Menengok Vihara Avalokitesvara Banten Lama

April 2nd, 2010 by · 6 Comments

Mejeng di depan Vihara

Peradaban manusia yang telah berjalan sejak lama menyisakan situs – situs yang begitu menarik dan berarti, salah satunya yaitu sebuah bangunan vihara peninggalan kerajaan Banten yang terletak di Kampung Kasunyatan Desa Banten, Kasemen Serang. Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara ini, telah berdiri sejak abad ke 16 dan dikenal sebagai salah satu vihara tertua di indonesia.

Menurut cerita para pengurus vihara yang telah mengurus vihara selama puluhan tahun, vihara ini dibangun oleh salah satu raja banten yang pernah memerintah di tahun 1652 bernama Syeh Syarief Hidayatullah. Saat itu Syeh Syarief Hidayatullah menikahi seorang putri Tiongkok. Sunan Gunung Jati yang merupakan salah seorang dari wali songo, melihat bahwa ada banyak perantau dari Cina yang membutuhkan tempat ibadah.

Maka kemudian Sunan Gunung Jati berinisiatif untuk membangun sebuah vihara untuk tempat peribadatan umat Budha pada masa itu, vihara tersebut kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara.

Bagi masyarakat Banten sendiri, bangunan vihara ini tidak hanya sekedar menjadi bangunan bersejarah ataupun tempat peribadatan semata, tetapi juga sebagai simbol bagaimana masyarakat lampau mampu mewariskan keharmonisan dalam menghadapi setiap perbedaan yang ada. Kita semua tahu masyarakat Banten dikenal sebagai komunitas mayoritas ┬ámuslim, tapi nyatanya keharmonisan beragama di kawasan banten lama ini terjalin sangat baik, bahkan tak jarang penduduk yang tinggal di sekitar kawasan vihara ikut terlibat dan membantu ketika ada acara dan perayaan – perayaan di vihara, contohnya seperti perayaan ulang tahun Buddha.

Toleransi beragama dan keharmonisan hubungan antara umat islam dan umat Buddha di kawasan Banten lama juga dapat terpancar dari arsitektur bangunan Masjid Agung Banten Lama yang terletak tak jauh dari kawasan vihara. Masjid Agung Banten Lama yang juga adalah ikon Banten lama memiliki arsitektur bangunan yang bergaya Eropa Cina.

Masih ingatkah anda dengan bencana Tsunami yang pernah melanda aceh beberapa tahun yang lalu? Sesungguhnya bencana Tsunami itu bukan yang pertama kalinya melanda Bangsa Indonesia. Bencana Tsunami pernah terjadi di Banten 123 tahun yang lalu, yang disebabkan oleh meletusnya Gunung Krakatau. Kita dapat menemukan sebuah catatan yang menjelaskan bagaimana peristiwa tsunami tersebut terjadi, terpasang di salah satu bagian dinding vihara.

Narsis dulu dong hehehee ... Vihara-nya bagus sih

Catatan yang ditulis dalam tiga bahasa ini menjelaskan bagaimana mengerikannya peristiwa tersebut, dan pada saat itu orang – orang berlindung di dalam vihara, sementara air bah menggelundung diluar vihara dengan derasnya menyapu kebun kelapa dan segala benda yang ada, orang – orang di dalam vihara berdoa memohon perlindungan, mukjizat pun terjadi air dan lahar pun tidak masuk ke dalam vihara. Bencana luput dan selamat dilaluinya.

Sejak saat itu masyarakat Buddha Banten percaya, berdoa di Vihara Avalokitesvara dapat membawa keselamatan. Bahkan tak jarang umat Buddha dari luar Banten rela datang ke kawasan Banten Lama hanya untuk berdoa di vihara ini. Ketika ditanya alasannya memilih untuk beribadat di Vihara Avalokitesvara, seorang pengunjung yang telah beribadat di vihara ini selama hampir 30 tahun mengaku senang beribadat di Vihara Avalokitesvara karena suasananya yang jauh dari keramaian, tenang dan damai dan sangat pas untuk berdoa. Menurutnya suasana tersebut sangat sulit di temui di vihara – vihara lain yang terletak di kota – kota besar.

sumber tulisan: www.wikimu.com

Artikel Terkait

Categories: Wisata Banten · Wisata Indonesia · Wisata Jawa Barat

6 responses so far ↓

  • 1 Mr_Five WenZ // Dec 25, 2010 at 9:21 pm

    Situsnya bagus… :)

    Pengen ralat dikit, Avalokitesvara atau yang lebih dikenal di dalam masyarakat Tionghua/Cina sebagai Kwan Im (Guan Yin) bukanlah Buddha (Fo), tapi hanya makhluk suci yang telah mencapai penerangan (tapi belum sempurna) dan saat ini para Boddhisatva (Phu-sha) berdiam di salah satu tingkatan surga yang dikenal dengan nama Surga Tusita dan menyempurnakan Paramita mereka dan untuk kemudian terlahir kembali sebagai manusia untuk menjadi Samma-Sambuddha ataupun Pacekka-Buddha.
    Oleh karena itu sebutannya adalah Guan Yin Phu Sha (Kwan Im Pho Sat) / Bodhisatva Avalokitesvara.
    Sedangkan untuk Buddha contohnya Buddha Sakyamuni (Siddharta Gautama) / Se Cia Mou Ni Fo.

  • 2 caturguna // Dec 26, 2010 at 1:02 am

    Mr Five WenZ : Waaahhhh makasih sekali untuk ralat-nya :) sungguh makasih sekali makasih makasih … um jadi kira kira kalimat yang baik untuk mengganti “Vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara” … kira kira baiknya gimana ya??? hiks … maaf waktu kesana saya buru buru nggak sempet nanya jelas, jadi masih belum paham benar … boleh kah ditolong benarkan kalimat saya??? makasih

  • 3 Mr_Five WenZ // Jan 5, 2011 at 4:01 am

    @Caturguna: sorry baru ngecek kembali, mungkin kalimat penggantinya lebih kurang seperti ini: “Vihara yang namanya diambil dari nama Bodhisatva yang sangat terkenal dalam aliran Buddhis Mahayana yakni Bodhisatva Avalokitesvara (Kwan Im)” atau “Vihara yang namanya diambil dari nama Bodhisatva Avalokitesvara (Kwan Im)”

    Dan mungkin untuk kata “Bodhisatva Avalokitesvara” sendiri dapat di link ke:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Avalokitesvara
    untuk penjelasan lebih detil tentang sosok Avalokitesvara.

    semoga bermanfaat :)

  • 4 Jeremy // Feb 1, 2012 at 8:59 pm

    It’s really an amazing place, and I am very proud being a Buddhist… Big big big fan and Avalokitsevara believer …

  • 5 caturguna // Feb 9, 2012 at 8:56 am

    @jeremy : iya masi terjaga bagus ya

  • 6 Jun // Mar 22, 2012 at 10:58 pm

    nice article, kalo boleh tau alamat viharanya d mana yah?

    Tq

Leave a Comment