Pecinta wayang, aku punya info pengrajin Wayang langganan orang orang penting di Indonesia nih

Membuat wayang, bukan pekerjaan mudah. Untuk menyelesaikan wayang berukuran 20 centimeter misalnya, butuh 3 – 4 hari. Itu belum termask proses membersihkan dan mengawetkan kulit untuk bahan dasarnya.

Setidaknya itulah ungkapan hati Pak Sumarno, pimpinan sanggar kaligrafi di Rawamangun yang sekaligus pengrajin wayang kulit. Lamanya proses pembuatan tersebut, menurut Pak Marno, karena dirinya sangat detail dan lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Maka, tak heran, jika pelanggan Pak Marno sendiri merupakan orang orang penting di negeri ini, termasuk pendalang terkenal Pak Manteb. Bahkan koleksinya pun disebut Pak Marno bisa dilihat di Istana Negara.

Meski demikian, Pak Marno tak lantas besar kepala dan langsung memperkerjakan banyak orang. Para pekerja yang ia didik memang ada, tapi untuk bisa menjadi pekerja yang ia percaya 100% mengerjakan wayang produksinya, haruslah memiliki banyak tahapan, terutama dalam segi detail dan kerapian. Ia sendiripun, tak cuma hanya mengawasi, tapi setiap hari juga tetap berjibaku dengan alat pahat wayang.

Bagi Pa Marno, yang sudah merintis usaha sejak tahun 70an ini, tahapan paling susah dalam membuat wayang ada pembuatan detail yang salah sedikit saja akan tampak mengganggu. Dimana, setiap motif detail wayang juga harus menggunakan alat pahat yang berbeda pula. jadi, membuat wayang tak hanya harus bisa memahami karakter wayang itu sendiri, tapi juga harus memahami cara kerja alat pahat.

Oya omong omong soal karakter. Pemahaman akan karakter wayang yang akan dibuat memang menjadi persyaratan mutlak seorang pengrajin wayang. Karena karakter biasanya terletak pada mata, maka detail dan pewarnaan mata sama sekali tidak boleh salah. Dan jika sudah bisa membuat karakter melalui bagian mata, inilah baru bisa disebut seseorang bisa membawa jiwa wayang pada lakon sesungguhnya.

Untuk kualitas warna sendiri. Wayang buatan Pak Marno bisa bertahan lama, hingga puluhan  tahun tanpa mengalami perubahan warna sedikit pun. Rahasianya? Tentu dari riset hingga akhirnya bisa menemukan formula yang pas, yakni mencampur cat dengan lem, sehingga warna tidak luntur meski terkena air. Selain itu ia juga menggunakan bubuk emas murni dari china untuk beberapa pesanan khusus, sehingga warna emas yang dihasilkan, jauh lebih bagus dan tahan lama.

Seiiring perubahan zaman. Wayang kulit memang kurang diminati, untuk itu Pak Marno pun mulai membuat souvenir souvenir berbentuk wayang. Misalnya, gantungan kunci, pembatas buku, kaligrafi, lukisan, kap lampu, sketsel, kartu undangan hingga aneka macam bentuk lainnya yang bisa anda lihat di sanggarnya di rawamangun.

Ups,.. sayang. Saya tidak memotret saat itu. Tapi saya punya 1 contoh hasil karyanya berupa pajangan dinding yang saya dapat ketika mengunjungi sanggarnya 3 tahun yang lalu. Dan ternyata betul lo, meski ini hanya hiasan dinding sederhana tapi kualitasnya yahud dan warnanya pun sama sekali tidak berubah sejak pertama saya terima.

Harga? Tentu jauuuh lebih murah dibanding di toko souvenir. Waktu itu saya membandingkan harga di sanggar Pak Marno dengan di …. (tiiit sensor), untuk pembatas buku harganya beda 5 kali lipat. Wow … jadi??? Belanja tampaknya akan lebih enak ya kalau langsung ke pengrajin daripada di toko.

SANGGAR KALIGRAFI DAN WAYANG PAK SUMARNO. Jl. Cipinang Baru Gg. Anyelir rt 006/ 02 no 12 Rawamangun, Jakarta Timur. 021 4720 468 / 081381324328

Ditulis oleh Catur Guna Yuyun  Angkadjaja