Lembutnya Patin dalam Balutan Aroma Rempah Khas Palembang

nyanyiii ... siapapun boleh ikutan nyanyi

Siang bolong, pikiran ngeblong. Ah, makan apa ya yang bisa bikin mata plong??? Dan beginilah caraku kalau sudah bingung, ngebolak balik buku kartu nama yang memang isinya kumpulan kartu nama resto resto. Wet wet wet … kubuka cepat lembaran demi lembaran buku kartu nama daaaan, …. Pondok Wong Palembang. Um, tanganku terhenti pikiranku terpatri, masih melekat dalam ingatan Segarnya Kuah Pindang Patin yang di dalamnya berenang juga nanas dan tomat cung muda.

Siiiiip!!! Tanpa berpikir lama, langsung naik bajaj (angkutan ala Jakarta) menuju ke sasaran. Begitu sampai, waaah saya kagum, 3 kali datang ke sini, 3 kali pula tampilannya berbeda. Kini, Pondok Wong Palembang menfasilitasi pelanggannya dengan live music dimana pelanggan bisa turut serta ambil bagian nyanyi. Seru juga hehehee…

Hari ini cukup ramai, semua meja sudah terisi, hanya tersisa 1 spot di ujung sana, tapi tak masalah bagiku. Yang penting pesanan segera datang. Tak sampai 7 menit, semangkok Pindang Patin yang selalu hadir dengan dilengkapi pemanas terbuat dari stainless steel dengan nyala lilin di bawahnya sampai di hadapanku.

Pindang Ikan yang selalu Fresh (Baru dimasak ketika kita memesan)

Hm … nyam nyam nyam. Aroma kemangi yang menguar bebas, sedap sekali. Ku sendok kuah dan sruuuput!!! Segaaar!!! Sama sekali tidak ada jejak bau amis ikan yang sering kali mengganggu selera. Hal ini tentu karena Pindang Patin selalu disajikan dalam keadaan segar atau baru dimasak begitu kita memesan. Jadi segarnya benar benar lengkap.

Apalagi, yang begitu spesial buat saya adalah bumbunya yang tanpa bahan kimia (jadi yang alergi bumbu penyedap kimia atau bahan pengawet, aman). So, semua rasa yang terdapat dalam satu mangkuk pindang ini adalah murni penggunaan rempah yang berani dan tepat. Misalnya, rasa asam yang segar ia dapatkan dari tomat cung yang kemudian dipertajam dengan segar nanas yang juga memiliki fungsi menyegarkan mulut. Kemudian rasa sedikit manis merupakan manis khas serai dan daun salam.

Untuk ikan Pantinnya sendiri. Disini keunggulannya adalah masih menggunakan Patin asli tangkapan dari Sungai. Ya, saya tegaskan demikian karena seiiring meningkatnya permintaan, kini banyak pengusaha membudidayakan Patin. Hasilnya? Ya, bisa dibedakan antara ayam kampung dengan ayam ternak, begitu pula dengan patin. Patin sungai dan patin ternak sangat mudah dirasakan bedanya. Patin yang hidup di sungai secara liar, memiliki rasa lebih gurih dagingnya dan sama sekali tidak bau lumpur/ atau pun tanah.

Pindang Iga Sapi dan Pindang Udang

Oya, selain Pindang Ikan Patin. Disini juga ada Pindang Baung, Pindang Belida, Pindang Iga Sapi, Pindang Udang dan Pindang Udang Satang. Nah, Beda Ikan Baung, Belida dan Patin, terletak pada: Kalau Ikan Baung, ini dagingnya tidak selembut patin, namun ia tidak memiliki lemak sama sekali. Biasanya orang orang yang takut lemak, mengganti Ikan Patin dengan Ikan Baung ini. Sedangkan Ikan Belida, ia memiliki daging yang gurih dan lembutnya lebih spesial dari Patin dan Baung, namun ia memiliki banyak duri. Sekarang, tinggal anda sendiri mau pilih ikan yang mana, kalau kuahnya sendiri sih, sama … segaaaaaaaar!!!

Mie Celor

Untuk Pindang Iga Sapinya. Ia memiliki kuah yang lebih tidak asam dibanding Pindang Ikan. Waktu saya tanya ke Pak Awi, bumbunya over all sama, hanya kaldunya aja yang beda. Yang sapi tentu kaldunya kaldu sapi. Dagingnya? Empuks euy. Sempet juga tuh nyobain Pindang Udang Satangnya, nyummmmmy, mantab betul dah ah. Udang Satang ini udang rawa. Liar juga. Rasanya? Mak Krenyes pas digigit. Huuuu, jadi lapar lagi.

Mie Celor dan Tekwan

Masih belum kenyang, saya pun memesan menu Palembang lainnya. Mie Celor. Kuah kental berwarna kuning pastel kemerah-mudaan yang membanjiri Mie ini terbuat dari kaldu udang, telur kocok, santan murni dan terigu. Rasanya? Gurih dan ngangenin itu pasti.

Sedangkan Tekwannya??? Kunjungan ke dua yang lalu, saya pernah makan dan waaah, serasa makan baso tapi rasa ikan (bukan baso ikan yang putih lembut itu looo, karena tekwan itu teksturnya memang seperti bakso, tapi rasa ikan). Ya, menu khas Palembang yang satu ini emang terbuat dari ikan yang direkatkan dengan sagu, lalu di bentuk dalam ukuran kecil kecil.

Tekwan

Ukurannya pas langsung di mulut. Soal kuahnya? Kuah tekwan disini seger bener. Apalagi diberi pelengkap su’un dan jamur. Hm,…  sruuuput!!!

Aneka Pempek Khas Palembang  Yang Gurih Ikannya Menonjol banget.

Untuk pilihan pempek, disini tergolong cukup lengkap. Mulai dari Kapal Selam, Lenjer, Adaan, Keriting, Pastel (pempek isi papaya), Telor, Kulit, Tunu dan Lenggang. Mau Pesen yang mana nih? Semuanya gurih dan ikannya berasa banget.

Lalu saya irup cukanya (cara makan pempek orang Palembang, bukan pempek di cocol cuka, tapi cukanya diseruput langsung dari tempatnya), sruuup!!! Mantab. Oya, untuk tampilan sendiri, disini disesuaikan dengan tampilan penyajian pempek di Palembang yang tanpa memberikan tambahan mie dan timun. Karena bagi orang Palembang, mereka beli pempeknya, bukan beli mie dan timunnya heheheee.

Pempek Panggang (Tunu)

Di Palembang sendiri, mereka biasanya kalau makan pempek justru nggak mau yang digoreng. Karena darisanalah mereka bisa tau apakah pempek itu benar benar enak atau tidak. Dan omong omong pempek nggak di goreng, saya juga pesen yang namanya Tunu atau pempek panggang.

Pempek yang satu ini sama sekali nggak kesentuh minyak goreng panas. Karena sejak jadi adonan, dia langsung di panggang. Soal rasa? Masih ada keset keset ikannya hehehee… bener benar adonan yang penuh asli ikan nih… bukan pempek tepung.

Krupuk Raksasa

Pokoknya one stop Palembang deh kalau kesini. Sampai sampai, krupuk yang dijual pun nggak hanya krupuk kecil kecil khas Palembang, tapi juga krupuk versi raksasanya ikutan di import dari Palembang. Tentu ini semua demi kepuasan pelanggan yang sungguh rindu akan Kampung Palembang.

Gede banget krupuk Love nya yach, cakep buat oleh oleh

Rahasia Kelezatan Masakan Wong Palembang

Bumbu rahasianya kelezatan masakannya, menurut Pak Awi adalah kebersihan dan memasak juga melayani pelanggan dengan ‘Hati’.  Ia membuka warung memang dengan harapan ingin melihat para pelanggannya puas dengan racikan bumbunya. Jadi, tak hanya selalu memasak dengan teliti dan bersih, ia juga selalu menyempatkan diri mengobrol bersama para pelanggannya. Bahkan tak segan segan ia melayani sendiri pelanggannya, mulai dari order, hingga langsung memasak dan membawanya ke pelanggan. “Tak ada kata lelah untuk kepuasan Pelanggan”, begitulah filosofinya.

Aneka Menu yang ada di Pondok Wong Palembang

PONDOK WONG PALEMBANG, Jl Veteran I no 12A Jakarta Pusat. 021 386 5758, 021 384 2027, Fax 021 384 2802




%d bloggers like this: