Edisi Mahameru (2) – Salju dan Matahari di Celah Bukit, Ranu Kumbolo

salju bertahan sampai pagi

mejeng dulu di depan danau ranu kumbolo

Perjalanan dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo

Pos Ke dua untuk menuju ke Puncak Mahameru adalah Ranu Kumbolo. Dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo dibutuhkan waktu 3 – 4 jam  perjalanan dengan jarak sekitar 10 Km. Dengan tipe perjalanan melewati tanah yang mudah longsor langsung menuju ke jurang yang dalam, sebaiknya berhati hati dan tidak becanda.

Selain mesti berhati hati, terdapat mitos, jika sedang melakukan pendakian, sebaiknya tidak mengeluarkan kata kotor sedikit pun. Selain secara kebudayaan umpatan kotor tidak baik, juga untuk menghormati tanah yang kita pijak dimana itu bukan daerah kita. So, sebaiknya lakukan perjalanan dengan itikad baik. Ya, ini kan daerah yang tidak kita kenal dimana juga tidak berpenduduk, jika kita bermain main dan terjadi sesuatu, bisa jadi tak ada yang akan menolong.

Dalam perjalanan ini kami ber 17, terdiri dari 13 tim pecinta alam TRAMP yang merupakan satu satunya organisasi pendaki gunung di Indonesia yang dibina Kodam Jaya sejak tahun 1975 yang dikepalai oleh Om Yonkal kami memanggilnya. Sedangkan 5 orang lainnya terdiri dari saya, Mbak Senny (free lance penulis artikel di beberapa media cetak), Mas Tata (waktu itu masih sebagai Produser di program MTV), Mas Eko (Kepala Editor Produksi Global TV) dan Mas Chaidar (Kameramen Global TV).

Kawan dari TRAMP merupakan tulang punggung bagi kami berlima pada wartawan yang tak pernah berlatih fisik, hehehe. Jadi, segala macam peralatan masak seperti kompor dan aneka bahan bakunya, semua dibawa oleh teman TRAMP ini.  Bahkan, tas gunung saya yang berisi sleeping bag dan aneka lainnya pun dibantu dibawakan mereka, Puji Tuhan…. Hm,… bawa ransel berisi makanan kecil saja sudah membuat saya pegal apalagi kalau mesti bawa tas seberat 25 Kg, ups… tak sanggup tampaknya.

Jadi, saran buat para pendaki pemula. Sebaiknya selain anda mesti punya pemandu jalan, sewalah kuli panggul yang akan membawa segala keperluan pendakian anda selama 4 hari ini. Tak usah malu, karena hampir semua wisatawan termasuk wisatawan asing yang saya jumpai disini hampir semua menggunakan jasa kuli panggul. Toh, biayanya tak mahal hanya Rp. 75 ribu (tapi saya lupa bertanya, itu tarif perhari atau selama 3 – 4 hari pendakian).

salju di ranu kumbolo semeru

salju bertahan sampai pagi

Cerita ku di Ranu Kumbolo

Perjalanan ke Ranu (Danau) Kumbolo (2450 m) berupa jalan melingkari pegunungan. Tidak begitu tinggi namun sepadan antara naik dan turunya, boleh dibilang perjalanan lebih fun. Ada tiga gunung yang dilewati, yaitu Gunung Lanang, yang pertama kita lewai dengan memutar hingga seperti ular tangga, kemudian Watu Gunung, tebing setinggi 100 meter yang kokoh membentengi hutan tropis disana dan Gunung Ayek-Ayek yang menjadi pintu masuk ke kawasan indah padang rumput dan danau Ranu Kumbolo yang memiliki luas 12 hektar.

Wow,… di sepanjang jalan 500 meter sebelum sampai di Ranu Kumbolo, sudah terdapat bunga abadi yang tampil memikat dengan pemandangan di bawahnya Danau Kumbolo, disitulah nantinya kita akan bermalam hari ini. Sampai di bawah (oya Danau ini terletak di lembah, jadi posisinya ada di bawah), di Danau Kumbolo, Pemandangan begitu indah, savana luas dan air jernih menyambut kami. Rasa lelah hilang.

Di lokasi ini sudah mulai mudah kita dapati monumen bertuliskan nama nama orang yang meninggal dalam pendakian ke Semeru. Monumen monumen seperti ini akan kita jumpai terus nanti di sepanjang perjalanan sampai ke Puncak Mahameru, dimana disana terdapat Monumen Soe Hok Gie, pemuda pejuang kebanggaan bangsa Indonesia yang meninggal di Puncak Semeru karena menghisap gas beracun Semeru.

Usai melepas penat, kami langsung mendirikan tenda di pinggir danau, kemudian memasak sop yang hangat. Pemandangan yang indah ditambah perut kenyang, seharusnya membawa kami ke alam mimpi yang indah. Namun menjelang dinihari, cuaca anjlok hingga minus nol derajat celcius. Hampir semua tim kedinginan dan mengeluh tak bisa tidur, sebab sleeping bag yang membungkus tubuh kami sulit mempertahankan suhu tetap hangat.

Di antara terangnya sinar bulan, pada  awal Agustus itu, kami banyak yang keluar tenda dan memandangi permukaan danau yang diselimuti kabut tipis dan bintang bintang cemerlang yang hampir tak pernah kami jumpai di Jakarta. Menjelang pukul 5 pagi, kami mendapati tenda-tenda dilapisi kristal-kristal es. Kami mengambil kristal itu dan saling melemparkannya ke tim yang masih kedinginan. Benar benar seru!!!

pagi di ranu kumbolo semeru

Keindahan Tuhan melalui Salju dan Matahari di celah Bukit

Tapi pemandangan salju ini hanya permulaan dari keindahan Ranu Kumbolo, karena ketika jam menunjuk pukul 6.15 pagi, perlahan lahan matahari terbit dari celah celah bukit, memantulkan warna jingga keemas emasan di area Danau. Keindahan itu disempurnakan dengan uap air di atas danau yang bermutasi dari malam yang dingin ke hangatnya mentari pagi.

Meski kami tak menemukan sepasang belibis yang menjadi legenda temannya pendaki gunung kami tetap menikmati pemandangan matahari terbit ini. Setelah makan pagi yang nikmat, kami segera melipat tenda untuk melanjutkan perjalanan sehari lagi ke Kalimati, kaki Gunung Semeru.

tanjakan cinta di semeru

santai dulu di tempat pemberhentian

Plus Minus Tanjakan Cinta dan Cemoro Kandang

Hadangan pertama, kami harus menaklukan tanjakan cinta setinggi 60 dengan kemiringan hampir 70 derajat. Cukup menguras tenaga, walau membuat nafas terengah-engah namun kami tetap cinta naik gunung ini. Setelah itu akan terhampar padang savana seluas 10 hektar yang indah. Adegan foto-foto dan syuting membaur, membuat kami saling tersenyum menandakan facebook masih aja ada dipikiran kita. Kalau melihat savana seluas ini, seharusnya kami menemukan rusa atau kijang, tapi sudah tak ada lagi.

Di perbatasan hutan berikutnya, kami memasuki kawasan Cemoro Kandang yang menilik namanya pasti tempatnya rusa-rusa beranak-pinak. Ini pendakian biasa, kami harus menuju Kalimati (2400 m) namun melingkari Gunung Kepolo (3000 m). Lintasan penuh alang-alang dan hutan pinus, di sana-sini berdebu dengan bekas aliran dingin. Belum lagi jurang-jurang sedalam puluhan meter yang mengerikan.

Untuk perjalanan hari kedua ini, kami membagikan makanan dalam kantung platik kecil ke setiap tim. Jadi selama perjalanan itu, setiap orang bisa langsung mengkonsumsi tanpa perlu menunggu tim logistik datang. Cukup efektif mencegah lapar yang datangnya tak pernah bersamaan setiap perutnya. Cuaca yang begitu panas, membuat kami harus minum sebanyak mungkin agar tak dehidrasi. Susahnya air mulai sulit diperoleh, dan kami membawa jerry can plastik sebanyak mungkin.

Di Kalimati, sebetulnya bukan pos berikutnya (ada camp arcopodo), tapi para pendaki lebih suka buka tenda disini, karena sumber air yang masih mudah didapat. Sementara di Arcopodo (3000 m), sudah berada di lereng gunung tak ada lagi sumber air minum.  Dari Kalimati kita bisa mengamati dengan jelas struktur punggung Mahameru yang berwarna kelabu itu, bongkaran batu bekas lava yang membeku, badai pasir dan langit tak berawan itu.Menjelang sore ketika sinar matahari melemah, kita menyaksikan pemandangan indah. Di antara langit biru, menjulang tinggi dan massif kumpulan pasir, batu dalam ukuran raksasa menopang tanah Pulau Jawa menggapai langit.

Untuk informasi lebih lengkap sebaiknya klik juga artikel sebelum dan sesudahnya (edisi mahameru (1) dan edisi Mahameru (3) di wisataseru

Pengalaman ditulis  oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan Hendrata Yudha (Mas Tata), Foto oleh tim TRAMP

Perizinan

Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828. Di tempat ini anda juga bisa nanya kontak person Pak Tuangkat, Penanggung Jawab Ranu Pane. Atau bisa menyerahkan segala urusan pada Professional Guide yang juga kawan saya Mas Monggang 0878 597 88433p

Biaya perizinan:

  • orang lokal Rp 6000 per person
  • asing Rp 20.000 per person
  • include asuransi

Pengalaman oleh: Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan Dokumen Foto: Thanks to Mas Chaidar dan Boim (Tramp)

————————————————-

Penulis : Catur Guna Yuyun Ang
Instagram : @catur_guna & @wisataseru
Email : [email protected]
Untuk mendapatkan Update artikel kami, bisa ikuti kami di :
Twitter : @wisataseru
FB Group : https://www.facebook.com/groups/wisataseru/
Like FB wisataseru disini, Klik Here

 




2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: