
Taman Rekreasi Desa Wisata Using (TRDWU) ini terletak di desa Kemiren, Kecamatan Glagah, 8 km dari Banyuwangi. Hampir semua penduduknya adalah asli suku Using (asli Banyuwangi) yang menggunakan bahasa Using.
Nah kalau ke Banyuwangi memang sebaiknya mampir yach … karena bisa jadi ada pengalaman baru. Misalnya memainkan lagu dengan lesung atau alat penumbuk padi. Kesenian rakyat ini sebetulnya hampir ada diseluruh pelosok Indonesia ya, seperti waktu saya ke Lebak Banten, dan Jogja. Alat dari kayu yang dipukul pukulkan secara teratur ini memang menjadi hiburan paling ampuh pada zamannya ketika panen padi tiba.
Aslinya sih, lesung dipakai untuk memisahkan padi dari tangkai-tangkainya. Padi kering dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk. Nah dasar nenek moyang kite tuh dasarnya cerdas sumirdas sangat cerdas, jadi daripada numbuk doang dapet capenya aja, maka dibuatlah berirama sehingga mereka senang, yang mendengar pun riang. Suasana? tentu jadi gembira.
Sayang, makin majunya zaman, kini hampir gak ada ya orang yang masih numbuk padi dengan lesung, semua serba mesin. Nah, tak mau tradisi itu hilang, Desa Kemiren pun di olah sedemikian rupa sehingga memiliki sebuah tempat untuk menampilkan beraneka ragam kebudayaan asli Using, termasuk salah satunya kesenian suara lesung ini.

Bahkan mereka pun sering mendapat orderan untuk mengisi acara sunatan, kawinan atau acara menyambut tamu pemerintahan. Iramanya pun tak hanya asal gebuk, tapi juga memiliki nada lagu daerah yang terkadang dilengkapi pula oleh penyanyinya.
Mayoritas penabuh lesung disini sendiri adalah emak emak … Mereka doyan banget ngunyah sirih… Ya elaaaah, waktu saya nyobain, – Sebetulnya sudah diperingatkan sih sama mak mak disini – “Non, jangan. Itu pahit sekali” … tapi saya ngotot tetap ingin mencoba .. walah dah buset … asli paiiiit gak karuan … sirih sendiri isinya bukan cuma daun sirih ya tapi ada gampingnya terus ada apaan dah tuh pokoknya banyak banget komponennya yang kesemuanya itu menimbulkan rasa pahit yang kurang ajar … pait banget… wakakakaka… saya jadi kagum sama mak mak ini,… mereka betah banget ya … bisa seharian loh mengunyah itu … keren…
Nah, usai belajar ngunyah sirih, saya menuju ke rumah salah satu ahli Kopi Dunia yang dimiliki oleh Indonesia. Ternyata dia adalah Putra Banyuwangi. Pak Iwan namanya. Dia ternyata memiliki kebun kopi. Wah hebat ya, padahal tempat dia tinggal tidak terlalu tinggi (bukan area untuk menanam kopi yang ideal), tapi pas saya cobain kopinya … wow … enaaak. Menurutnya, ini karena hasil penggorengan kopi yang benar. “Kopi bagus kalau cara pengolahannya salah, rasanya ya tidak enak. Tapi kopi biasa kalau diolah dengan benar, maka rasanya pun enak.”

Apalagi, dia juga memiliki kopi luwak, itu kopi secangkir kalau di cafe harganya 300 ribu rupiah. Kopi Luwak yang dia punya sendiri adalah Kopi Luwak asli bukan kopi Luwak yang Luwak nya dipelihara hehehe … katanya, “Kalau luwaknya dipelihara, rasa kopinya juga beda, nggak akan seenak kalau luwak itu hidup liar”.
Oke … malam semakin gelap, waktunya saya menuju ke Desa Adat Using lagi … disana sedang ada pertunjukkan kesenian tarian khas Banyuwangi, jejer gandrung dan jaran goyang. Tarian ini mengisahkan, seorang lelaki yang merasa sakit hati karena cintanya ditolak oleh seorang wanita. Merasa sakit hati, dia langsung melemparkan jurus aji jaran goyang. Selang beberapa menit, si wanita balik tergila-gila kepadanya. Ini setelah sang pria melapal mantera, ”Sun Patek Aji Jaran Goyang si Jabang Bayine Riko!”
Keren … keren … tariannya keren … I Like It …
Kampung adat : Desa Adat Using Desa Kemiren Banyuwangi Jawa Timur
Ditulis Oleh Catur Guna Yuyun Angkadjaja
Leave a Reply