Ketika Aura Eropa dan Mediterania Bersanding (Panduan Wisata ke Peru – 2)

peru 8

Sebelum pergi ke Lima, Peru saya coba browsing travel guide di Lonely Planet, Globe Tracker, Natgeo dan lain-lain untuk mendapatkan travel advisory. Semuanya menyarankan agar berhati-hatilah karena on street crime di sini tinggi sekali. Begitu mendarat di bandara J Chaves dengan menumpang KLM dari Amsterdam, saya disambut udara sejuk di bulan November. Taksiran saya sekitar 17 derajat celcius. Saya disambut ramah oleh petugas imigrasi dan custom, terutama wooow oleh Peruvian Girls-nya. Mereka cantik karena berdarah campuran, Spanyol, Indian, Jepang dan China yang memang menjadi suku mayoritas di Peru.

Di sepanjang jalan menuju hotel saya di kawasan San Isidro, saya agak terheran juga melihat pagar hotel diikat kawat berduri dengan aliran listrik. Lalu mini market di depan hotel saya, untuk ruang kasir-nya diteralis. Saya tanyakan kepada Miguel, sopir yang membawa saya. Dia bilang bahwa pernah kejahatan sangat merajalela di sini. Mereka bisa mengambil barang di dalam mobil yang parkir dengan merusak kaca secara amat rapi. ”Tapi sekarang keamanan jauh lebih baik,” ujar Miguel meyakinkan saya.

Di Lima, tidak ada taksi berargo. Bahkan ada taksi yang disii beramai-ramai. Di sini naik taksi harus tawar-tawaran. Keahlian lainnya dari sopir taksi adalah menipu. Miguel bercerita, sopir taksi biasa cepat sekali mengganti uang yang kita bayar dengan uang palsu, sehingga ia memaksa kita membayar dengan ongkos baru, tentunya dengan uang pengganti, sementara uang yang sebenarnya asli tadi, ia ambil dengan bilang ”ini buat saya ya, kan palsu. Kalau tidak saya lapor Anda ke polisi karena membawa uang palsu”. Serem kan begini.

Tak ada transportasi massal yang memadai. Masih mending Jakarta, masih ada bus way dan KRL Jabodetabek. Di sini angkutan kota masih menggunakan bus Ford dan Dodge yang panjang dan beberapa kendaraan seperti angkot kalau di kita. Juga ada semacam bajaj yang dimodifikasi dari motor. Sehingga jalanan macet pada jam kerja. Sedikit sekali ada kendaraan roda dua. Polisi pengawal saja hanya menggunakan Honda Tiger 2000, yang kalau di Jakarta dipakai biker.

Jangan membayangkan gedung bertingkat mencakar langit Lima. Gedungnya biasa-biasa saja. Di pusat bisnis San Isidro atau Centro de Lima ada 2 hotel international chain yang beroperasi yakni Melia dan Sheraton. Hotel Seharaton setinggi 35 lantai di depan Plaza de Justicio adalah bangunan bertingkat pertama di Peru. Selebihnya JW Mariot dan beberapa jaringan hotel local beroperasi di kawasan wisata Mira Flores. Orang-orang kaya di Kota Lima memilih tinggal di kawasan San Isidro dan San Borja. Kawasan mewah ini terkonsep baik dan modern. Karena itu kawasan ini juga menjadi kawasan diplomatik dan kantor kementrian pemerintah Peru.

1. Peru yang Tertata dan Menawan

Kota Lima berada di pantai tengah negara Peru. Dibangun di atas perbukitan di 300 meter di atas permukaan laut. Kota ini menjadi eksotik karena habitat manusia berada di pegunungan, pantai dan lembah yang berada sekaligus dalam satu kewilayahan Departemento de Lima. Kota Lima didirikan pada tahun 1553 oleh penakluk Fransisco Pizarro dari Spanyol.

Kota Lima didisain seperti blok dan amat rapi. Ini sepertinya melanjutkan apa yang dibuat oleh bangsa Spanyol ketika mendisain Centro de Lima. Kawasan kota tua ini lanscape-nya dibuat dengan model blok dengan banyak ruang publik dan taman-taman terbuka yang mereka sebut sebagai plaza. Ada plaza Saint Martin dan Plaza de Armaz.

Sehingga kawasan San Isidro, San Borja dan Miraflores dikonsep sama tapi dengan bangunan yang lebih kontemporer. Saya memberi nilau plus pada banyaknya taman di setiap sudut kota yang dijadikan ruang publik. Ini yang kita rindukan di Jakarta.

Sebagian penduduk Lima memang tinggal di pinggiran kota, mendiami bukit pasir dan batu yang memang mengitari kota Lima. Mereka sebagian besar adalah dari suku Indian yang bermigrasi ke kota Lima. Rumah mereka kotak-kotak seperti di Timur Tengah. Kumuh dan berdebu, maklum, Lima jarang sekali hujan. Seperti di Jakarta, masyarakat pinggiran pergi ke kawasan El Peublo, Lima, kawasan pinggiran Lima untuk bekerja sebagai buruh. Ada pabrik garam kimia yang didulang dari gurun pasir di sekitar Lima. Garam ini biasanya digunakan untuk campuran pembuat semen

2. The Collonial City

Gedung-gedung peninggalan Spanyol terutama di Centro de Lima terjaga apik. Di sinilah kemegahan kolonial bisa dilihat. Ada Istana Presiden (Palacio de Gobierno) dengan taman dan alun-alun di tengahnya yang mereka sebut sebagai Plaza de Armaz.

Di sampingnya ada Catedral de Lima, peninggalan bangsa Spanyol yang megah dan dibangun pada abad ke 16 Masehi. Saya sudah memotret beberapa exterior catedral ini sebelumnya, pada kunjungan saya yang kedua, bertepatan dengan hari Minggu, ternyata gereja ini dibuka. Terpukau saya melihat interior neo klasik bangunan abad ke 16 ini. Saya masuk ke ruangan-ruangan ibadah, terutama di depan patung kayu Virgin of Evangelization karya Rogou Baldoque yang diimpor langsung dari Spanyol.

Lima boleh disebut sebagai kota ketedral, setidaknya ada lima ketedral besar di sini. Sebut saja ketedral San Fransico.Ini adalah ketedral tertua di Lima. Ketederal ini memiliki ruang bawah tanah (catacomb) untuk menyimpan kerangka sekitar 25 ribu orang, mulai dari para santo sampai jemaat gereja dan penduduk kota Lima.

Lukisan para Santo yang menyebar agama Katholik di Lima dan sekitarnya terpajang apik di ruang bawah tanah ini. Saya beruntung bisa masuk ke sini, karena menemani Ibu Marie Pangestu yang berziarah ke 2 ketedral tua di kota Lima. Hanya tamu negara yang diperkenankan masuk dan memotret ruang bawah tanah ini. Peziarah lainnya boleh masuk pada ruang-ruang terbatas di ruang bawah tanah.

Masih di kawasan ini, tepatnya di sebelah kanan istana presiden, ada bangunan antik berrwarna merah. Ini adalah katedral Santo Dominggo ( Iglesia – Convento de Santo Dominggo). Didirikan tahun 1553 untuk menghormati Santo Dominggo yang ikut mendirikan kota Lima. Di depan istana ada kantor pos besar. Kawasan yang disebut Plaza de Armaz ini cantik dan indah sekali. Saya merasakan aura Eropa dan Mediterania di sini

Penulis : Apni Jaya Putra. Bekerja di RCTI, dipekerjakan di PT Sun Television Network. Juga dosen bidang media studies dan broadcasting di beberapa kampus di Jakarta.

makasih ya Pak Apni – Blog Pak Apni : http://apnijepe.blogspot.com


Peru Family Experience

Peru Family Experience

Wisata Seru Peru bersama Keluarga

Wisata Seru Peru bersama Keluarga

Setiap petualang seru mesti mengunjungi Peru! Kenalkan anak-anak kita kepada perjalanan yang seru menuju ke Amazon, Machu Picchu, Cusco dan perjalanan selama sembilan hari yang akan mengubah cara pandang kita. Kita akan melewatkan waktu di G Lodge Amazon untuk belajar tentang kehidupan di alam bebas sebelum menjelajah ke lembah Urubamba, terpesona dengan keagungan Machu Picchu dan berinteraksi dengan orang lokal – termasuk anak-anak di Cusco dan Lima. Peru akan menjadi kenangan yang terus hidup di anak-anak kita, bahkan ketika mereka sudah bukan anak-anak lagi.










2 comments

  • Mas Apni,
    Mohon info di Peru dulu menginap di hotel mana?
    Apakah ada local tour agent yg recommended, biar gak ketipu gitu…..he..he…. makasih.
    Ida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: