Serunya Malam Minggu Nonton Wayang Orang Bharata di Senen Jakarta

Wayang Orang Bharata

Punya temen dari Luar Negeri dan bingung mau di bawa jalan jalan kemana ya??? Aduh, katrok deh sampeyan kalau begitu aja pusing heheheee… sudah bawa saja mereka ke Gedung Bharata Purwa di kawasan Senen Jakarta Pusat. Disana ada pertunjukan Wayang Orang yang khas Jawa Banget. Meski pada akhirnya anda dan mereka (tamu dari luar negeri) tidak tahu para lakon ini berbicara apa (karena drama Ramayana dan Mahabharata ini diadegankan dengan bahasa Jawa Halus) tapi akan memberikan pengalaman dan sensasi tersendiri pada anda dan tamu anda.

Kenapa? ya tentu karena ini kan kebudayaan Indonesia banget yang perlu kita banggakan pada tamu tamu dari negara lain. Toh anda masih bisa bertanya pada Sutradara atau penjaga di gedung tersebut, sinopsis cerita yang akan atau baru saja dipentaskan. Setelah itu anda bisa menceritakan pada teman manca anda. Toh sebetulnya bagi anda yang gak bisa bahasa Jawa sekalipun pasti akan mengerti alur ceritanya karena di bagian atas panggung terdapat tulisan berjalan yang berisikan sinopsis dari pementasan yang sedang berlangsung.

Oya, jika anda datang kemari sebaiknya pakaian anda nggak busuk busuk amat ya. Pemikiran saya pertama, “Wayang Orang?” um, pasti sesuatu yang ndeso yang dipentaskan seolah di pasar malam. Ternyata, tau nggak? mata saya sampai terbelalak melihat para penonton yang datang. Hampir semua rata rata datang dengan mobil keren, beberapa Ibu Ibu tampak disanggul sasak dan menggunakan pakaian berbahan sutera. Terdapat pula Bapak Bapak lengkap dengan Jasnya. Mereka seolah hendak datang ke acara resmi ke – Presiden – an atau hendak masuk ke Resto Fine Dinning.Meski, … meski ada juga yang berpakaian santai. Keluarga dengan anak anaknya yang masih kecil atau para remaja penggila wayang (ternyata lumayan banyak lo pemuda kita yang masih doyan wayang, hebat yach. Patut dicontoh), tapi tetap penampilan mereka necis.

Di Balik Layar... 2 jam sebelum Pentas di Mulai

Pas saya tanya pada salah satu Bapak berjas, “Pak emang suka kesini?”, “Wah ya tiap malam minggu saya pasti kesini”, “Apa asyiknya sih pak, bukannya enak nonton bioskop ya pak?”, “Siapa bilang? saya ya jauh lebih suka nonton wayang Bharata daripada bioskop. Nilai filosofisnya tinggi perwayangan ini. Apalagi diperankan langsung oleh orang. Bagus sekali ini. Meski rumah saya jauh di Cinere (jauuuh boooo, itu Jakarta Selatan, ujung pula), tapi hampir tiap pementasan saya nggak pernah melewatkan” …. plok plok plok ginjal kanan dan kiri saya tiba tiba serasa sedang bertepuk tangan, salut pada bapak yang juga membawa serta istri dan ketiga anaknya untuk menonton wayang ini.

Lalu tak menyerah, saya bertanya pada gadis seusiaku yang juga ikutan antri (sampe antri looo, kursi sebanyak 245 ini seringkali bahkan penuh), “Gak malu apa hari gini masih nonton wayang aja?”, “Lo, ini bagus. Jangankan saya, adik sepupu saya yang masih SD aja sering merengek untuk diajak nonton wayang orang disini” … huiiiik lagi lagi kali ini jantung saya yang melompat kegirangan. “Hebaaat”.

Asal Usul Wayang Bharata

Mulanya sih wayang orang yang ada di Jakarta dan bertempat di gedung ini adalah kelompok Pancamurti (belum Bharata). Saat itu di tahun 1963. Di modali Bapak Suyono, terkumpullah para wayangers … ups hehehe maksudnya pada lakon pewayangan. Mereka dibayar perpentas dimana hampir setiap hari mereka melakukan pementasan. Namun, pada tahun 1971 Gedung yang memang milik Pemda DKI ini diminta kembali oleh pemiliknya. Para pemain Pancamurti pun terbagi menjadi 2. Ada yang tetap tinggal di gedung ini meski namanya harus berganti menjadi Bharata, ada yang memilih tetap dengan nama Pancamurti dan pindah ke Tanjung Priok.

Namun, grup Pancamurti nampaknya tak mampu bertahan dan bubar. Beruntung Wayang Bharata masih mampu tetap bertahan meski Jakarta sudah begitu modernnya. Kejayaan pewayangan ini akhirnya mampu mengirimkan mereka sampai ke Jerman pada tauhn 1981, ke Istanbum Turki pada 1983 dan pada tahun 1999 ke Belanda.

Namun, sepulang dari Belanda tiba tiba mereka mendapat kabar mengejutkan. Gedung akan direnovasi. Janjinya sih 2 tahun tapi ternyata hingga 4 tahun baru selesai. Selama 4 tahun yang tanpa kepastian itu, mereka yang semula sempat manggung di Gedung Kesenian Jakarta, perlahan terpecah dan vakum. Baru akhirnya ketika Gedung jadi, mereka mencoba mengumpulkan kembali seniman tersisa yang masih berdesir darahnya untuk membangun kembali kejayaan Wayang Bharata.

Meski kini pementasan hanya setiap hari sabtu malam saja. Namun semangat mereka tak pernah luntur. Mereka pun tak kekurangan generasi, karena usaha mereka akhirnya membuat tak cuma anak anak mereka tapi juga warga sekitar tertarik untuk bergabung menjadi bagian dari Lakon Bharata.

Alur Cerita

Untuk cerita pewayangannya sendiri semacam cerita berseri yang berupa carangan atau karangan sang sutradara namun tidak terlepas dari Induknya yakni Ramayana dan Mahabharata. Seperti hari ini, saya menonton cerita tentang Ramayana tentang ANOMAN – TRIGANGGA. Ini adalah lanjutan dari cerita pada minggu minggu sebelumnya dan pada episode ini, kira kira seperti inilah kisah serunya:

Shinta (Istri Rama) diculik oleh Rahwana (kisah penculikan ini sudah diceritakan minggu sebelumnya). Lalu muncullah Kuntolo Mariam anak Rahwana yang mengharapkan pengakuan Rahwana, bahwa ia betul adalah anaknya. Rahwana menyetujui permintaan Kuntolo namun dengan syarat, ia harus mampu membunuh Rama dan Lesmana (adik Rama).

kiri atas : antrian loket, ke bawah : suasana kursi penonton 15 menit menjelang pementasan.

Semangat untuk diakui, membuat Kuntolo menyetujui pesyaratan tersebut. Kemudian, Kuntolo mencari Trigangga (monyet yang diangkat oleh Kuntolo menjadi adiknya) dan meminta supaya Trigangga menculik dan menghabisi nyawa Rama dan Lesmana. Rencana berhasil, Rama dan Lesmana berhasil di culik.

Disaat itu, muncullah Anoman (monyet putih) yang disuruh mencari Rama dan Lesmana. Akhirnya bertemu dan berduellah ke dua monyet ini, ditengah sengitnya peperangan, tiba tiba muncul Dewa Batara Narada dan mengatakan bahwa Trigangga sesungguhnya adalah anak Anoman yang terhilang. Pertempuran disudahi. Trigangga melepaskan Rama dan Lesmana lalu pergi menemui Kuntolo dan membunuhnya.

Inilah akhir dari cerita di episode ini dan kelanjutannya baru bisa di tonton hari sabtu minggu depannya. Inilah strategi yang dilakukan oleh Sang Sutradara supaya penontonnya bisa datang dan datang lagi. Hebat ya … hasilnya? terbukti kan? nggak tua nggak muda, semuanya pada balik dan balik lagi untuk nonton wayang Bharata.

Oya, asyiknya jika anda menonton di gedung ini. Anda juga bisa nonton sambil ngemil makanan tradisonal. Hehehee,… kalau di XXI atau 21 kan kita makannya pop corn, nah kalau disini juga ada, tapi jagung bakar yang dijual abang abang di depan gedung. Delivery service looo … begitu juga dengan makanan Ketoprak. Wah Ibu Ibu bersanggul sasak dan Bapak Bapak berjas tampak lahap sekali makan ketoprak sambil nonton wayang. Pas saya cobain juga, eeeealah, ketopraknya emang enak banget … jadi nonton ketoprak sambil makan ketoprak. hehehehe …


Alamat Wayang Orang Bharata. Jl. Kalilio No. 15, Senen, Jakarta Pusat. Telp: 0856 1211842 (Pak Yunus) . 021 9889 6844 (Bu Endang). Harga Tiket mulai dari Rp. 25.000 kelas Balcony hingga Rp. 50.000 kelas VIP

Ditulis oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja




17 comments

  • Pingback: Wisata Seru » Blog Archive » Ketoprak Jakarta berbumbu Kacang Tuban, Gurihnya serasa Pulang Kampun
  • Memang patut diacungkan jempol untuk wayang orang Bharata. Mereka tidak hanya melestarikan kebudayaan Indonesia, mereka juga memerankan tokohnya dengan sungguh sungguh.

    Saran buat penonton yang tertarik untuk nonton wayang orang Bharata :

    1. Siapkan cemilan dan minum, terutama kopi krn acara dmulai pukul 20.30 – 00.30
    2. bagi yang suka foto, di jamin, modelnya dan propertinya tidak mengecewakan 🙂

  • putri : hai putriiii …. um, dirimu putri yang waktu itu kita jumpa di depan gedung wayang bukan??? hehehe kalau iya 🙂 makasih ya udah mampir 🙂 yaaaa … betul betul … mereka benar benar sekelompok orang yang terpanggil untuk tetap melestarikan budaya leluhur mereka … dan tips nya bisa nih untuk diperhitungan, soalnya pertunjukkannya ini kan 2 jam, kan enak kalau disambi ngemil hehehe … dan betul banget kata Putri, disini model dan propertinya bisa dijadikan objek narsis alias poto poto yang menarik

  • mauu tanya dung . saya ada tugas tentang wayang orang . kira” saya biisa nanya banyak gga ya di sana . saya harus bertemu siiapa ? saya mau tanya tentang seluk beluk wayang . ?? makasii

  • gita : bisaaa, disana orangnya baik baik semua … tapi kalau mau nanya nanya mungkin datang lebih pagi, ya sekitar jam 6 sore ketika mereka masih berrias … mereka sangat welcome kok …

    bisa ketemu sama Pak Slamet (dalang) yang sudah senior dari pertama wayang ini berdiri … atau Pak Dahono …

  • Krn tinggal jauh dr jakarta (indramayu), sampai sekarang blm sempet nonton wo. Bharata…. pdhl pengen banget….

  • Itu yg di senen masih aktif n rutin sampe skrg? Hanya sabtu malam aja ya. Kalo pentas wayang kulit atau wayang golek dimana ya di jakarta?

  • untuk pembelian tiket untuk hari Sabtu tgl 7-5-2016 apakah bisa dipesan,..?
    saya ingin memperkenalkan WO untuk anak saya ,…
    matur nuwun saya tunggu informasinya

  • untuk pembelian tiket untuk hari Sabtu, 25-6-2016 apa bisa dipesan?
    saya tertarik dan kemungkinan saya mau datang ke sana hehe
    terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: