Berani Menerima Tantangan Makan 61 Cabe Rawit dalam Semangkok Ramen di Ramen Sanpachi???

Jigoku Ramen

Ramen merupakan makanan rakyat Jepang yang berasal dari Cina. Berupa Mie berkuah yang memiliki banyak variasi rasa tergantung jenis kaldu dan lauk yang digunakan. Biasanya lauk yang digunakan di tiap daerah di Jepang di sesuaikan bahan bahan bahan alam yang banyak terdapat di daerah tersebut.

Nah, lain di Jepang lain di Indonesia dong. Di Jakarta terdapat kedai Mie Jepang namanya Sanpachi. Cabangnya banyak sih, tapi saya mau yang asli, jadi saya pun meluncur ke Gedung Kamome di kawasan Melawai Jakarta Selatan. Hiyaaaaa… begitu masuk seperti biasanya akan terdengar suara, “Irasshaimase” oleh seluruh karyawan kedai yang artinya “Selamat Datang”.

Waaah?? Saya serasa menjadi salah satu dari pemain film drama Jepang heheheheee… mirip banget, tuh penataan open kitchen dan meja makan yang mengelilinginya. Warna mayoritas resto pun merah, membuat selera makan semakin membuncah. Kedai yang sangat bersahabat ini pun menyediakan rak buku berisi buku, komik dan majalah berbahasa Jepang. Ya karena pengunjung disini pun banyak orang Jepangnya, hehhee jadi kalau mau cari Jodoh Nihon Jin (orang Jepang) sering sering aja nih nongkrong disini xixiixixiii …. Nihon Jin yang datang kesini biasanya muda muda looo …  ahiiiiing!!!

Sudah sudah, saya cerita ramennya ya sekarang. Akhirnya saya memesan Jigoku Ramen (nah ini dia yang saya sebut lain di Jepang lain di Indonesia) yang merupakan menu andalan Sanpachi 38 (menu andalan untuk label HALAL). Rasanya pedaaaaaaaaas membakar kerongkongan. Bujug dah, ternyata bukan cuma warnanya yang menantang (meraaah buanget) tapi rasanya ini benar benar dibuat ajang tantangan bagi para pemakan cabai. Biasanya pemakan cabai ini adalah orang Indonesia karena sejatinya orang Jepang kan nggak suka Pedas (Ini yang ngasih tau kokinya hehehee, mayoritas yang makan jigoku ramen ini orang Indo, orang Jepang sendiri biasanya makan yang original, makanya “Lain Jepang lain Indonesia”).

Mas Ivan n Mas Arif cemen ah, disuruh nyobain 10 cabe aja gak mau...

Jadi, untuk menarik minat pelanggan, Sanpachi akan memajang foto pemakan cabai terbanyak. Saat ini rekor dipegang oleeeeh, haiyaaa lupa nanya namanya. Dia berhasil memakan 61 cabai rawit dan 61 sendok cabe bubuk Jepang yang dikemas dalam 1 mangkok ukuran Sanpachi (yang pasti kuahnya pasti jadi kental banget tuh, isinya cabe semua). Gileeeeeee!!! Kebayang gak sih itu pedasnya kayak apa? Karena cabe rawit dan cabe bubuk itu hanyalah tambahan, sedangkan bumbu aslinya sendiri yang berwarna merah menantang itu sendiri sebetulnya sudah cabe Jepang yang diolah. Jadi sebetulnya tanpa cabe pun udah pedas … ow ow ..Orang saya nyobain yang cabenya 1 aja udah mau ndower bibir ini rasanya. Huaaaa,… buat yang gengsi tinggi dan pengen fotonya di pajang di resto, Ganbatte ne!!!

Nah selain Jigoku ramen, saya juga pesan Gomakara. Um saya lupa nanya tuh arti namanya, tapi setahu saya goma itu kan wijen dan kara itu dari, jadi mungkin artinya “Dari Wijen”. Pas dimakan? Iya wangi dan gurih wijen benar benar membuai lidah. Apalagi ini ketahuan ya, menggunakan wijen Jepang asli dimana rasanya itu lebih gurih dan nggak ada pahitnya seperti wijen lokal (hihihiiii secara harga waktu itu saya pernah beli di supermarket, wijen lokal dan Jepang bedanya 4 kali lipat).

Nah untuk toppingnya sendiri, untuk telur dia menggunakan telor organik. Jadi, kuningnya itu sampai orange gitu, rasanya pun sama sekali nggak ada pahitnya. Oya, telor untuk ramen biasanya berwarna agak coklat, itu bukan direndam daun jambu kayak telornya gudeg ya hehehee, itu karena direndam di kuah chasiu, um tapi kalau yang di sanpachi (untuk konsumsi yang Halal) direndamnya di shoyu (kecap Jepang).  Oishii desu ne … Jya, Itadakimasu!!! Dan ketika masuk ke dalam mulut, Oishii desu!!!

Semuanya akan terasa lebih lebih nikmat lagi karena pelayanan disini buat saya cukup memuaskan dan mereka ramah ramah sekali. Makanya, saya nggak mau rugi, foto bareng bareng aaaah, yang dibelakang itu Kepala Chefnya, Chef Indra.

gambar kiri atas : gyouza (sejenis dimsum yang dipanggang) ... bawah : foto rame rame sama karyawan yang ramah sekali

Oya soal Halal dan  Non Halal nih. Kadang orang berpikir, kalau dimasaknya ditempat yang sama, ya nggak halal juga artinya. Hm, sanpachi sangat mengerti hal ini, makanya untuk panci dan alat memasak Halal dan Non Halal pun sama mereka dibedakan. Hm… selesai makan, saya musti mengucapkan, “Gochisosama deshita” nih pada mereka … Arigatou!!!

Ramen Sanpachi 38. Gedung Kamome Lt 2F. Jl. Melawai Raya 189 B. Jakarta Selatan. 021 72800268

Pengalaman di tulis oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja




%d bloggers like this: