BADUY,Pelaku Filosofi Hidup Sesungguhnya

Pertama kali menginjakkan kaki di alam Baduy, entah mengapa, timbul rasa bangga yang tak bisa ku ungkap kan dengan kata. Udara bersih, pepohonan rimbun, masyarakat ramah, pun dengan pesona alam yang tak mungkin di liat diperkotaan, deretan rumah kayu beratapkan ijuk!!!

Perjalanan yang berliku pun semakin menambah adrenalin untuk terus berjalan dan menyatukan telapak kaki pada tanah liat merah yang separo becek bekas hujan. Ketika lelah menghampiri dan kulihat kumpulan pohon  kelapa yang tinggi menjulang, saya pun bertanya pada kang sarpin yang mengantarku keliling, “Kang itu kelapa boleh diminum?”, “Boleh neng, tapi lebih baik jangan, nanti saja kita minum air putih, karena kelapa muda bisa membuat kita semakin cepat lelah”. Oke… aku pun terus berjalan. Selama perjalanan kulihat, ternyata adat dan budaya daerah setempat itu bisa ditafsir dari apa yang mereka makan. Inilah pengalamanku.

Siang itu begitu terik, kulihat warga Baduy yang terdiri dari Bapak, Ibu dan seorang anak. Dari peralatan yang dibawa sang Bapak, cangkul dan perkakak pertanian lainnya, mereka pasti sedang menuju sawah. Tapi uniknya, mereka juga membawa kastrol (semacam wadah untuk memasak nasi jaman dulu). “Punten kang, itu bawa apa?”, “Ini bekal makan siang neng”, “Um… boleh saya ikut perjalanan Ibu ke sawah”, “Silahkan”.

Begitu sampai di sawah, mereka langsung bergarap sawah. Sementara sang anak yang baru berusia kira kira 5 tahun, menunggu di saung sambil memperhatikan bapak ibunya bekerja. Matahari semakin terik, sang Ibu kembali ke saung dan mulai membuka kastrol yang ternyata isinya: beras, biji hiris, garam, gula aren dan ikan asin. Ibu langsung mengeluarkan semua isi dan menyisakan biji hiris, beberapa cc air, sedikit garam dan gula aren.

Tak lama kemudian Bapak datang dengan membawa beberapa kayu bakar dan memilinnya sampai berapi lalu meletakkan kastrol berisi biji hiris. Sementara sang Ibu terlihat sedang mencuci beras dengan air bekas hujan semalam yang ditampung di bambu dan memberikannya pada bapak yang kemudian usai biji hiris matang, langsung ditumpahkan ke dalam mangkuk mangkuk kecil yang dibawa dari rumah tadi dan memakai kastrol tadi untuk menanak nasi.

Usai nasi matang, Ibu menyuruh anaknya memotong daun pisang dan meletakkan ditengah saung dan bapak langsung menuangkan nasi di atas daun pisang, “Ayuk neng ikutan makan”. Ternyata ritual makan siang disaung ini merupakan kebiasaan warga baduy ketika berladang. Ya… karena jarak antara rumah dengan ladang memang berjauhan, jadi untuk berhemat waktu, mereka makan siang di saung bersama – sama.

Dan yang unik ketika ku-tanya seputar bumbu yang sangat sederhana, garam dan gula aren. Ibu menjawab, “Kalau neng mau memperhatikan, neng tidak akan menemukan bumbu selain garam dan gula aren di dapur warga baduy. Kita tidak mengenal bawang, cabai apalagi aneka rempah – rempah. Sejak turun temurun, kita hanya boleh memakai gula dan garam saja, ini supaya mengingatkan kita akan kesederhanaan.”

Um… yup…  bertahun tahun hidup hanya dengan gula dan garam??? Ups, tapi belum cukup sampai disitu, ketika saya bertanya kenapa saya tidak melihat ada kolam diperkampungan? “Oya, disini memang tidak boleh memelihara, semua harus alami dari alam. Jadi kalau ingin makan ikan, ya kita harus menangkap disungai dan itu pun tidak boleh seenaknya. Kita biasaya hanya menangkap ikan jika hendak ada perayaan atau menyambut tamu dari luar seperti anda begini. Atau paling kita membeli ikan asin dipasar di luar Baduy,… ya para tetua mengajarkan supaya tidak terlalu sering ada darah hewan merasuk ke tanah Baduy”.

Bahkan ni, padi yang mereka tanam pun (beras unggul karena ditanam secara organik –panen hanya 6 bulan sekali- mayoritas merupakan beras merah) tidak untuk mereka konsumsi secara langsung. Sedari kecil mereka sudah ditanamkan jiwa menabung. Yuk, jika kita menabung uang, maka mereka menabung beras, karena mereka tahu, orang bisa hidup tanpa uang, tapi tanpa pangan??? Orang akan mati kelaparan meski punya uang. Selain itu juga persiapan hari tua maupun jika tiba tiba sakit dan tidak bisa bekerja lagi, sehingga mereka masih tetap bisa makan.

Untuk itu, dari hasil panen, mereka akan menyisihkan sebagian besar untuk disimpan dilumbung (karena yang mereka tanam adalah beras unggul, maka umur beras yang disimpan bisa mencapai puluhan hingga ratusan tahun). Pun jika beras di dapur sudah habis, mereka pantang mengambil beras dalam lumbung, mereka justru membeli beras dipasar di luar baduy (uangnya? Tentu dari menjual aneka kerajinan tangan, termasuk buah, madu dan tips menyewakan rumah dari pada wisatawan)

Luar biasa yach, filosofi hidup yang terpancar dari cara mereka makan, sungguh membuat saya tertegun. Suku yang disebut sebut ‘semi primitif’ karena tidak mau menyentuh elektronik atau barang hasil kemajuan zaman, justru memiliki pemikiran jauh ke depan yang orang lain bahkan saya, kadang tak terpikir.

Usai makan, saya dan kang sarpin menuju ke pohon kelapa. Kang sarpin langsung memanjat dengan cepat dan wow, ternyata semua alat yang melekat di tubuh mereka benar benar berguna bahkan untuk sekedar jika ingin minum kelapa. Lihatlah, penutup kepala dilepas dan kemudian digunakan untuk menggendong 4 buah biji kelapa yang dipetik. Sedangkan senjata yang selalu ada di pinggang, digunakan untuk memotong daun yang sudah tua dan kelapa. Kemudian ketika turun, senjata tersebut sekaligus menjadi alat untuk membelah kelapa.

Sambil duduk, numpang di rumah warga, saya pun memperhatikan bahwa rumah rumah di baduy tidak menggunakan paku sama sekali. Semua alami. Slruup, sekali lagi saya terkejut, karena kelapa yang saya minum segar sekali!!! Sangat berbeda dengan air kelapa yang biasa saya minum di Jakarta. “Ini organik neng, kelapa yang tumbuh alami, bukan di tanam dan tanah disini kan tidak tercemar apa – apa. Jadi otomatis kelapanya lebih manis dan segar”. begitu penjelasan kang sarpin.

Seolah tak ingin selesai membanggakan desanya, kang sarpin kembali berpromosi, “Durian disini juga beda loh neng. Asli tumbuh alami. Rasanya lebih kesat, manis dan pokoknya enak. Mau coba?”. “Mauuuu!!!”, jawabku antusias. Ternyata? benar kawan. Duriannya sangat enak. Aromanya jauuh lebih wangi dari semua durian yang pernah saya makan. Manis-nya benar manis sama sekali tidak ada pahit dan dagingnya kesat. Luar biasa mantab!!!

Hm… waktu sudah sore, saya memutuskan untuk mengakhiri perjalanan (saya tidak menginap dan hanya sampai di baduy luar saja – baduy dalam sangat jauh dibutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk kesana, hiks saya tidak ada waktu). Tapi, jika nanti ada kesempatan, saya ingin datang kembali untuk baduy dalam. Um… banyak sudah pelajaran yang saya petik dari orang Baduy dan sebetulnya masih banyak filosofi lain yang saya dapat selama 6 jam bersama kang sarpin, tapi kenyataan memori ini terbatas, daripada nanti ada kesalahan hehehe. Akhir kata, kusampaikan terima kasihku untuk mu tanah Baduy, semoga keharmonisan ini untuk selamanya.

lokasi kampung adat: Baduy, di terminal Rangkas Bitung – Jawa Barat

Ditulis oleh Catur Guna Yuyun  Angkadjaja




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: