Kesombongan Doha (Sebuah Cerita Wisata di Qatar)

Pak Apni di Doha Qatar

Begitu mendarat di Bandara Qatar terasa sudah kesumpekan itu. Maklum bandara ini sedang dibangun. Tak lama kemudian saya memasuki kota Doha. Besarnya kira-kira seperti Tangerang kalee. Tapi bersih, terutama pantainya. Kota ini terletak di bibir teluk Arab dan berupa sebuah Tanjung, artinya daratan yang menjorok ke laut. Berpenduduk hanya 800 ribuan orang, sebagian fasilitas kota dibangun di pinggir pantai, mirip water front city. Doha adalah kota modern. Ini karena limpahan gas bumi dan minyak yang membuat negara ini masuk dalam 10 negara terkaya di dunia. Penduduk asli Qatar hanya 200 ribu orang, sisanya adalah pendatang. Anda boleh bangga, jika di negara Arab lainnya TKI kita banyak yang menjadi pembantu, di sini TKI kita lebih well job. Mereka bekerja di sektor Migas, sebagian lain di perhotelan atau jasa. Di sektor jasa tetap lebih banyak orang Pilipino, karena faktor penguasaan bahasa Inggris yang lebih baik.

Doha memang tengah berbenah, perkembangannya tidak sebanding dengan Dubai yang menjadi kota internasional. Warganya agak sombong karena mengira merekalah paling hebat. Muhammed, seorang imigran palestina yang tinggal di Qatar sangat bangga dengan sebuah mall yang mereka sebut sebagai city center. Muhammed menyebutkan bahwa mall ini adalah yang terbesar di Teluk. Lalu ia bertanya kepada saya apakah ada mall sebesar ini di Indonesia. Saya jawab: “tidak ada”. Maksud saya tidak ada yang sekecil ini. Lima kali lebih besar dari ini banyak. Muhammed tak percaya. Tiba-tiba di tengah percakapan ada seorang pejabat setempat namanya Al Jabar yang ikut menimpali pembicaraan kami. Jabar kebetulan sudah pernah ke Indonesia dan punya pembantu orang Sukabumi. Jabar lalu bercerita tentang Tanah Abang, Mangga Dua, Plaza Senayan dan Taman Anggrek. “Saya butuh dua hari untuk berkeliling Taman Anggrek,” kata Jabar meyakinkan Muhammed. Muhammed geleng-geleng kepala memikirkan betapa besarnya Jakarta. Saya jelaskan kepada Muhammed bahwa Jakarta berpendukuk 20 juta orang dan mall sebesar City Center-nya Doha itu jumlahnya di Jakarta ada puluhan. “City Center like supermarket,” ujar Jabar bahwa mall sebesar ini seperti supermarket di Jakarta.

Yang jelas, Doha dan Qatar adalah kemewahan. Istana raja yang wah dan mewah, gedung-gedung yang mewah, modern dan rapi. Tak ada kendaraan jelek yang sliweran di kota. Mobil murah karena pemerintah setempat tak menarik pajak atas kendaraan itu. Abdurahman teman saya selama berada di Qatar adalah seorang pegawai IT pada kantor pemerintahan. Kendaraannya adalah Camry. Ia hanya membelinya –kalau dikurskan ke rupiah– hanya sekitar 120 juta rupiah. Bayangkan di Indonesia harga Camry sekitar 360 juta dan yang make menteri kabinetnya SBY.

Kata orang jika berkunjung ke suatu kota datanglah ke pasar. Di pasar adalah gambaran peradaban sesungguhnya. Saya pergi ke pasar tua di tengah kota Doha. Sekali lagi pasar ini rapi dan dibuat antik dengan arsitektur bangunan Arab. Paling banyak dijual adalah souvenir dan kerajinan anyaman dan tenda baduy orang Arab Qatar. Saat saya datang, pasar ini sepi karena di sini masih ada tradisi siesta. Artinya orang-orang pada tidur atau istirahat bila dari Zuhur sampai Ashar. Saya menyempatkan membeli beberapa cenderamata di pasar ini untuk oleh-oleh.

Penulis: Apni Jaya Putra. Bekerja di RCTI, dipekerjakan di PT Sun Television Network. Juga dosen bidang media studies dan broadcasting di beberapa kampus di Jakarta.

makasih ya Pak Apni – Blog Pak Apni : http://apnijepe.blogspot.com




3 comments

  • saya pernah tinggal di Qatar tahun 2006 sampai 2007,tapi sekarang ingin kembali,bila ada teman2 info job mohon kabari.

  • Maaf yg sy tahu orang qatar ngga sombong seperti Bp ceritakan. Sy tinggal diqatar dr thn 2007. Bp mengambil kesimpulan hanya dr imigran asal palestine (Muhammed) yg tinggal di qatar. Sebaiknya Bp berinteraksi secara langsung dengan orang Qatar-nya langsung sehingga akan lebih objektif.
    Thanks.

  • Thanks udah sharing ceritanya…katanya qatar tidak menerima wisatawan,,apa benar Jadi katanya jarang orang yg bisa berwisata ke doha..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: