KAMPUNG NAGA, Pesona Utuhnya Peradaban Tradisional di TasikMalaya

March 5th, 2010 by · 2 Comments

Perkampungan adat yang langsung bersebelahan dengan penduduk modern. Hebaaat!!!

Saya sungguh kagum dengan semua yang ada disini. Terutama dengan warganya yang meski semuanya pernah menikmati empuknya kasur, berwarna warninya televisi, indahnya terang di malam hari, nyamannya lantai ubin … (yup, bahkan tidak sedikit warga yang punya rumah gedong di perkotaan dan hampir semua penduduknya bersekolah hingga tingkat menengah atas bahkan kuliah di ibu kota), tapi mereka tetap mempertahankan kondisi desa mereka dengan segala adat istiadatnya.

Ya… jika anda pernah ke kampung naga 50 tahun atau 100 tahun yang lalu, hari ini anda kesana, anda tidak akan tersesat. Bahkan mungkin pikiran anda akan melayang pada tahun tahun anda pernah kesana. Karena, sejak kampung ini berdiri ratusan tahun lalu (meski pernah di porak porandakan oleh DI TII) sampai saat ini, keadaan kampung nya tetap sama, baik letak maupun jumlah bangunannya. 112 bangunan, 109 rumah penduduk, 1 balai desa, 1 masjid dan 1 lagi bumi agung, bahkan bentuk bangunannya pun tetap sama.

Jumlah tersebut tidak boleh ditambah maupun dikurang. Jadi kalau ada yang menikah dan pengen punya rumah sendiri sementara di kampung sudah tidak ada rumah kosong, maka dia harus keluar kampung. nanti kalau ada rumah kosong, dia boleh kembali lagi. Unik ya…

Bentuk kampungnya juga rapi banget. Jadi rumah tidak boleh ada kamar mandi maupun kamar kecil. Rumah hanya terdiri dari dapur, ruang tamu dan ruang tidur juga ruang tengah. Kalau mau mandi atau buang air dan cuci cuci mereka harus ke area luar kampung. Disana dibuat beberapa kamar mandi, beberapa bahkan tanpa atap, wow… Jadi kalau buat wanita, ketika mandi, wajib duduk (kalau enggak ya keliatan wong kamar mandinya pendek hehehee ….) dan sebagai penanda bahwa kamar mandi ada orang adalah adanya peralatan mandi dan handuk ditembok dan pintu tertutup.

Dibawah kamar mandi adalah kolam ikan. Jadi jika mereka ingin makan ikan enggak usah susah susah ke sungai, tinggal ambil di empang (tapi seperti warga baduy, mereka juga tidak diperbolehkan terlalu sering membunuh hewan, ikan hanya diambil ketika ada acara, ada tamu dan atau bener bener pengen).

Untuk urusan bumbu, jika di baduy hanya ada gula dan garam, disini semua rempah ada. Kerennya, mereka menanam sendiri aneka bumbu dapur seperti bawang, cabai, dan rempah lainnya di tanah tak jauh dari rumah, dekat area kolam dan kamar mandi. Jadi kalau mau masak tinggal petik saja. Di area empang (kolam) itu juga berjejer kandang kambing. Nggak cuma dagingnya menjadi santapan warga saat ada acara, tapi kotorannya sangat diperlukan untuk pupuk bagi sawah organik mereka. Sedangkan yang paling membuat saya terkesan di kampung naga ini, nggak cuma alamnya yang mempesona dan masyarakatnya yang ramah, tapi juga kulinernya yang yummy…

Kuliner Kampung Naga

Jika anda ke kampung naga, jangan pernah malu bertanya. Yup, seperti ketika saya kesana dan bertemu dengan wakil kuncen nya, Pak Hen Hen. Disana, saya diberitahu aneka makanan khas Kampung Naga, seperti masak dengan teknik ngalemeung (sepertinya, artinya adalah : bakar).

Disana saya dibuatkan leumeng singkong dan leumeng talas. Amboy, rasanya. Biasanya saat siang usia berladang, warga tentunya lapar dong, naaa mereka langsung berburu singkong atau talas yang tumbuh liar maupun yang sengaja mereka tanam. Setelah itu memotong bamboo yang masih muda dan membawanya ke saung. Disana singkong dipotong potong, dimasukkan dalam bamboo dan kemudian dimakan bersama dengan cocolan gula aren.

Gileee emang beda ya, makanan organik dengan enggak itu. Singkongnya maniiiis dan guriiih banget. Gula aren nya juga manis nya legit sama sekali nggak ada pahitnya. Apalagi ditambah aroma wangi dan manis dan bamboo muda… ya ampuuuuun enaaaaak!!!!

Disana saya juga diajak makan colenak pisang… waaa yang ini lebih unik lagi. Jadi pisang kapas, habis dikupas, langsung diletakkan diatas bara abu api yang ditiup dengan song song (alat tiup untuk memasak tradisional)… setelah dibolak balik dan mulai kehitam hitaman, langsung diambil dan ditepuk tepuk (dibersihkan abunya) dipotong potong dan langsung ditabur gula cair berkacang… aduuuu meski terlihat jorok, tapi bagi saya sama sekali gak ada joroknya, karena rasanya enaaaak banget!!!

Terus siangnya saya diajak makan ayam bakar … yuk, setelah berjalan 3 kilo menanjak akhirnya sampai juga di saung yang dituju… makan disaung ditengah rimbunnya pohon.

Ayam enggak tahu dibumbu apa, katanya sih bumbu kuning biasa. Terus dibakar langsung di api unggun. Waaa setelah matang, astaga, rasanya ini adalah ayam terenak yang pernah saya makan. Lemaknya meleleh gurih banget, dagingnya keset dan aroma wangi yang meresap kuat. Ow, daging yang dibiarkan tumbuh liar atau organik memang rasanya bedaaaa!!!! Enaaak.

Apalagi makan ayam panggangnya ini dengan nasi liwet ala kampung naga. Amboooo!!!! Nasi liwetnya nggak pake kastrol, tapi pake kelapa tua. Aiiih, jadi beras langsung dimasukkan dalam kelapa yang baru aja dibuka. Airnya pun tidak pakai air biasa, tapi menanaknya dengan menggunakan air kelapa itu langsung. Setelah diberi sedikit bumbu seperti garam dan bawang merah. Kelapa ditutup kembali lalu dibakar sekitar 1 jam sampai tanah… adiiiii diiiii gurihnya nggak pernah saya jumpai pada nasi liwet dimana pun. Enakkkk!!!

Lokasi kampung adat: Kampung naga desa neglasari. Kecamatan salawu – tasikmalaya – Jawa barat. Wakuncen – Henhen Suhenri 0815736 82222. Ketua RT – Risman 0852 233 92 618

 
 

Categories: Tasik Malaya · Wisata Indonesia · Wisata Jawa Barat

2 responses so far ↓

  • 1 Farhan // Feb 3, 2013 at 3:32 pm

    Terima kasih, PR saya jadi terbantu

  • 2 sophianovita // Feb 6, 2013 at 12:15 pm

    sippp….sama2 :)

Leave a Comment