah lorong sempit dengan tinggi tidak lebih dari 1 meter. Pengunjung pun harus jalan merunduk menuruni tangga kayu. Konon pintu dibuat sempit dengan maksud setiap orang yang masuk menjadi menunduk untuk menghormati Raja Firaun yang dimakamkan di dalam Piramid.

Setelah turun dan naik tangga, sampailah di ujung, berupa sebuah ruangan berukuran sekitar 10 x 4 meter. Suasana gelap dan pengap. Hanya ada sedikit lampu penerangan dan seorang petugas yang berjaga. Di bagian pojok terdapat kotak besar, yang ternyata sebuah peti mati. Di peti inilah mumi raja Firaun dulu di tempatkan. Namun sekarang peti tersebut kosong.

Semula saya pikir kami tidak bisa berfoto di dalam. Tapi beberapa wisatawan masuk ke dalam peti dan berbaring untuk berfoto menggunakan ponsel masing-masing. Justru si petugas sendiri yang menyuruh dan mengizinkan untuk befoto-foto. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, kami pun ikut-ikutan berpose di dalam peti mati.

Namun setelah selesai dan hendak keluar, sang petugas menengadahkan telapak tangan meminta duit. Padahal jelas-jelas tidak ada karcis atau biaya resmi untuk foto. Kami pun akhirnya kena pungutan liar petugas sebesar 100 pounds (sekitar Rp 200 ribu). Kena deh…hehe.

Soal petugas, ternyata tabiatnya tidak beda dengan Indonesia. Suka main pungli. Penyebabnya bisa jadi sama, yaitu karena faktor ekonomi. “Sama dengan di Indonesia, secara ekonomi di sini yang kaya ya kaya banget, tapi yang miskin juga miskin, njomplang juga,” kata guide kami.

Meski catatan ini lebih mengupas sedikit sisi negatif, namun secara umum, berwisata ke Mesir sangatlah mengesankan dan tidak terlupakan. Sebuah kota yang eksotis yang penuh dengan torehan sejarah dunia. Dari peninggalan-peninggalan sejarahnya, seperti piramid yang diperkirakan dibangun 2000 tahun sebelum Masehi, membuat kita takjub dan kagum dengan kehebatan bangsa Mesir yang sudah sangat maju di masa lampau.

Sukron…

Penulis : Anjas Prawioko (Anjas Photography) merupakan Produser divisi News di Global TV – Email: [email protected]
“…selalu ada di setiap peristiwa, selalu hadir di segala situasi…”

Lorong Abu Dhabi Airport




5 comments

  • Halooow Mas Zamroni 🙂 senengnya udah mampiiirrr 🙂 iyaaa bikin emosi yang baca hehehee 🙂 tapi bagus jadi kalau suatu saat mudah mudahan Tuhan kasih rejeki kesana, udah tau apa yang mesti dilakukan hehehe 🙂

  • Memang begitulah mentalitas orang sana. Kebetulan saya jg pernah visit 6 hari di sana, untuk membuat program feature sejarah. Beberapa lokasi bersejarah kami kunjungi, dan memang kondisi di sana tak jauh beda dgn Indonesia. Para satpam yang gemar pungli, supir angkot yang persiiiiiiiisss sama dgn bangsa kita mentalitasnya(bahkan di sana hampir tdk ada mobil bagus, alias penuh penyok dan goresan) lalu lintas yang semrawut, dan orang2 yg suka menipu (kalau mereka lihat kita. punya barang bagus seperti HP, Laptop, dll). Dan, kalau lagi kangen masakan Indonesia, tidak perlu bingung, karena anda bisa temui makanan kesukaan anda di daerah Nasr City (ada Bakmi Tebet lhoooo…..dll juga), dengan porsi yg cukup utk 2 org. So, kalau anda berminat mengunjungi negeri Firaun ini, lbh baik jangan jauh2 dr orang yang mengerti betul negara tsb, dan menguasai bahasa mereka…..atau kalau anda menolak utk membeli atau apa pun yg mereka paksakan, cukup jawab….”La’ ala sukron” (tidak, terima kasih)

  • Info yg sangat bermanfaat bagi kami yg akan wisata ke Mesir april 2013 yad sebelum melaksanakan ibadah Umroh…….tks infonya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: