Kampung Singkong, Turun Temurun Hidup Tanpa Makan Nasi dari Beras Padi

Di Kampung Singkong

10 kilometer sebelah selatan Kota Cimahi, Jawa Barat terdapat sebuah kampung yang sejak turun temurun hidup dari memakan singkong dan bisa juga disebut anti beras, namanya Kampung Cirendeu. Pas saya kesana kebetulan ada warga yang sedang hajatan (ada sebuah kebiasaan unik di kampung tersebut, dimana setiap hari pada bulan bulan tertentu ada adat bergantian, satu keluarga memasak untuk seluruh warga).

Saya pun ikutan dikasih makan deh, hehehe lumayan … soalnya disini nggak ada warung yang jual makan bu … jadi ada yang kasih makan gratis ini mah rejeki nomplok banget. Jadi sesuai dengan julukannya Kampung Singkong, disini anda nggak akan menemukan beras padi, karena nasi pun dibuat dari singkong.

Pas aku cobain, hm … pertama rasanya so pasti aneh. Manis nggak, hambar nggak, asin nggak, pokoknya asing aja bagi lidah ini … tapi pas sudah suap ke lima dan selanjutnya, enak juga hehehe … apa karena laper ya??? nggak tau deh … yang jelas nasi singkong ini sangat enak ketika dicampur dengan aneka lauk yang disediakan… yang paling mantab adalah masakan sayur kacangnya yang saya sampai dengan tidak tahu malunya minta nambah hehehee…

Ketika nanya sama penduduk, kenapa sih kok masih makan nasi singkong? Mereka menjawab, ini sudah tradisi sebagai rasa cinta pada tanah leluhur Pasundan. yang bila dilanggar dapat menimbulkan bencana kekeringan dan kelaparan.

Jawaban yang lebih masuk akal kemudian bersuara menyusul. “Ya secara logisnya gini, dulu zaman Belanda, beras padi itu kan barang mewah sedangkan disini itu banyak sekali ditumbuhi oleh singkong liar yang beracun. Maka daripada mati kelaparan, leluhur kami pun mulai mencoba coba cara supaya singkong beracun tersebut bisa dimakan.

Akhirnya ketemu cara membuang racun dan nenek moyang kamipun akhirnya bisa bertahan hidup meski tanpa beras, yakni dengan singkong beracun ini. Nah, kebiasaan itu terus diturunkan. Kami pun disuruh untuk tetap mengkonsumsi singkong ini, supaya kelak kami bisa terus bertahan hidup meski tak ada beras.”

Ternyata, seiring perkembangan zaman yang menuntut adanya uang sebagai nilai tukar untuk hidup, maka ternyata singkong pun lah yang akhirnya menghidupi mereka. Mayoritas warga (terutama wanita) memiliki pekerjaan sebagai pengrajin singkong. Singkong diolah menjadi berbagai macam bentuk, mulai dari kerupuk singkong, rangginang singkong, opak singkong, peuyeum dan awug.

So, disaat harga beras naik turun kayak roller coaster, mereka nggak panik dan biasa aja. Ya karena mereka emang nggak makan beras. Bahkan singkong pun hampir tiap rumah punya ladang sendiri. Mereka bener bener hidup mandiri dan nggak tergantung sama dunia di luar desa mereka. Ya mirip mirip daerah Baduy lah ya… mereka mandiri.

Oya, tapi jangan bayangkan kampung ini seperti Baduy yang rumahnya terbuat dari atap rumbia dan dinding bambu, karena rumah disini sudah modern semua, terbuat dari bata dan keramik. Listrik pun nyala 24 jam dan sebagian penduduk juga sudah memiliki kendaraan bermotor pribadi. Kampung ini seperti layaknya kampung biasa, yang berbeda hanya dari segi perilaku yang masih mempertahankan adat istiadat leluhur, terutama soal pangan dan keyakinan.

Didesa ini pun tak seperti desa desa lainnya di tanah Jawa yang dikelilingi oleh sawah. Kebanyakan lahan digunakan untuk beternak sapi dan kambing. Untuk agama, mereka juga masih mengikuti peninggalan nenek moyang, yaitu ajaran Penghayat. Mereka sangat patuh pada para tetua dan sesepuh.

Kampung Adat: Kampung Cireundeu RT 9, Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat.





4 comments

  • @yuliawan: turun di bandara husein bandung. yg paling mudah. naik taxi. sekitar 100rb. dan apabila ingin berpetualang di kota sejuta angkot (angkutan kota), anda hanya keluar dari bandara. kemudian naik angkot yg jurusan cimahi, ongkos sekitar 4000, turun di pertigaan cimindi, dan naik sekali lagi naik jurusan leuwigajah. dan minta turun di leuwigajah. tanya tukang ojeg. minta diantar ke cireundeu. ongkos ojek sekitar 10-20rb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: