Edisi Mahameru (3) – Tak boleh ada kata ‘Lelah’ untuk Menggapai Mahameru

indahnya puncak mahameru dari kalimati

indahnya puncak mahameru dari kalimati

Setelah dari Kalimati kita menuju ke Arcopodo (2-3 jam), perjalanan ini kami lakukan jam 02.00 dini hari. Berbekal senter dan minuman sebotol, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Puncak Mahameru. Tapi tidak semua tim ikut berangkat dan inilah tips bagi yang pertama kali ingin melakukan pendakian ke Semeru, sebaiknya ada tim sukarelawan yang mau tetap tinggal di Kalimati (nggak ikut ke Mahameru).

Pekerjaan yang tetap tinggal adalah menyiapkan makanan dan minuman untuk tim yang berangkat ke puncak dan menjaga barang bawaan di tenda (meski nggak ada sih ya yang iseng akan mengambil barang, tapi ini hanya demi keamanan, siapa tau ada yang membawa benda benda berharga). Karena medan menuju ke puncak sangat berat, jadi sebaiknya bagi pendaki pemula tidak usah membawa tas yang berat, cukup air minum dan makanan kecil seadanya saja.

Dari Kalimati kami melanjutkan perjalanan ke Arcopodo. Kawasan ini dapat digunakan sebagai tempat mendirikan tenda, namun karena tak ada sumber air disini, mayoritas pendaki lebih memiliki menginap di Kalimati. Berhubung kami berangkat dari Kalimati dengan estimasi waktu sampai di puncak sebelum jam 10 pagi (diatas jam 10 puncak harus sudah steril dari manusia, karena diatas jam tersebut, semeru pengeluarkan gas beracun yang tak kasat mata yang telah menewaskan Soe Hoek Gie dan Idhan Lubis dari Mapala UI tahun 1969) maka kami berangkat jam 2 dini hari.

Jurang Jurang Perjalanan

Selama perjalanan dibutuhkan kewaspadaan yang sangat. Karena medan dari Kalimati – Arcopodo – hingga Cemoro Tunggal dipenuhi oleh jurang jurang dalam di kanan dan kiri yang seminggu sebelum kami datang ke sini sempat merenggut nyawa pendaki dari UGM.

Kawasan Arcopodo kami tempuh dalam waktu 2 jam, dan jalan terputus…..Dalam keremangan senter di kepala, kami menuruni tebing yang longsor dengan berpegangan akar pohon. Kami harus tetap konsentrasi, melawan kantuk dan angin yang menderu-deru tiada henti. Dingin sekaligus menggigil, sementara trek mudah hancur. Salah langkah kita bisa hilang dalam kelam.

Akhirnya kami sampai juga di batas pasir, dan kelelahan pun dimulai. Pasir dan batu kerikil kecil bila dinjak di tanah rata saja, sulit melewatinya, apalagi ini di kemiringan yang mencapai 70 derajat. Pasir yang dalam ini cenderung lembek dan membuang tenaga. Jadi bayangkan, bila kita harus melewatinya dalam kondisi setengah merangkak setinggi lebih 1000 meter berjalan di atas ketinggian 3000 m dpl dengan udara tipis. Melangkah 5 langkah dan kita turun lagi 2 langkah, jelas sangat-sangat lelah, letih dan putus asa….

medan yang berat di semeru

medan yang berat di semeru

perjuangan menuju puncak mahameru

tepar di semeru

mas tata akhirnya sampai di puncak mahameru

Namun di tengah padang pasir yang seolah tak berujung ini terdapat sebuah pohon cemara yang menandakan kita tidak salah jalur, inilah yang dinamakan kawasan cemoro tunggal. Jika di bahasa Indonesia kan berarti kurang lebih pohon cemara yang cuma satu satunya.

Namun, di cemoro tunggal ini kita bisa melihat indahnya matahari terbit yang berjalan perlahan melewati bukit bukit sampai akhirnya berada persis sejajar dengan kita. Pemandangan awan putih dan gunung gunung lainnya yang terlihat kecil pun menjadi hiburan dan ekstra santapan rohani tersendiri. Ungkapan syukur atas Agungnya Tuhan tak mungkin anda lupakan melihat segala keindahan ini.

Hm… tapi berjuangan belum usai, setelah cemoro tunggal ini kita masih harus menaiki tanjakan pasir ini untuk mencapai top of the puncak Mahameru. Masih 600 meter lagi, dimana untuk tenaga kelinci macam aku, 100 meternya harus ditempuh dalam waktu sekitar 30 – 40 menit, benar benar 100 meter yang terasa begitu jauh. Tapi, tidak demikian bagi para pendaki profesional.

Saat itu kami berangkat dari Kalimati hampir bebarengan dengan pendaki asal Prancis. Nyatanya, kami baru saja sampai di Cemoro Tunggal, beberapa orang dari wisatawan tersebut sudah tampak sedang menuruni puncak. Ketika kami tanya jawaban mereka dalam bahasa Perancis kira kira seperti ini, ”Pemandangan yang sangat indah, kami sudah foto foto di Puncak, foto juga di monumen Soe Hok Gie”. Heeeh??? Sementara kami masih baru di cemoro tunggal dan dia sudah kembali pulang, luar biasa memang pendaki Prancis ini.

Puncak Mahameru

Puncak Mahameru atau Puncak Jonggring Saloko memiliki keunikan pada setiap 10 – 15 menit sekali menyemburkan abu dan batuan vulkanik yang didahului semburan asa berwarna hitam kelam membumbung tinggi ke angkasa raya seakan – akan menyelimuti seluruh puncak. Suhu di puncak Mahameru kadang–kadang 0–4 derajat celcius yang disertai kabut yang tebal dan badai angin.

Antara beruntung dan tak beruntung, ketika kami kesana terdapat informasi, sudah 3 bulan lebih gunung semeru tidak batuk batuk. Saya nggak membayangkan jika semburan abu tersebut rutin terbatuk 15 menit sekali, mungkin saya sudah tak ada lagi disini. Ya, pergi ke Semeru adalah tantangan tersendiri yang tak boleh disepelekan. Jika memang tak kuat, jangan memaksakan diri untuk menggapainya.

Jam sudah menujukkan pukul 9.15 menit. Saya masih kurang 50 meter untuk menggapai puncak teratasnya dimana monument Soe Hok Gie terpatri. Namun, tenaga benar benar sudah habis, bahkan tak tersisa tenaga untuk kembali turun ke bawah.

Teman teman yang sampai ke atas, Mas Tata, Mas Chaidar dan beberapa teman TRAMP, segera turun dan memberitahu sebaiknya saya, Mas Eko dan Mbak Senny tidak usah memaksakan diri untuk sampai ke puncak, karena bau belerang sudah mulai menyengat.

Kami pun harus buru buru turun dan masalahnya tenaga saya sudah berada di titip nafas penghabisan, begitupun dengan Mas Eko. Akhirnya teman TRAMP yang berbudi luhur tanpa pamrih, benar benar menunggu kami yang jalan bak siput, bahkan sesekali terguling guling.

Satu yang perlu diingat, gaya berguling guling yang saya lakukan ini sangat tidak pantas untuk ditiru, karena bisa jadi akan terantuk batu batu tajam, atau terjatuh ke jurang bahkan jika tak terkendali akan nyasar ke belantara tanpa manusia dan tanpa signal HP.

Hal lain yang mesti diperhatikan pula, jangan sekali kali meninggalkan teman. Karena puluhan kejadian orang hilang dan atau meninggal, karena mereka tertinggal rombongan dan atau ketika temannya sedang mencari bantuan, teman yang ditinggal ketika didatangi sudah tidak ada ditempat. Ya, karena saya sendiri merasakan putus asa dan berulang kali minta ditinggal untuk dibiarkan disana saja sendiri, karena tenaga benar benar habis tak bersisa, sementara saya tak mungkin membiarkan teman yang lain menunggu saya yang terlalu lambat ini. Pikiran kosong dan yang ada hanya rasa letih yang sangat. So,… jangan pernah nekat mendaki Puncak Semeru tanpa persiapan fisik dan pelatihan sebelumnya.

Saya sendiri, tak pernah naik bukit apalagi gunung. Boro Boro pelatihan mendaki gunung di gunung gunung yang lebih kecil terlebih dahulu, perintah untuk jalan saja baru saya dapatkan 5 hari sebelum keberangkatan itu pun katanya hanya ekspedisi kuliner warga Tengger. So, sekali lagi peringatan, jangan pernah main main dengan alam. Jika anda memang ingin menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini, berikan pelatihan pada fisik anda dan persiapkan dengan benar kebutuhan selama pendakian. Selamat menikmati Puncak Para Dewa …

perjalanan pulang, semeru terbakar

Mitos Mahameru

Mahameru  dipenuhi mitos sebagai gunung suci, sakral penganut Hindu Kuna, yang dulu mendominasi  masyrakat Jawa. Puncaknya yang berwarna cerah itu, diyakini diambil oleh dewa dari tanah Himalaya, India untuk menopang Pulau Jawa agar tak tenggelam di laut. Pada masa pra Islam, menjadi gunung yang disucikan, hanya orang-orang terpilih yang boleh mendaki ke kaki gunungnya. Rakyat jelata dilarang menaiki gunung itu.  Tak heran masih ditemukan prasasti di Ranu Kumbolo dan Arca di kawasan Arcopodo, menandakan situs keagamaan masa lalu.  Suku Tengger yang mendominasi penduduk Ranu Pani, Gubuk Klakah dan Ngadisari, Bromo adalah sisa-sisa rakyat Mataram Hindu yang menyingkir ke Bromo-Semeru, karena menolak agama Islam.

Keangkeran Mahameru masih diakui oleh pendaki gunung di Indonesia, bukan karena tahayulnya namun karena tingkat kesulitan pendakiannya. Phase Mendaki Puncak Mahameru, merupakan latihan skala kecil dalam pendakian ke Himalaya. Sama-sama kelihatan puncaknya saja, dan harus melalui aklimatisasi dan membuka camp-camp pendahulu untuk mencapai puncaknya (Himalayan tactick). Beda dengan mendaki Gunung Gede atau Pangrango yang bisa sekali kebut seperti pegunungan Alpine (Alpine tactick).  Belum lagi tumpukan pasir setelah Arcopodo -Cemoro Tunggal-Mahameru, yang trek pendakiannya sangat tidak stabil, mudah longsor dan melelahkan.

Ketika Pulang, segalanya Hangus

Hampir saja kami tak bisa pulang, karena ketika sampai di Kalimati, kami mendapat kabar dari guide turis Prancis yang lainnya, bahwa mereka baru saja melewati hutan yang terbakar dan tidak menyarankan kami untuk pulang karena jalur pulang telat terkepung oleh kebakaran hutan yang hebat. (Jalur ke Semeru sering kali terbakar, dengan 3 faktor : Sengaja dibakar untuk kepentingan bisnis, Tak sengaja karena ada yang merokok dan membuang puntung ke rumput kering dan ketiga kebakaran alam akibat gesekan tanaman kering yang menghasilkan api. Perlu diingat, sepercik api bisa membakar seluruh hutan)

Usai berunding, akhirnya kami memutuskan menerjang kebakarang dengan alasan, tinggal disini pun kami akan mati kelaparan karena bekal makanan sudah benar benar habis, hanya tersisa 3 bungkus mie instan yang tak mungkin untuk kami ber 17 dengan hitungan menginap yang tak tahu kapan api padam.

Beruntung kami memutuskan pulang, karena hutan telah habis dan api sudah diarah yang lain. Besoknya kami mendengar kabar, ternyata hampir seluruh hutan seluas ratusan hektar sudah habis hangus. Nah, buat pecinta alam, sebaiknya jangan merokok ya saat berpetualang, kalau terpaksa merokok pastikan puntung dibasahi air sehingga tak ada sisa api yang mungkin bisa membakar hutan.

Yang Menarik dari Perjalanan menuju Ke Puncak Mahameru

  1. Selama Perjalanan dari Ranu Pane hingga Kalimati, pemandangan sangat indah. Tertama di Ranu Kumbolo tempat menginap bagi para pendaki untuk menyesuaikan diri dengan cuaca dan oksigen. Danau yang indah ini sering juga menjadi tempat belibis mengisi bahan bakar. Ketika bangun pagi pun, anda nanti akan menjumpai tenda yang terselimuti embun beku yang tanpak bak salju. Ow,… pantes dingin banget.
  2. Melihat pemandangan gunung dari atas gunung tertinggi di Jawa
  3. Rasa Persaudaraan terpupuk
  4. Merasakan makan khas suku Tengger yang nyam nyam banget, enak. Anda bisa menikmati makanan lezat ini ketika di Ranu Pane.

Yang Mesti dilakukan sebelum Naik ke Puncak Mahameru

  1. Naik Gunung yang lebih kecil terlebih dahulu (latihan)
  2. Latihan Fisik paling nggak jogging setiap pagi selama 2 bulan
  3. Banyak Konsultasi dengan pendaki sebelumnya tentang medan di Semeru
  4. Bekali diri dengan info sebanyak mungkin tentang rute perjalanan
  5. Sebaiknya pergi sama yang sudah sering kesana atau sewa guide

Yang Mesti dipersiapkan dan nggak boleh lupa di Bawa saat ke Semeru

  1. Baju dan Sleeping Bag yang hangat, kalau bisa dari bulu angsa
  2. Bawa Madu dan Permen juga Obat obatan
  3. Meski terdengar repot, namun peralatan masak untuk camping sebaiknya tak lupa dibawa. Karena kita akan menghadapi medan yang tak biasa, tak ada rumah penduduk apalagi warung. Perjalanan pun akan ditempuh paling cepat 3 hari, dimana kita pasti membutuhkan makanan berkarbohidrat dan berprotein. So, bawa beras, mie instan, makanan kalengan, ini sangat dibutuhkan.
  4. Air dalam botol kemasan yang bisa di isi ulang. Ini juga vital sekali dalam pedakian. Jangan sampai mendaki tanpa persiapan air. Sebaiknya membawa botol kosong juga untuk persiapan menginap di Kalimati. Karena sesuai namanya, kali nya (sungai) mboten enten (nggak ada). Sementara kita di Kalimati ini mesti menginap, kalau gak ada air, gimana besok mau jalan ke puncak??? Karena boro boro di puncak, di dataran sini aja udah gak ada air.
  5. Bawa Tissue Basah dan Tissue Kering. Bisa dipastikan dalam pendakian kita nggak akan berjumpa dengan toilet. So, kebutuhan buang air kecil dan besar sebaiknya difasilitasi dengan tissue basah dan kering.
  6. Pisau lipat dan senter lengkap dengan baterainya. Ini juga vital ya, senter sangat dibutuhkan terutama nantinya dalam pendakian menuju ke puncak yang baru bisa dinaiki pada pukul 02.00 WIB saat langit masih benar benar gelap gulita. Sementara pisau bisa diperlukan sewaktu waktu.
  7. Sepatu. Di medan yang berat ini keadaan sepatu juga mesti diperhatikan. Sebaiknya memang menggunakan sepatu untuk pendakian.
  8. Kamera dong… alat untuk mengabadikan saat saat mendebarkan – pemandangan selama perjalanan dan terutama pemandangan saat sampai di puncak.

Perizinan: Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828…

bersama tramp

pulang dari semeru babak belur semua

Untuk info perizinan dan cara mengenai bagaimana akses menuju ke Semeru, bisa dibaca di Edisi Mahameru (1) di wisataseru.

Pengalaman ini ditulis oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan Hendrata Yudha. Foto oleh pecinta alam TRAMP

Perizinan

Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828. Di tempat ini anda juga bisa nanya kontak person Pak Tuangkat, Penanggung Jawab Ranu Pane. Atau bisa menyerahkan segala urusan pada Professional Guide yang juga kawan saya Mas Monggang 0878 597 88433p

Biaya perizinan:

  • orang lokal Rp 6000 per person
  • asing Rp 20.000 per person
  • include asuransi

Pengalaman oleh: Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan Dokumen Foto: Thanks to Mas Chaidar dan Boim (Tramp)

————————————————-

Penulis : Catur Guna Yuyun Ang
Instagram : @catur_guna & @wisataseru
Email : [email protected]
Untuk mendapatkan Update artikel kami, bisa ikuti kami di :
Twitter : @wisataseru
FB Group : https://www.facebook.com/groups/wisataseru/
Like FB wisataseru disini, Klik Here

 




%d bloggers like this: