Antara Malacca dan Bengkulu (wisata Malaysia)

Malacca atau Melaka kata orang Malaysia adalah kota yang betul-betul saya ingin kunjungi. Sebab sejarah penjajahan kolonial di kawasan semenanjung Malaysia dan sebagian Indonesia bermula di sini. Pada abad ke 16 Portugis bercokol di sini, lalu berlanjut Spanyol, Belanda dan Inggris.

Dari Brosur yang saya punya kota ini amat eksotik. Saya ingin membuktikannya. Dua jam dari Kuala Lumpur, saya menempuh jalan darat via tol yang panjang. Begitu memasuki kota ini ada warna dominan terakota, atau warna bata. Warna ini khas menandai bangunan eks Belanda. Lalu ada bangunan yang berwarna putih, nah ini bekas bangunan Portugis. Di kiri kanan jalan ada juga bangunan India, Pecinan dan Melayu yang bersusun rapi dan hebatnya, masih bertahan sangat apik hingga kini.

Ini barangkali cara pemerintah Malaysia menjadikan Melaka sebagai kota sejarah mereka. Penataan bangunan tua yang dalam satu komplek dengan pedestrian yang lebar sangat memuaskan pejalan kaki untuk mengelilingi bandar tua ini. Ada 5 bangunan utama yang kini semuanya jadi museum. Bangunan itu antara lain eks benteng portugis dan eks gereja belanda. Kita cukup membayar 10 ringgit untuk mendapat tiket terusan untuk mengunjungi museum ini.

Ketika mengelilingi kawasan bangunan tua ini teringat saya dengan kampung halaman saya, Bengkulu. Kota ini juga dibangun oleh kolonial. Ada benteng terbesar di Indonesia, Fourt Marlborough. Yang membangun adalah East India Company (EIC). Di depan benteng ada jalan memanjang, di sebelah kanan adalah bangunan milik saudagar Eropa dan sebelah kiri adalah saudagar Cina. Tata ruangnya mirip sekali Melaka.

Lalu di mana bedanya. Banyak sih. Bengkulu sama sekali tidak menjadikan kawasan benteng ini sabagai flag ship pariwisata mereka. Benteng tua ini menjadi museum tua tak terawat. Lalu bangunan gedung pengadilan dan perumahan saudagar dibiarkan hancur dimakan usia.

Dulu sekitar awal 90-an ada organisasi yang bernama The Bengkulu Connection. Tokoh yang saya ingat adalah Norman Campbell dan George G Benton. Nama terakhir adalah top eksekutif di grup Lippo dan arsitek handal andalan keluarga konglomerat Mochtar Riady. Tapi tampaknya upaya NGO milik warga Skotlandia yang ada di Jakarta untuk merestorasi Benteng dan Kota Bengkulu tua terkendala will pemda dan urusan orang-orang dari direktorat purbakala. Mimpi Norman dan George G Benton waktu ini memang ingin menjadikan kawasan ini layaknya Melaka.

Saya ingin mengajak para petinggi Bengkulu untuk ke Melaka. Bukan melancong atau studi banding kayak pejabat kebanyakan, tapi betul-betul mempelajari dua hal dari Melaka, aspek komersialnya dapat, karena ini kawasan pelancongan utama di Malaysia tapi dari aspek konservasi juga dapat. Melaka menunjukkan bahwa aspek konservasi dan bisnis bisa bertemu kok. Di sini selalu dibenturkan.

Penulis : Apni Jaya Putra. Bekerja di RCTI, dipekerjakan di PT Sun Television Network. Juga dosen bidang media studies dan broadcasting di beberapa kampus di Jakarta.

makasih ya Pak Apni – Blog Pak Apni : http://apnijepe.blogspot.com

Booking Hotel di Malaysia, Klik Disini.




%d bloggers like this: