Tanda Kekurangan Gizi pada Tubuh Manusia

Cover Buku

Tubuh kita itu ibarat mesin mobil. Kalau ada yang kurang atau kendur dalam pemeliharaannya, kemungkinan mobil masih tetap bisa jalan, tapi nggak enak disetirnya. Begitu juga dengan tubuh kita, kendati kekurangan zat gizi sampai batas tertentu mungkin kita masih bisa beraktivitas, tapi … kemudian muncul keluhan keluhan yang sebenarnya bukan penyakit. Keluhan keluhan yang tidak bisa dijelaskan itu adalah indikasi kita sedang kekurangan gizi.

Sebut saja, kekurangan kalium (potassium) yang banyak dalam buah. Jika kekurangan unsur mineral ini berlangsung dalam waktu lama, jantung bisa terganggu fungsinya. Bisa jadi dikira penyakit jantung, padahal hanya sekedar kekurangan unsur kalium, yaitu kurang makan buah segar. Zat gizi esensial ini tidak boleh tidak ada dalam menu, karena tubuh tidak bisa membuatnya sendiri.

Sebaiknya untuk memenuhi kebutuhan gizi esensial ini, kita kembali ke menu nenek moyang. Yaitu menu yang alami yang diolah sendiri di rumah, bukan camilan camilan pabrik, jajan jajan pinggir jalan yang sarat kimia dan debu, bukan menu bakaran, tapi menu sunda yang banyak lalap misalnya. Yang jelas mesti higienis dan dengan bahan baku non pestisida.

Na… kalau sudah membuat sendiri di rumah, ya tentunya pilih bahan yang masih segar, cara mengolahnya benar (tidak sampai layu jika sayur – karena sayur yang terlalu lama dimasak vitamin juga hilang), tidak pakai zat adiktif berbahaya, tidak pakai penyedap –ganti saja dengan gula dan garam, dan pilih minyak goreng yang tak jenuh (minyak zaitun, minyak jagung atau minyak biji matahari untuk menumis).

Gula merah pun lebih sehat dari gula putih, karena gula merah diproses secara alami, semantara gula putih untuk menjadikannya kristal telah melalui proses kimiawi. Gandum itu baik, kaya serat, tapi kenapa terigu nggak baik? Karena meski terbuat dari gandum namun dalam proses mengubah gandum menjadi terigu menggunakan bahan kimiawi, sebagaimana hal ini juga terjadi pada proses air tebu menjadi gula pasir…

Buku: cara sehat menjadi perempuan
Halaman : 100 – 104
Pengarang : Dr. Handrawan Nadesul

Review oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja




1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: