Warung Daun, sensasi Ngaliwet sambil nyocol Sambal Ngebul Langsung dari Bakaran

Nasi Liwet dan Udang Galah Bakar

Nasi Liwet Sunda bersanding dengan Udang Galah Bakar yang dicocol sambal ngebul… Wah Luar biasa Nikmatnya. Ditambah dengan dukungan cuaca rintik rintik diluar, membuat suasana makan sore di Warung Daun yang restonya berkonsep rumahan ini semakin sempurna.

Nasi Liwet yang baru dimasak ketika ada pelanggan yang memesan ini memang tampil menggugah selera. Dengan wadah kastrol yang dirancang sendiri bentuknya oleh sang pemilik, Nasi Liwet ini menyeruakkan harum semerbak rempah asli Indonesia. Ada harum sereh, daun salam, bawang merah dan pandan. Aroma khas ini kemudian diulen jadi satu dengan ikan teri asin. Pas dimakan, wow rasanya gurih sekali. Seperti nasi uduk namun tidak ada santannya, karena nasi liwet ini menggunakan kaldu ayam asli sebagai perasa gurihnya. Beras yang digunakan pun, beras organik, jadi gurihnya double.

Soal udang. Wow, … menggunakan Udang Galah Kalimantan dari Sungai Mahakam. Ya, meski Lampung merupakan sentra udang, tapi Bu Lady, pemilik Warung Daun tetap mengutamakan Udang dari Kalimantan. Karena udang dari sungai Mahakam ini memiliki daging yang lebih kenyal sehingga ketika dimakan dapat menimbulkan sensasi ‘kres’ yang lebih mantab. Rasanya pun lebih manis. Namun, jika Udang memang sedang susah, mau tak mau Bu Lady membeli Udang Lampung yang memang lebih mudah di dapat. Hm, tapi saya jika kemari selalu beruntung dengan tersedianya Udang Galah Kalimantan.

Sambal dibakar langsung dengan cobek

Untuk sambalnya. Wow, ini yang paling unik, karena sambalnya langsung dimasak di atas cobek tanah liat. Alhasil, rasanya pun beda, nggak cuma panas ngebul sesuai namanya ‘sambal ngebul’ namun juga memiliki ciri khas segar alami. Penggunaan tanah liat ini sendiri bisa dibilang menguntungkan pengrajin lo, soalnya ketika saya tanya, “Lah, kalau cara masaknya dibakar gini, cobeknya gak pecah?”, Bu Lady menjawab, “1 cobek cuma bisa dipakai 3x, jadi kami rutin dalam sebulan bisa membeli cobek ke pengrajin dalam jumlah sangat besar”. Wah, luar biasa, demi kualitas dan rasa sambal yang berkarakter, Bu Lady tetap mempertahankan cara ini, “Sekalian membantu para pengrajin”, katanya.

Nah, sambal ngebul ini sendiri juga enak kalau dimakan dengan ikan Balita. Yaitu ikan mas yang masih seukuran kelingking remaja. Hm,… jika di bogor ikan mengenal menu ikan balita yang garing, disini ikan balita dimasak tidak terlalu kering, jadi masih memiliki rasa segar daging. Nyam kriuknya, nyam dagingnya.

Colenak, di cocol enak

Eeee,… jika anda kemari juga jangan dilupakan hidangan penutupnya yang bernama colenak. Astaga,… enak sekali. Pisang raja dan peuyem yang dibakar, kemudian di siram dengan gula merah dan kacang gongseng. Gurih manisnya tiada tandingan untuk dessert sore itu. Sampai akhirnya, dimalam hari karena kangen sama colenaknya, saya membeli pisang bakar di warung kaki lima deket tempat tinggal, heheheee …

Oya, satu hal yang perlu saya bagi. Resto ini memasak semua hidangan tanpa menggunakan MSG dan selalu menggunakan beras dan sayur organik. Jadi, selesai makan besar kita bisa mencuci mulut dengan lalap segar organik yang bisa dipastikan memiliki rasa gurih dan manis daripada sayur biasa.

Alamat Wisata Kuliner : Warung Daun

I. Jl. Wolter Monginsidi 41 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. 021 72786138

II. Jl. Pakubuwono 10 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 021 7395454

III. Jl. Cikini Raya no 26, Menteng Jakarta Pusat. 021 3910909

Informasi Restaurant

Nama Warung Daun
Alamat Alamat lengkap lihat di bawah (artikel)
Telephone (lihat artikel bagian bawah)
Jam Buka 11.00 – 22.00
Jenis Masakan Sunda, spesial Liwet dan Udang Galah Bakar
Harga Rp.
Tipe Restaurant
Suasana Rumahan
Merokok
Busana Casual
Lain – lain Sayur, Nasi dan Buah = Organik, No MSG

Liwet sebelum ditanak

Sambal di Bakar Cobek

Disajikan Panas

Wedang 5 Gunung

Wow, Galah Bakar

Ikan Balita




%d bloggers like this: