Sehari, Menyusuri Kuliner di Gang Sempit Pecinan Jakarta

March 29th, 2010 by · 3 Comments

Pak Latif Yunus sedang bercengkerama dengan pelanggannya

Disini, udah kayak lagi jalan di china town nya Singapore. Gang Kecil tapi kanan kiri penuh sesak oleh pedagang makanan dengan penjual yang rata rata orang Ting Hoa. Nah yang paling menyita perhatian saya tiap kali ke Pasar Gloria ini adalah Kedai Kopi yang usianya hampir 1 abad alias 100 tahun. NamanyaES KOPI TAK KIE.

Hebatnya, selama 100 tahun ini, interior bahkan meja kursinya masih tetep aja seperti dulu (saya sih dikasih tau sama pelanggannya yang sudah usia 70an tahun dan masih saja tiap hari mampir kesini dari sejak dia masih SD). Selain itu, menurutnya, Pak Tulus Abadi – namanya – rasa kopi yang ada disini tetap sama seperti dulu (hanya pernah mengalami sekali perubahan rasa yaitu ketika Kedai ini di pegang oleh genarasi berikutnya Pak Latif Yunus – dimana Pak Latif melakukan berkali kali percobaan dan akhirnya ketemulah resep kopi yang lebih segar dan lebih nikmat tanpa ampas).

Ketika saya coba, waaah kopinya yang bernama Es Tak Kie Kopi emang bener bener seger!!! Enaaak!!! nggak terlalu pahit, tapi juga nggak manis, ada sedikit asam tapi asam inilah yang justru membuat kopi menjadi segar, ditambah lagi minum kopi ini bisa sampai habis pada tetes terakhir, karena kopi ini tanpa ampas. Dan, perut saya ini agak sensitif terhadap kopi (karena ada maag), tapi sehabis minum kopi ini bahkan 2 gelas (satu lagi Es Kopi Susu) perut atau maag saya, baik baik saja. Bahkan untuk selanjutnya, saya menjelajah aneka makanan yang ada di kawasan ini.

Babak Makan Di Mulai

Naaa sebelum ke Tak Kie Es Kopi sebetulnya saya sudah mampir dulu di warung kecil berpapan kecil pula “Rujak Shanghai Encim”. Hm, meski namanya Rujak Shanghai, bukan berarti di Shanghai ada rujak macam begini hehehee … karena nama rujak ini diambil dari namanya bioskop yang ada di sekitar sini yang mungkin saja namanya biskop Shanghai.

Rujaknya unik, isinya juhi dan ubur ubur + kangkung. Terus dikasih kuah kental dari sagu yang disaosin tomat dan racikan bumbu lainnya yang akhirnya menghasilkan warna merah muda yang romantis hehehee

Lalu, pergilah saya ke bagian dalam … teruuus masuk ke gang belakang pasar Gloria ini, dan ketemu juga yang disebut orang orang bernama GADO GADO DIREKSI. Wah rumah makan ini ternyata tidak sebesar namanya, ukurannya kecil banget, cuma 1 x 5 meter doang. Wadooo itu udah termasuk tempat dia mengolah makanan, tempat menyimpan box makanan dan bahan baku gado gado. hehehe, luar biasa yach.

Panjang lebarnya, ni rumah makan cuma cukup untuk 2 pelanggan aja. Tapi dalam sehari ia bisa menjual hingga 400 porsi. Nah loooh… yaaa karena tempatnya yang kecil dan rasanya yang luar biasa enak … jadi deee orang orang tuh pada ngebungkus atau makan di rumah makan sebelah alias food court tradisional disebelahnya.Oya penikmat Gado gado ini bukan cuma rakyat biasa looo, para petinggi negara terutama para pejabat BI merupakan pelanggan Gado Gado Direksi looo … makanya namanya Direksi, yang makan orang orang direksi semua.

Jadi, nih Gado gado bumbunya guriiiih banget dan juga seger. Bumbunya tidak terlalu encer dan juga tidak terlalu kental. Menurut yang ‘ngulek’ bumbunya ini rahasia kelezatan saus kacang si gado gado ini ya memang terdapat pada teknik ‘ngulek’ nya. Pasalnya, meski bumbunya sama, bahannya sama, tapi yang ngulek beda, ya rasanya ikutan beda.

Gado Gado Direksi

Lalu, untuk sayurannya sendiri, seger seger banget. Mereka mengaku selalu menggunakan sayur sayur pilihan yang benar benar fresh dengan pesanan khusus pada pedagang sayuran di kawasan Petak 9 yang emang terkenal hanya menjual sayuran segar berkualitas.

Nah, selain gado gado aku juga terlena ke-dahsyat-an KARI LAM. Astaga … ini kari ueeeenak banget. Untuk karinya ia hanya menggunakan ayam kampung pilihan. Jadi bisa dibayangkan kelembutan dan padatnya daging ayam kampung yang bersatu padu dengan medoknya bumbu kari yang asli dari campuran aneka rempah khas Medan.

Bagi saya, seporsi gak cukup. Padahal kari ini isinya melimpah – seperempat ayam, contoh 1 paha full yang dipotong potong seukuran mulut. Selain kari ayam, Kari Lam juga menyediakan kari dari daging sapi. Hm… kalau yang ini saya nyomot punya teman saya, dan beeeee … dagingnya empuuuks banget … dan begitu digigit, aroma kari benar benar melekat kuat pada daging yang gurih ini. Rahasia? “Nggak ada kok, paling paling ya kita cuma menggunakan bahan bahan pilihan yang segar”, kata Engkoh pemilik Kari Lam yang murah senyum ini.
Di hari yang sama, saya juga nyobain yang namanya Mie Kangkung (Mie dicampur dengan sayur kangkung dengan kuah berwarna kecoklatan yang terbuat dari aneka macam kaldu seafood), terus nyamil juga Tim Ayam Obat (hm,… jadi mengingatkan mama yang dulu waktu saya SD sering banget dibuatin Tim Ayam ini, lumayan buat pelepas rindu mama) dimana Tim ini memiliki khasiat untuk memulihkan stamina (kuahnya diberi campuran biji bijian cina yang baik untuk kesehatan).

Nah, terus pas mau pulang, beli deh dendeng Singapore. DENDENG SINGAPORE Wee Siang yang ada disini enak banget. Saya bisa bilang, malah enak yang disini daripada yang di Singapore, lebih garing, lebih gurih dan bumbunya lebih kerasa. Karena disini manggangnya pake arang, sedangkan kalau di Singapore kan manggangnya pake elpiji, jadi yang di Singapore itu karena dipanggang di oven, minyaknya justru banyak keluar, sedangkan disini kan di bakar pakai batok, jadi dendengnya kering. Cucok deh buat Oleh oleh.

searah jarum jam : Tim Ayam Obat, Rujak Shanghai, Kari Lam dan Dendeng Singapore

Alamat dan Nomor Telephone:

Tak Kie Kopi Es. Jl. Pintu Besar Selatan III no 4 – 6 Jakarta Barat. 021 692 8296 (buka jam 7 pagi – 2 siang)
Rujak Shanghai Encim. Samping Rumah Makan Siaw Ah Tjap. Jl Pancoran Mas Glodok
Gado Gado Direksi. Jl. Pintu Besar Selatan II. 021 925 31 495 / 0812 940 8926
Dendeng Singapore Wee Siang. Jl. Pintu Besar Selatan II no 71 Hi. 021 690 5313 / 0812 922 9282
Mie Kangkung si Jangkung. Jl. Pintu Besar Selatan II no 71 Hi. 0888 979 0046
Tim Ayam Obat. Jl. Pintu Besar Selatan II no 71 Hi. 0819 3254 7113

Pengalaman di tulis oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja

Artikel Terkait

Categories: Kuliner Jakarta · Kuliner Jakarta Barat · Wisata Kuliner

3 responses so far ↓

Leave a Comment