Edisi Mahameru (1) – Ranu Pane, Pos Pertama yang Terlalu Indah untuk sekedar Lewat

semeru bersama tramp

menuju puncak mahameru bersama global tv seru

Indahnya Puncak Mahameru

Mengapai Mahameru merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidup bagi saya. Pesona alam liarnya yang memancarkan keagungan Tuhan dan pelajaran pelajaran tentang kehidupan yang terpetik dari secuil perjalanan pendakian, membuat saya terpekur memandangan batapa hebatnya Tuhan mencipta.

Info singkat : Gunung Semeru merupakan Gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya yang biasa disebut Mahameru (3.767 mdpl). Berlokasi di Jawa Timur dengan wilayah administrasi terletak di antara Kabupaten Malang dan Lumajang. Kawahnya dikenal dengan nama Kawah Jonggring Saloko.

 

Ranu Pane, Mujizat awal di Tanah Tengger

Dengan Kendaraan Jeep yang disewa di Tumpang, rombongan kami terus menanjak melewati hutan hutan yang berada di bawah pengawasan perhutani. Tak lama kemudian, jeep kami berhenti pada sebuah pondokan tempat para pendaki biasa beristirahat (kami tiba dimalam hari dan suasana kampung sangat gelap – dari mobil sampai tempat pondokan saja kami mesti memakai senter untuk penerangan).

Pondokan ini merupakan tempat dimana perjalanan kendaraan bermotor harus diakhiri. Atau lebih tepatnya Ranu Pane merupakan pos pemeriksaan terakhir pendaki gunung Semeru. Disini akan di cek segala kelengkapan perizinan dan peralatan yang hendak dibawa. Di tempat ini terdapat fasilitas, pondok pendaki, pondok penelitian dan pusat informasi.

semeru bersama tramp

ranu pane semeru

Danau Ranu Pane yang Menawan

Keesokannya, saya dan kawan kawan sengaja bangun pagi. Begitu keluar pintu, “Tuhan, indahnya”. Ternyata penginapan kami berada persis di depan danau yang bernama Ranu Pane. Danau ini sangat bersih, dengan beberapa angsa berkecipak bermain air lalu dilator belakangi dengan perbukitan dan rumah penduduk. Lepas sudah segala kepenatan saya dari pemandangan bagunan beton Ibu Kota dan udara kotor knalpot jalanan.

Berkeliling dengan sepeda, kami menjumpai ternyata disini ada 2 Danau, yang satu bernama Ranu Regulo. Lalu kami melihat pula beberapa pura (masyoritas warga Tengger beragama Hindu – jadi banyak pura disini) dan lapar pun menyergap, kami segera menjumpai penjaga Ranu Pane, Pak Tuangkat dan meminta sesuatu yang istimewa untuk dimakan.

Semen, Masakan Spesial khas Warga Tengger

Tak disangka, si Bapak justru mengajak saya ke kebun yang lagi lagi membuat saya tertegun. Jika kita mencintai alam, betapa hebatnya Tuhan menyediakan. Begitulah kesimpulan saya ketika sampai di area perkebunan. Tak hanya hamparan perkebunan yang tertata rapi, hasilnya merupakan tanaman organik, tapi juga aneka tanaman liar yang menurut Pak Tuangkat semuanya bisa diolah menjadi makanan yang lezat.

Tak percaya, saya pun menantang dengan memasakkan saya, satu dari tanaman liar tersebut. Hm, ingin tahu saya enaknya seperti apa. Akhirnya saya dan Bapak pulang dengan membawa dua sak semen. Loh??? Dari kebun kok bawa semen???

Hehehe, semen adalah nama sayuran yang tumbuh dari bekas kol yang dibiarkan tumbuh liar. Dimana, semen ini merupakan sayuran kesukaan warga Tengger. Sampai di rumah, Istri Pak Tuangkat–selanjutnya kita panggil Ibu ya – langsung memetik cabai khas Tengger di samping rumah. Waaah, cabe khas Tengger ternyata sangat berbeda dengan cabai yang kita kenal selama ini. Cabenya sebesar tomat dan begitu dibelah dalamnya seperti paprika.

makanan tradional khas semeru

Dengan teknik pemasakan yang sangat sederhana, yaitu sayur dan cabai direbus lalu disajikan hangat hangat dengan sambal, ikan asin dan nasi jagung, wow … ini merupakan sayuran tersegar dan ternikmat yang pernah saya rasakan. Semen ini memiliki rasa manis dan gurih yang cukup tajam. Dengan sentuhan cabai Tengger yang tak terlalu pedas, kuah sayur ini menjadi sebuah rasa yang sangat nikmat. Ditambah makannya bersama dengan nasi jagung yang gurih dan kaya akan vitamin, juga ikan asin dan sambal yang dimasak hingga tanak lalu disajikan kembali dalam cobek besar.

Kenikmatan itu semakin menjadi jadi karena kami yang masih kedinginan (udara pagi disini rata rata mencapai 15 derajat celcius – bahkan menurut Ibu jika musim kemarau, maka perkebunan akan berwarna putih karena embun yang  membeku) menikmati aneka sajian hangat ini disamping tungku dapur.

Ya inilah salah satu keunikan warga Tengger. Bagi tamu yang mereka anggap akrab, akan langsung disuruh masuk ke bagian dapur. Karena disana terdapat tungku yang akan menghangatkan badannya juga badan tamu. Hm,… sajian spesial yang tidak akan saya lupakan.

Menurut Pak Tuangkat, warga Ranu Pane sehat sehat karena makanan yang mereka santap setiap hari selalu berbahan baku segar, dimana baru akan dipetik ketika akan dimasak,… ups enaknya. Mereka pun tak akan sakit karena kelaparan, karena selain mereka memang terlahir sebagai pencocok tanam, aneka tanaman liar yang disediakan Tuhan disini hampir semua bisa dijadikan santapan yang lezat. Selain itu, pekerjaan yang menuntut mereka berkeringat di ladang dan udara yang bersih juga turut sumbangsih dalam kesehatan.

Ranu Pane, Ranu Pane … indahnya alammu, indahnya kebersamaan wargamu, indahnya perkebunanmu dan indahnya pengalaman yang kudapat hari ini.

Jalur menuju ke Ranu Pane

Untuk menuju Ranu Pane yang merupakan daerah awal pedakian, ada dua jalur yaitu dari arah Senduro – Lumajang dan Tumpang-Malang.

Senduro – Lumajang

Jalur ini relatif jarang digunakan para pendaki. Namun, jika kita ingin menikmati hutan yang benar benar alami dan tempat persembahyangan agama hindu di Senduro (denger denger, pura terbesar di Jawa) inilah jalur yang tepat bagi anda. Dari Senduro ke Ranupani membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan bermotor.

Tumpang – Malang

Kami sendiri menggunakan jalur ini dengan rute dari Bandara Surabaya ke Malang untuk mengurus perizinan dan langsung ke Tumpang via nyarter mobil dengan harga Rp. 500.000,00. Tapi kalau mau naik angkutan umum juga bisa loh, dari Surabaya naik bus ke Malang (7000 – 15.000 rupiah), lalu sampai di Terminal Arjosari cari angkot yang menuju ke Tumpang. Kurang lebih 30 menit dari Tumpang ke Ranu Pane, kita bisa langsung naik jeep dengan tarif sekitar Rp. 450 ribu rupiah per jeep atau menumpang truk sayur yang ke ranu pane dengan ongkos berkisar Rp. 30 ribu perorang.

semeru perjalanan ke ranu kumbolo

Perizinan

Kantor Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jl. Raden Intan No. 6 Malang 65100 telp. 0341 – 491828. Di tempat ini anda juga bisa nanya kontak person Pak Tuangkat, Penanggung Jawab Ranu Pane. Atau bisa menyerahkan segala urusan pada Professional Guide yang juga kawan saya Mas Monggang 0878 597 88433p

Biaya perizinan:

  • orang lokal Rp 6000 per person
  • asing Rp 20.000 per person
  • include asuransi

Pengalaman oleh: Catur Guna Yuyun Angkadjaja dan Dokumen Foto: Thanks to Mas Chaidar dan Boim (Tramp)

————————————————-

Penulis : Catur Guna Yuyun Ang
Instagram : @catur_guna & @wisataseru
Email : [email protected]
Untuk mendapatkan Update artikel kami, bisa ikuti kami di :
Twitter : @wisataseru
FB Group : https://www.facebook.com/groups/wisataseru/
Like FB wisataseru disini, Klik Here

 




26 comments

  • Assalamu’alaikum wr. wb

    Salam kenal n salam wisata…
    mohon info terkini ongkos naik jeep ke Ranu pane..per orang ato per jeep.
    btw 450 rb sekali jalan or bolao balik , tks

  • 450 sekali jalan seinget saya hehehe… maaaf perginya sudah lama, jadi agak lupa… coba langsung hubungi pak monggang di 087859788433 / 081333767057 … dia adalah guide semeru profesional dan dia kenal sm smua penyedia jasa angkutan, sp tau bisa dapat murah, dia baik sekali…

  • Wah, Anda rupanya terlewat sesuatu yg paling menarik dlm perjalanan…
    Antara Tumpang – Ranu Pane, tepatnya daerah Jemplang Anda akan melihat belakang gunung Bromo yang kalau Anda lihat pasti langsung memuja kebesaran Tuhan…alias buagus buanget!!!

  • ow ow ow … apakah jemplang itu adalah lokasi dimana awan tebal terlihat bak di surga??? jika iya, betul sekali itu sangat indah,… aku lupaaaaa nama tempatnya jadi aku nggak pede untuk nulis … fotonya ada sih … tapi masih ragu, apakah itu yang di jemplang?

  • yup bener, dari Jemplang bisa kliatan Padang Savana dari atas coba deh kl kesana waktu musim hujan pasti tambah kliatan cantik krn rumput2nya tampak seperti green carpet tp jangan kesana pas hujan hehee…

  • bersyukur lah ente gan…. Perjalanan Menapak ke mahameru, Memang sprti di khayalan ane.
    Gw pngen jadi orang sana(ranu pane) ntuk njaga&ngelestarikan daerah situ.

  • Terima kasih ceritanya.. krn informasinya membantu sekali utk saya dan teman2 yang rencana foto hunting di ranupane bulan maret 2012.

  • Pengen ke sana… pengen ke sana… pengen ke sana… Menuju Puncak Mahameru, gak nyampe puncak, ampe ranu pane juga ga apa2, yg penting udah menginjakkan kaki di tanah tengger 🙂 untuk yang tidak mendaki, apa perlu membayar biaya perizinan??? Tolong infonya ya, pengen travelling ke sana :)menikmati ranu pane dan kuliner khasnya 🙂 terimakasih, artikelnya Mantab!!!

  • Apakah Ranu Pane ini berbeda rutenya dengan arah kita ke Pananjakan via Probolinggo?setahun lalu saya kesana, tp tidak menemukan Ranu Pane. Terimaksih atas infonya.

  • pemandangan dari tumpang sampai ke pucuk semeru memang gak ada duanya, gak ada di luar negeri, cuma ada di Indonesia, negri kita sendiri. dari anak kecil sampai yang dewasa gak bakalan kapok buat kembali kesana.

  • @dzein : wah saya cuma nulis artikel nih hehee belum ada kerja sama untuk tour kesana .. tapi boleh juga ya nanti saya cari tour jadi kalau ada kawan2 yang mau tour, bisa di akomodir

    @hermant : wah untuk ini saya juga ngga tau. tapi disana hotel banyak kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: