Belum ke Sokaraja kalau belum icip si Bulat Cokelat, Getuk Goreng

Sokaraja, begitulah orang menyebutnya. 7 km timur kota Purwokerto. Meski hanya kota kecil, tapi jika anda melewati daerah ini, mata anda pasti tak tahan untuk berhenti sejenak, karena di kanan kiri sepanjang jalan kota ini, berjajar pulau pulau, eeee berjajar toko toko yang memajang aneka jajanan khas Banyumas, misal getuk goreng, keripik tempe, jenang jaket dan masiiih banyak lagi termasuk sroto Sokaraja.

Diantara jajanan yang sudah disebut tadi, yang paling kondang itu getuk goreng dan sroto (sroto dibahas diartikel lain). Saat itu masih tahun 2008, saya sedang berada di Purwokerto dan kebetulan melintas daerah Sokaraja ini. Sembari menghilangkan penasaran, saya tanya sama pak becak, “Pak, getuk yang paling enak yang mana nih?”, –setelah dibahasa Indonesia kan jadi begini jawabnya-, “Ow, kalau yang paling enak itu selera ya, tapi yang paling sering didatangi bis bis pariwisata yang itu mbak”. Jawab si Pak Becak sambil menunjuk sebuah Plang bertuliskan ‘Getuk Goreng Asli H. Tohirin’.

Oke deh, … langsung pasang tampang mupeng diri ini begitu mendekat ke area getuk goreng. Bukan apa – apa, aromanya kok enak banget. Terus nanya deh, “Mbak boleh dicoba?”, “Ow silahkan silahkan”. Nyam … nyam … nyam … lo nggak kerasa aku nyoba sampai 3 biji. Enak rasanya. Legit, harum dan gurih.

Melihat aku yang tanpa malu main makan tanpa isyarat mau beli, mbaknya tersenyum dan membuat hatiku seperti ‘ingin malu’ hahahhaaa. Ups… salah, senyuman si mbak membuat aku tersadar, bahwa ini di toko, bukan toples di rumah yang bisa dimakan tanpa bayar. “Um, 2 bungkus mbak”, aku kembali memulai pembicaraan. Bayar secara cash dan aku pun akan segera beranjak pulang.

Tapi, tiba tiba datanglah seorang sepuh sedang berbicara dengan pegawai toko. Saya pun bertanya sama mbak kasir, “Mbak itu sapa?”, “Ow itu Pak Haji Tohirin”. Tanpa babibu saya langsung mendekati dan bilang, “Pak, saya boleh foto bersama Bapak?”. Dengan senyum dan kelembutan seorang Banyumas, dia mengangguk. Yesssss!! Dan jadilah foto ini.

Oya, dari selentingan kanan kiri, katanya sih getuk goreng pertama kali ditemukan secara tak segaja oleh mertua Pak Tohirin ini. Namanya Sanpirngad, penduduk Desa Sokaraja Kulon, Sokaraja. Um, saat itu tahun 1918 … idih masih zaman kompeni,

Pak Sanpirngad (huih namanya susah ya) ini adalah penjual nasi rames yang nyambi juga jualan getuk. Nah, kan namanya juga dagang, nggak setiap hari camilan bernama getuk ini laris manis. Beberapa kali ia sering membawa pulang dan menjejali anak anaknya getuk (ups kalau yang ini khayalanku, xixixixi). Intinya karena ia adalah pedagang yang mengutamakan kualitas, jadi getuk penganan dari ketela yang nggak tahan lama ini, jika tersisa langsung ia makan sendiri bersama keluarga atau diberikan ke orang lain. Keesokan harinya ia hanya menjual getuk yang baru.

Nah, tapi lama lama dipikir, kok ya rugi kalau sering dimakan sendiri (itukan masuk dalam daftar dagangan), ia pun mulai bereksperimen dengan sisa sisa jualannya. Getuk lantas di goreng dan dibumbui gula kelapa. Eeee,… pucuk dicinta ulam pun tiba. Nggak cuma lebih mampu bertahan lama (sekitar 7 hari), tapi ternyata cocok untuk lidah orang Banyumas.

Laris manis duit di kebas. Orang orang pun berdatangan dan jumlah produksi pun terus meningkat. Hingga akhirnya warung ini diwariskan ke Tohirin. Ternyata, Bapak Tohirin mampu mengembangkan si bulat cokelat manis ini. Bahkan, nama getuk goreng menjadi begitu lekat dengan Sokaraja. Nggak ke sokaraja kalau belum maem getuk goreng. Gitu beberapa kata teman saya. Dan nama Pak Tohirin pun kini sudah menjadi Pak Haji Tohirin. Uhui, berkat getuk, akhirnya berangkat beribadah ke Mekkah.

GETUK GORENG ASLI H. TOHIRIN. Jl JEnd Soedirman no 41-141 Sokaraja – Banyumas

Penulis : Catur Guna Yuyun Angkadjaja




2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: