Meneropong Kepribadian Lewat Perjamuan Minum Teh Jepang

June 18th, 2010 by · No Comments

Yuyun dan Bu Suwarni (di Siang Ming Tea)

Jepang memang merupakan negara yang terkenal paling menjunjung tinggi seni dan budaya. Maka nggak heran, jika tiap jengkalnya di Jepang selalu tampak indah, menarik dan banyak sekali hal remeh yang akhirnya menjadi berkelas karena dikemas dengan baik. Misalnya, minum Teh.

Jika kita masyarakat Indonesia, penghasil teh terbesar ke 5 dunia, memandang teh hanya sebagai minuman yang sepele, tidak bagi masyarakat Jepang. Begitu tinggi jiwa penghargaan mereka terhadap sesuatu yang ‘enak’, maka lahir-lah suatu budaya upacara minum teh atau biasa disebut 茶道 sadō, chadō. Pada zaman dulu disebut chatō (茶の湯) atau cha no yu. Yaitu suatu ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Namun, jika diadakan di luar ruangan disebut nodate.

Menurut Bu Suwarni, pemilik Siang Ming Tea yang juga seorang ahli teh Jepang, Semangat chadō adalah wa-ke-sei-jyaku. Wa artinya kedamaian, harmoni manusia, Kei: hormat kepada yang lebih tua, rasa kasih sayang kepada teman atau yang lebih muda, Sei: kebersihan & kebenaran juga melambangkan hati manusia yang tenang dan santai, dan Jyaku adalah hal yang paling utama dari Chado.

Membersihkan Alat Upacara Minum teh (Peragaan di MargoCity)

Bagi orang Jepang, upacara minum teh sendiri merupakan ajang untuk menilai kepribadian seseorang. Dimana dari sikap selama perjamuan tersebut akan tersirat bagaimana pribadi orang yang bersangkutan dalam memikirkan tujuan hidup, tingkat spiritual dan tingkat penghormatannya terhadap seni.

Tata Cara Upacara Minum Teh Jepang

Banyak sekali aturan yang harus diperhatikan untuk seseorang dapat mengikuti upacara minum teh Jepang. Bahkan menurut Bu Suwarni, seseorang hanya akan diundang untuk mengikuti upacara ini, jika si tuan rumah yakin orang yang akan di undang sudah tau tata cara minum teh.

Persiapan untuk upacara minum teh sendiri tak bisa dadakan, melainkan sudah direncanakan 3 – 6 bulan sebelum upacara di mulai. Dalam rentang waktu yang panjang ini, diharapkan orang yang diundang dapat mempersiapkan diri terlebih dahulu, baik dalam hal pakaian yang akan digunakan dalam upacara maupun dalam segi belajar tata cara minum teh.

Ketika waktunya tiba, maka para undangan harus masuk satu persatu ke dalam ruangan tatami dengan jalan yang diatur, yaitu langkah yang agak diseret dan teratur. Kemudian memberi hormat kepada lukisan dan bunga yang telah dipilih tuan rumah sebagai penghias ruangan tatami. Makna-nya sendiri adalah tamu diingatkan untuk selalu memberi hormat pada alam dan menjunjung tinggi seni.

Kemudian dengan langkah yang teratur, tamu memberi hormat pula pada tungku dan peralatan untuk membuat teh baru kemudian duduk ala Jepang di atas tatami di tempat yang sudah di-siap-kan.Setelah tamu pertama duduk di tempatnya, barulah tamu ke dua masuk dan melakukan hal yang sama dan seterusnya sampai tamu habis.

Mulai menyeduh Teh (Peragaan di MargoCity)

Setelah semua tamu masuk, barulah pembuat teh yang juga merupakan tuan rumah, masuk ke dalam ruang tatami, memberi hormat pada semua tamu dengan sedikit membungkuk-kan badan, tanpa suara. Ya, jika seseorang sudah masuk ke ruang perjamuan minum teh, ia tak boleh mengeluarkan suara sedikit pun.

Setelah memberi hormat, maka tuan rumah akan memberikan kue manis (jangan dimakan dulu) dan mulai membersihkan alat alat untuk membuat teh dengan gaya yang sangat anggun dan perlahan. Setiap gerakan harus terlihat alami, elegan dan penuh penghayatan.

Langkah selanjutnya adalah membuat teh untuk tamu pertama, setelah teh diminum dan tamu pertama menyatakan enak (cara menyatakan enak adalah dengan menyedot minuman di tetesan terakhir dengan kencang) barulah tuan rumah membuat kembali teh untuk tamu ke dua dan demikian seterusnya hingga tamu habis.

Pada umumnya, teh yang digunakan adalah teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara dengan menggunakan teh matcha ini disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō.

Lalu, kapan kue manisnya dimakan? Tentu usai minum teh, kue manis baru boleh dimakan. Cara memakannya pun tak boleh tergesa gesa, melainkan dengan sikap anggun dan bijaksana.

Teh di kocok dengan alat dari kayu (Peragaan di MargoCity)

Oya, ketika kita mengambil cawan teh yang diberikan tuan rumah, teh tak boleh begitu saja diminum, melainkan harus diputar dulu sebanyak dua kali. Begitu pula ketika mengembalikan cawan tersebut usai kita minum, harus diputar 2 kali.

Waktu itu saya mencoba mengikuti upacara minum teh dengan total 3 tamu, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Hm,… lumayan pegel juga yach, duduk tegak dengan kaki di lipat ala Jepang. Hoooaaa,… tapi ini pengalaman yang luar biasa.

Sejarah Upacara Minum Teh Jepang

Nah, untuk sejarah Minum Teh Ala Jepang ini saya ambil dari http://e-antz.blogspot.com

Lu Yu (Riku U) adalah seorang ahli teh dari dinasti Tang di Tiongkok yang menulis buku berjudul Ch’a Ching (茶经) atau Chakyō (bahasa Inggris: Classic of Tea). Buku ini merupakan ensiklopedia mengenai sejarah teh, cara menanam teh, sejarah minum teh, dan cara membuat dan menikmati teh.

Produksi teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman Heian setelah teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang. Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.

Pada masa itu, teh masih berupa teh hasil fermentasi setengah matang mirip Teh Oolong. Teh dibuat dengan cara direbus dan hanya dinikmati di beberapa kalangan saja, sehingga kebiasaan minum teh tidak sempat menjadi populer.

Di zaman Kamakura, pendeta Eisai dan Dogen menyebarkan ajaran Zen di Jepang sambil memperkenalkan matcha yang dibawanya dari Tiongkok sebagai obat. Teh dan ajaran Zen menjadi populer sebagai unsur utama dalam penerangan spiritual. Penanaman teh pun mulai dilakukan sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.

Permainan tebak-tebakan daerah tempat asal air yang diminum berkembang di zaman Muromachi. Permainan tebak-tebakan air minum disebut Tōsui dan menjadi populer sebagai judi yang disebut Tōcha. Pada Tōcha, permainan berkembang menjadi tebak-tebakan nama merek teh yang yang diminum.

Pada masa itu, perangkat minum teh dari dinasti Tang dinilai dengan harga tinggi. Kolektor perlu mengeluarkan banyak uang untuk bisa mengumpulkan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok.

Acara minum teh seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul upacara minum teh aliran Wabicha.

Foto Usai Upacara Minum Teh (di Siang Ming Tea)

Wabicha dikembangkan oleh seorang pedagang sukses dari kota Sakai bernama Takeno Shōō dan disempurnakan oleh murid (deshi) yang bernama Sen no Rikyū di zaman Azuchi Momoyama. Wabicha ala Rikyū menjadi populer di kalangan samurai dan melahirkan murid-murid terkenal seperti Gamō Ujisato, Hosokawa Tadaoki, Makimura Hyōbu, Seta Kamon, Furuta Shigeteru, Shigeyama Kenmotsu, Takayama Ukon, Rikyū Shichitetsu. Selain itu, dari aliran Wabicha berkembang menjadi aliran-aliran baru yang dipimpin oleh daimyo yang piawai dalam upacara minum teh seperti Kobori Masakazu, Katagiri Sekijū dan Oda Uraku. Sampai saat ini masih ada sebutan Bukesadō untuk upacara minum teh gaya kalangan samurai dan Daimyōcha untuk upacara minum teh gaya daimyō.

Sampai di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara minum teh.

Kalangan penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke dan Mushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.

Kepopuleran upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.

Joshinsai (guru generasi ke-7 aliran Omotesenke) dan Yūgensai (guru generasi ke-8 aliran Urasenke) dan murid senior Joshinsai yang bernama Kawakami Fuhaku (Edosenke generasi pertama) kemudian memperkenalkan metode baru belajar upacara minum teh yang disebut Shichijishiki. Upacara minum teh dapat dipelajari oleh banyak murid secara bersama-sama dengan metode Shichijishiki.

Berbagai aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang. Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti sedang bermain-main.

Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual dalam upacara minum teh. Pada waktu itu, kuil Daitokuji yang merupakan kuil sekte Rinzai berperan penting dalam memperkenalkan nilai spiritual upacara minum teh sekaligus melahirkan prinsip Wakeiseijaku yang berasal dari upacara minum teh aliran Rikyū.

Di akhir Keshogunan Tokugawa, Ii Naosuke menyempurnakan prinsip Ichigo ichie (satu kehidupan satu kesempatan). Pada masa ini, upacara minum teh yang sekarang dikenal sebagai sadō berhasil disempurnakan dengan penambahan prosedur sistematis yang riil seperti otemae (teknik persiapan, penyeduhan, penyajian teh) dan masing-masing aliran menetapkan gaya serta dasar filosofi yang bersifat abstrak.

Memasuki akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku. Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan lebih santai.

Tempat Merebus Air

Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari. Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak. Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di kalangan sastrawan.

Pemerintah feodal yang ada di seluruh Jepang merupakan pengayom berbagai aliran upacara minum teh, sehingga kesulitan keuangan melanda berbagai aliran upacara minum teh setelah pemerintah feodal dibubarkan di awal era Meiji. Hilangnya bantuan finansial dari pemerintah feodal akhirnya digantikan oleh pengusaha sukses seperti Masuda Takashi lalu bertindak sebagai pengayom berbagai aliran upacara minum teh.

Di tahun 1906, pelukis terkenal bernama Okakura Tenshin menerbitkan buku berjudul The Book of Tea di Amerika Serikat. Memasuki awal abad ke-20, istilah sadō atau chadō mulai banyak digunakan bersama-sama dengan istilah cha no yu atau Chanoyu.

Dimana jika ingin belajar Tata Cara Minum Teh Jepang?

Bisa ke Japan Foundation yang ada di Gedung Summitmas I, lt. 2. Jl. Jenderal Sudirman Kav. 51-52 Jakarta. Atau Hubungi Ibu Suwarni (Ahli Teh Jepang) pemilik Siang Ming Tea di Jl. Bungur Besar 17 No.7-B4 Jakarta Pusat. Telepon: 021-428-04436

Penulis : Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan untuk sejarah minum teh ala Jepang, Thanks to http://e-antz.blogspot.com

 
 

Categories: budaya jepang · Jepang · Wisata Luar Negeri

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment